sudahkah kita me-redefinisi hidup?

April 20th, 2012 § Leave a Comment

melakukan hal yang sama terus-menerus dalam keseharian kita seringkali membuat kita lupa untuk bertanya pada diri sendiri, “apakah ini kehidupan yang saya mau ?”

Sudah lama saya tidak menulis blog post, saya juga tidak ingat kapan terakhir saya menulis. Pekerjaan rutin di kampus dan pelayanan di gereja membuat saya seakan “terjebak” dalam keseharian saya. Selama dua minggu ini, boleh dikata bahwa saya mengalami kejenuhan, profesi saya sebagai pengajar dan mahasiswa yang sebetulnya profesi idaman saya, seakan hanya menjadi rutinitas saja.

Saya akhir-akhir ini juga banyak bertanya pada diri sendiri, “apa ada yang salah dengan hidup saya ?”. Pertanyaan itu yang membawa saya pada perenungan yang cukup panjang untuk me-re-definisi hidup, hingga akhirnya saya menulis blog post ini.

But before that, let me tell you about my life update :

  1. Sekitar bulan Februari kemarin, saya diangkat menjadi asisten akademik di lingkungan program studi Fisika. Pekerjaan ini rasanya adalah tahap awal hingga nanti suatu saat saya bisa diangkat jadi staf “beneran”. Namun, tentu hal ini menambah variabel baru dalam hidup. Bagaimana tidak ? Saya harus bekerja minimal 10 jam/minggu untuk menjadi asisten akademik. Mengisi kuliah pengganti, mengajar kelas tutorial, menjadi koordinator praktikum, memeriksa quiz dan PR serta menjadi panitia seminar. Rasanya pekerjaan ini adalah pekerjaan manajerial yang cukup menguras waktu dan tenaga.
  2. Saya juga banyak mengurus administrasi kelangsungan kuliah saya ke Perancis serta kunjungan riset ke Jepang. Mulai dari mengisi form, melengkapi berkas, hingga korespondensi e-mail. Hal ini juga cukup menguras waktu dan tenaga.
  3. Pelayanan di gereja yang memaksa saya untuk melakukan suatu pelayanan yang diluar “service area”. Saya juga terkadang bertanya pada diri sendiri, “untuk apa sich saya melakukan hal ini ? toh ini bukan bagian saya ?”. Tapi yang namanya beban pelayanan dalam hati kecil ini tidak bisa dibohongi, saya sangat terbeban dengan pelayanan usia muda dan saya melihat tidak ada perhatian sama sekali dari mereka yang seharusnya mengurus hal semacam ini. Hal ini membuat saya lelah secara emosi, lelah pikiran dan fisik.
Ketiga hal di atas yang sedang saya alami, yang membuat saya terlalu lelah untuk melakukan riset yang seharusnya menjadi kewajiban utama. Alhasil, saya mengalami kejenuhan, dan mulai bertanya kepada diri sendiri
Apa benar apa yang saya lakukan ini ? Apa ini yang Tuhan mau dalam hidup saya ?

 Hati kecil saya berkata “Ya” untuk pertanyaan di atas dan menyalahkan diri sendiri karena tidak cukup cerdik dalam mengatur diri sendiri. Namun, terkadang ada pikiran berupa “excuse” bahwa saya sedang dalam beban yang cukup berat, intinya

Rasanya saya terlalu memaksakan diri untuk melakukan segalanya.

 Apalagi mengenai pelayanan di gereja, itu bukan tugas saya, kenapa saya harus repot-repot dengan hal seperti itu. Tapi, terkadang ada suara dalam hati kecil :

Ini beban yang Tuhan berikan di pundak saya untuk dijalankan dengan setia, lagipula : it seems nobody cares, no body is willing to make a difference.

Me-redefinisi Hidup

Post ini ditulis sebetulnya hanya untuk memotivasi diri sendiri, namun saya bersyukur apabila ada yang terberkati dengan tulisan ini.

Saya ingin belajar dari kehidupan diri sendiri, bahwa pekerjaan rutin terkadang membuat kita lupa untuk bertanya pada diri sendiri

Apakah saya berada di jalur yang benar ?
Apakah saya mendapat sukacita dari pekerjaan saya ?
Apakah ini kehidupan yang saya mau ?

Perenungan ini yang terkadang baru terpikir di malam hari sebelum tidur, tapi karena terlalu lelah, kita tidak sempat untuk merenungkannya lebih jauh.

Pagi hari pun, kita sudah harus beraktifitas kembali.

Weekend dan hari minggu, kita habiskan untuk istirahat dan mengusir kejenuhan dengan bersenang-senang.

Pertanyaan itu kembali mengusik kita. Intinya

kita harus menemukan ketenangan dalam berpikir, berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri

Hal itulah yang sedang saya lakukan akhir-akhir ini. Saya bertanya pada diri sendiri mengenai motivasi dan penyebab mengapa saya menjadi seperti ini.

Saya juga bertanya pada Tuhan

Apa tujuan-Mu dibalik semua ini ?

 Setelah beberapa lama merenung, saya menemukan pelajaran berharga dari pengalaman ini :

  1. Terkadang hal ini, Tuhan ijinkan terjadi untuk membuat kita lebih dekat dengannya. Rutinitas membuat kita lupa untuk berdoa, untuk bersyukur dan malah mengeluh dengan apa yang ada di sekeliling kita. Saya belajar bahwa pada saat saya mengalami hal seperti ini, justru itu adalah “warning” untuk meningkatkan hubungan dengan sang pencipta.
  2. Awal pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menenangkan diri. Setelah mengalami “kejenuhan” ini, saya mengubah kebiasaan dengan bangun lebih pagi dari biasanya. Saya terkadang bangun jam 4 pagi atau paling telat jam 5 pagi. Waktu seperti ini memungkinkan kita untuk menenangkan diri, berdoa, bercakap-cakap pada diri sendiri mengenai hidup kita.
  3. Memperbaharui motivasi. Motivasi apabila tidak diperbaharui akan membuat kita kelelahan di medan pertempuran. Oleh karena itu, diperlukan waktu khusus untuk memperbaharui motivasi. Mengumpulkan alasan-alasan yang membuat kita berada di keadaan kita sekarang. Kalau alasan itu tidak ada, maka rasanya kita harus mempertimbangkan untuk berpindah profesi atau mencoba hal yang baru.

Saya tahu, keadaan seperti ini, perenungan seperti ini akan terjadi lagi di kemudian hari. Rasanya memang ini menjadi suatu siklus yang harus kita lewati.

So, sudahkah kita me-redefinisi hidup?

- be blessed -

kalimat tanya dosen pembimbing

February 8th, 2012 § Leave a Comment

never say never – Justin Beiber

ini kalimat tanya seorang pembimbing untuk ngajak mahasiswanya masukan dan presentasi makalah di konfrensi…

kepada mahasiswa S1 : “Kamu mau ‘nggak’ untuk presentasi di konfrensi xxxxx ?” (kemungkinan dijawab TIDAK oleh sang mahasiswa : 90%)

kepada mahasiswa S2 : “kamu mau ‘khan’ untuk presentasi di konfrensi xxxx ?” (kemungkinan dijawab TIDAK oleh sang mahasiswa 50%)

kepada mahasiswa S3 : “kamu nanti presentasi di konfrensi xxxx ya !”
(tidak ada tanda tanya, itu adalah sebuah perintah, maka kemungkinan untuk dijawab TIDAK oleh sang mahasiswa 0%)

 

- be blessed -

kebijakan publikasi karya ilmiah… productive atau counter productive?

February 1st, 2012 § Leave a Comment

Publikasi ilmiah internasional menjadi daya ungkit sangat besar yang akan mengangkat perguruan tinggi Indonesia menjadi berkelas dunia. – Prof. Khairrurijal

Baru saja saya pulang dari les Bahasa Perancis dan membaca kabar yang membuat saya merasa senang. Yakni mengenai kebijakan publikasi karya ilmiah dari DIKTI untuk kriteria kelulusan Sarjana, Magister dan Doktor mulai Agustus 2012. Berikut adalah surat resminya:

Kebijakan DIKTI mengenai publikasi karya ilmiah

Karena kabar ini akan sangat mengejutkan mereka yang masih kuliah (terutama program Sarjana), saya langsung meng-upload berita ini di akun Facebook.

Saya yakin, akan ada banyak pro dan kontra. Kalau saya sebagai akademisi jelas sangat pro dengan kebijakan ini. Bagaimana tidak, saya baru tahu kalau karya ilmiah Indonesia kalah telak dari Malaysia. Negeri yang sering  dihina oleh banyak rakyat Indonesia itu. Sorry to say, but Malaysia but way better than us in Education.

Kalau yang kontra rasanya akan melihat ini sebagai suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Bagaimana tidak? Saya yakin ada banyak calon sarjana yang bahkan tidak tahu apa itu jurnal ilmiah. Dan akan ketar ketir kalau mereka tahu bahwa tingkat kesulitan membuat suatu karya dan dipublikasi di jurnal lebih besar dibandingkan hanya sekedar membuat skripsi.

So, apakah respon dari pada calon sarjana, magister dan doktor dengan kebijakan ini ?

Apakah akan melihat ini sebagai tantangan atau malah menjadi hambatan ?

Apakah kebijakan ini akan makin menambah jumlah karya ilmiah atau malah menambah jumlah mahasiswa abadi ?

Rasanya mari kita melihat motivasi kita dalam kuliah? Apakah hanya untuk sekedar gelar hingga hanya cukup untuk kuliah, bayar uang kuliah, mengerjakan skripsi, sidang lalu lulus?

Atau bersedia untuk menulis karya ilmiah lalu publikasi dan membantu menambah reputasi Indonesia di dunia internasional ?

it’s up to you !!!

- be blessed -

mengenal fisika komputasi

January 28th, 2012 § Leave a Comment

dengan menggunakan komputer, kita bisa menghitung suatu sistem fisis yang mendekati kenyataan – Dr. Rizal Kurniadi

Fisika bukan hanya melulu berurusan dengan rumus. Bukan hanya dengan perhitungan yang rumit dan terkadang membuat anak-anak SMA merasa kesulitan mempelajari Fisika. Fisika semestinya dipandang sebagai suatu ide tentang suatu kejadian fisis sehari-hari yang kita alami setiap hari, dan bukan ribetnya rumus dan perhitungannya.

Fisika memiliki suatu cabang keilmuan (bisa dikatakan demikian) yang memanfaatkan suatu tools yang dapat dimanfaatkan untuk membuat perhitungan menjadi lebih mudah dan cepat. Tools itu adalah komputer dan cabang dari Fisika itu adalah Fisika Komputasi.

Komputer dapat dipandang kini bukan hanya untuk mengolah data praktikum atau membuat dokumen ilmiah, namun bisa digunakan untuk menghitung suatu perhitungan yang rumit, yang sulit (bahkan mustahil) diselesaikan dengan tangan (secara analitik).

Komputer dapat melakukan perhitungan dengan lebih cepat dibandingkan manusia. Secepat-cepatnya manusia menghitung, komputer akan selalu lebih cepat. Dengan demikian, para fisikawan dapat lebih berkonsentrasi pada konsep dan ide yang lebih besar dan menyerahkan perhitungan kepada komputer.

Contoh konkrit : Projectile Motion (Gerak Parabola) -
Model 1 : dengan Kinematika SMU

Salah satu contoh bagaimana Fisika Komputasi dapat memecahkan suatu permasalahan fisis yang mendekati kenyataan yang saya ambil di post adalah kasus gerak parabola. Contoh ini dimuat di blog post Wolfram oleh Jon McLonne (dengan beberapa perubahan pada konstanta gravitasi agar lebih mirip seperti diajarkan di sekolah).

Kasusnya adalah sebagai berikut

Senjata perang dunia kedua yang bernama Gustav Gun ditembakan dengan kecepatan awal 820 m/s dengan sudut sebesar 45 derajat terhadap bidang horizontal. Berapa jarak yang ditempuh oleh peluru senjata tersebut ?

Soal di atas merupakan soal yang amat sangat biasa yang dikerjakan oleh siswa SMA pada bab kinematika, yakni gerak parabola. Cara pengerjaannya sangat mudah, dapat dilihat di bawah ini

Pengerjaan dengan cara kinematika SMU

Terlihat pada pengerjaan di atas, kita memperoleh hasil sebesar 67,236.8 m. Lintasan dari hasil di atas dapat dilihat di bawah ini (dengan sumbu-x adalah sumbu horizontal dan sumbu y adalah sumbu vertikal):

lintasan peluru dengan kinematika SMU

Data Gustav Gun

Model di atas tidaklah menggambarkan suatu keadaan fisis yang nyata. Apabila kita lihat data Gustav Gun yang sebenarnya (dapat dilihat pada link wikipedia) bahwa jarak maksimum (maksimum range) dari senjata ini adalah 38,000 – 38,000 m. Artinya meleset hampir 29 Km dari hasil dengan kinematika SMU di atas.

data Gustav Gun, terlihat maksimum range dari senjata ini adalah sekitar 38,000 - 48,000 m

Maka, model dan perhitungan yang dikerjakan dengan kinematika SMU sangatlah oversimply (penyederhanaan yang terlalu sederhana) dan sangat tidak masuk akal.

Lalu, bagaimana kita meningkatkan model ini?

Model II : Efek gesekan udara 

Kita dapat membuat model di atas mendekati kenyataan dengan menambahkan efek/pengaruh dari gesekan udara yang diformulasikan :

dimana rho adalah rapat massa udara, v kecepatan objek (dalam hal ini peluru) relatif terhadap udara, cd adalah koefisien gesek dan A adalah luas area objek yang terkena udara.

Apabila kita masukan gaya ini ke dalam persamaan differensial orde dua Newton lalu dihitung dengan menggunakan komputer (dengan program Mathematica), maka jarak terjauh yang mampu ditempuh oleh peluru Gustav Gun adalah sekitar 37,000 m.

Berikut lintasan dari model ini dibandingkan dengan model sebelumnya:

Perbandingan lintasan dengan hambatan udara dan kinematika biasa

Model ini sudah lumayan mendekati kenyataan, bukan ?

Model III : Efek ketinggian

Model di atas, masih mengenyampingkan efek dari perubahan rapat massa udara yang berubah terhadap ketinggian (pada model di atas, rapat massa udara dianggap bernilai konstan). Di mana rapat massa udara akan turun secara signifikan seiring dengan bertambah tingginya peluru tersebut.

Perhitungan efek ini melibatkan perhitungan yang sangat sulit apabila diselesaikan secara analitik, kembali kita gunakan komputer untuk menghitung.

Setelah dihitung (perhitungan detail dapat dilihat pada sumber), diperoleh hasil 48,000 Km. Sesuai dengan data Gustav Gun yang sebenarnya.

Gambar di bawah ini memperlihatkan perbedaan tiga buah model lintasan peluru:

Perbandingan tiga model : model kinematika biasa, model gesekan udara dan model gesekan udara disertai perubahan rapat massa udara

Sangat jauh berbeda, bukan? Perbedaanya hingga skala ribuan meter, dan tentunya lebih mendekati kenyataan.

Model IV : Efek angin bertiup dengan kecepatan 5 m/s

Model di atas masih bisa kita buat semakin mendekati kenyataan dengan menambahkan efek angin yang bertiup, misalkan sebesar 5 m/s (model nomor II masih berupa gesekan dengan udara yang tidak bertiup). Apakah perbedaannya cukup jauh? Lihat saja di perbedaan titik jatuhnya peluru dengan model sebelumnya (yang sebetulnya sudah cukup baik)

Perbedaan titik jatuh akibat efek angin bertiup sebesar 5 m/s

Perbedaannya cukup jauh, bukan ? sebesar kira-kira 300m.

Masih adakah efek yang lain?

Sebetulnya model di atas masih kurang banyak aspek nyata. Misalnya efek kelembapan udara, suhu udara, efek variasi nilai grafitasi dan kita masih menghitung dalam 2 dimensi, bukan ?

Aspek-aspek ini masih harus dipikirkan dalam hal yang lebih konseptual. Hal-hal konseptual tersebut akan lebih mendapat perhatian lebih karena perhitungan yang rumit dapat dikerjakan oleh komputer.

Itulah kerennya Fisika Komputasi, kita bisa mengalokasikan waktu dan tenaga untuk memikirkan ide dari fisika itu sendiri, ketimbang beribet ria dengan perhitungan matematikanya.

Semoga tulisan ini dapat memberi inspirasi mereka yang takut pada perhitungan rumus fisika, bagi mereka yang hobi menggunakan komputer atau yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai fisika.

Fisika bukan hanya sekedar menghitung, fisika lebih dari sekedar menghitung

- be blessed 

kuliah perdana komputasi sistem fisis

January 28th, 2012 § Leave a Comment

kuliah perdana komputasi sistem fisis dengan Dr. Rizal Kurniadi adalah kuliah perdana yang paling keren yang pernah saya ikuti di ITB

Jumat lalu saya mengikuti kelas perdana komputasi sistem fisis. Mata kuliah ini sebetulnya tidak wajib untuk diambil, tapi saya dan seorang teman S3 mengambilnya untuk mengganti satu mata kuliah yang sudah kami ambil di S2.

Alasan kami mengambil kuliah ini adalah karena yang mengajar adalah Dr. Rizal Kurniadi. Seorang pakar di fisika nuklir dan komputasi. Terakhir kami mengambil kuliah dengan beliau adalah 7 tahun silam, ketika itu kuliah tingkat I, mata kuliah dasar-dasar pemrograman.

Alasan pribadi lainnya adalah karena beliau satu almamater SMA dengan saya, yakni SMAN 2 Cimahi. So, he is my senior, both in Physics and high school.

Kuliah perdana itu sangat membawa inspirasi. Beliau menjelaskan tentang powerfulnya mengerjakan fisika dengan komputer. Bahwa saat mengerjakan fisika dengan bantuan komputer, kita bisa mengetahui lebih banyak daripada saat kita mengerjakan fisika secara teori. Selain itu, sistem fisis yang kita kerjakan juga dapat mendekati kenyataan.

Beliau juga menjelaskan tentang bagaimana cara menjelaskan suatu konsep fisika yang sulit untuk dipahami dengan menggunakan bahasa yang awam, analogi yang luar biasa logis.

Sebagai contoh, beliau menjelaskan prinsip ketidakpastian Heisenberg dengan menggunakan analogi ikan dan kolam. Serta menjelaskan keadaan kuantum dengan menggunakan kita sebagai contoh. Luar biasa, beliau adalah dosen yang bisa mengajar dengan baik, membuat kami mahasiswanya menjadi mengerti.

Kelas juga menjadi hidup dengan banyaknya candaan beliau. Saya ingat bagaimana beliau menjawab pertanyaan salah seorang peserta kuliah :

peserta kuliah : “pak, referensi buku yang dipakai apa”
Dr. Rizal           : “(dengan mengeja) www.google.com”

Terima kasih, Pak untuk kuliah perdana yang sangat mengesankan.

- be blessed

Tentang Ganesha 2 Academy

January 28th, 2012 § Leave a Comment

The whole purpose of education is to turn mirrors into windows.  - Sydney J. Harris

The beginning

Semuanya ini bermula dari kerinduan hati saya untuk turut serta dalam mengajar dan mendidik generasi muda di almamater saya, SMAN 2 Cimahi. Membantu para guru yang pernah atau pun tidak pernah mengajar saya selama SMA dulu untuk mencetak generasi baru bagi bangsa ini. Tujuan yang muluk-muluk memang, tapi itulah yang saya rindukan. Tujuan yang terdengar ambisius dan mengawang-ngawang ini telah menjadi bahan bakar bagi setiap aktivitas saya di SMAN 2 Cimahi.

Ketika itu tanggal 21 Juli 2011, 4 bulan setelah saya pulang dari Jepang, saya mengajukan proposal tentang “Komunitas Akademik SMAN 2 Cimahi”. Tujuan dari komunitas ini adalah menjaring sebanyak mungkin alumni, menularkan kerinduan hati ini agar para alumni kembali ke SMAN 2 Cimahi dan turut membantu para guru mencetak generasi penerus bangsa ini.

Latar belakang dari komunitas tersebut adalah saya pikir proses kemajuan SMAN 2 Cimahi harus dibantu oleh para alumni yang bersedia membantu dan membayar harga lebih untuk membantu guru-guru dalam proses pendidikan.

Saya percaya bahwa bangsa ini bisa memperbaiki “nasib”-nya melalui generasi muda, dan salah satunya generasi muda yang idealisme dan nasionalis tersebut akan lahir dari SMAN 2 Cimahi.

It’s not easy to start a change

Saya mengajak beberapa teman angkatan saya untuk membatu gerakan ini. Beberapa menyatakan bersedia, namun karena mereka sudah memiliki pekerjaan dan berkeluarga, mereka tidak bisa membantu banyak seperti saya.

Optimisme saya menjaring para alumni lama kelamaan luntur dan saya sempat putus asa karena hanya bekerja sendirian. Datang ke sekolah sendirian, menyerahkan sendiri beberapa materi ajar untuk mengajar guru.

Saya tidak bisa menyalahkan teman-teman angkatan saya, karena memang menurut saya beban mereka bukanlah untuk SMAN 2 Cimahi.

Kalau ingat masa-masa itu, rasanya ada banyak helaan nafas dan beberapa keluhan dalam diri ini. Saat itu semuanya terasa sulit, saya menjadi mahasiswa S3, harus belajar mata kuliah yang sulit-sulit sambil tetap sering berkunjung ke SMAN 2 Cimahi.

Untuk memulai sesuatu yang baru, menanamkan pola pikir pada orang lain, menjadi seorang pemimpin dari suatu gerakan yang baru bukanlah hal yang mudah. Dan mereka yang memulai pertama kali, memang seharusnya membayar harga lebih.

The new generation

Keinginan saya untuk menularkan semangat ini tetap ada. Tanggal 20 Desember 2011 saya mengadakan pertemuan kecil komunitas Ganesha 2. Sebetulnya komunitas ini adalah grup Facebook yang beranggotakan alumni SMAN 2 Cimahi yang berkuliah di ITB.

Grup ini dibentuk oleh angkatan 2007, angkatan yang berbeda 3 tahun dari saya. Sehingga dominan anggota grup ini saya tidak kenal. Kami hanya berinteraksi lewat Facebook untuk saling mengenal dan bertukar pikiran.

Kembali ke pertemuan pada bulan Desember 2011, pertemuan itu sebetulnya hanyalah untuk bersilaturahmi dan ada beberapa topik yang saya agendakan. Yang menjadi topik utama sebetulnya adalah mengenai program kakak asuh dari Ikatan Alumni SMAN 2 Cimahi.

Puji Tuhan ada banyak alumni yang hendak membantu menjadi kakak asuh. Sekitar 22 anggota Ganesha 2 bersedia membantu 2 adik asuh dalam pembayaran SPP setiap bulannya selama 6 bulan.

Agenda lainnya adalah mengenai e-learning. Saya mengajak mereka untuk menyumbang materi ajar di SMAN 2 Cimahi dalam sistem e-learning. Lalu ada seorang alumni angkatan 2011 yang mencetuskan ide untuk mengajar langsung saja di SMAN 2 Cimahi.

Ketika itu pun saya lalu berpikir bahwa ini adalah ide yang sangat bagus. Memfasilitasi mereka yang tidak mahir membuat materi ajar tapi ingin mengajar langsung. Pembicaraan pun berlanjut dengan rencana membuka kelas tutorial bagi para siswa SMAN 2 Cimahi.

Sehabis pertemuan, saya merasa senang dengan sambutan para adik angkatan saya. Ternyata mereka punya rasa memiliki terhadap SMAN 2 Cimahi dan punya keinginan untuk membantu pendidikan di SMAN 2 Cimahi.

The proposal

Awal Januari ketika semester 2 tahun ajaran 2011/2012 hendak dimulai, saya mengajukan proposal singkat tentang kelas tutorial ini. Saya tidak mau menggunakan kosakata “bimbingan belajar”, karena konotasinya adalah bimbingan belajar di luar sana yang hanya menjadikan siswa-siswi SMAN 2 Cimahi sebagai komoditi pasar mereka.

Kelas tutorial ini harus berbeda, pertama harus gratis bagi siswa-siswi SMAN 2 Cimahi dan yang kedua harus berkualitas bahkan kalau bisa melebihi kualitas di bimbingan belajar di luar sana.

Mungkin terdengar ambisius, tapi itulah target saya untuk kelas tutorial ini.

Saya mengajukan proposal ini melalui Wakasek Humas, Bapak Sumarso dan Wakasek Akademik, Ibu Sriningsih. Sambutan mereka sangat baik dan tidak perlu menunggu lama merealisasikan kelas tutorial ini.

Target awal dari kelas ini adalah kelas XII untuk persiapan UN dan SNMPTN.

Logo Ganesha 2 Academy

The appreciation

Awalnya saya kira peminat untuk kelas ini akan sedikit. Saya hanya menyebaran leaflet dan pihak sekolah mengumumkan di upacara bendera hari Senin.

Tapi perkiraan saya salah, setelah upacara bendera Ibu Sriningsih menelepon saya (biasanya beliau hanya SMS) dan berkata bahwa sambutannya sangat banyak. 215 siswa berminat mengikuti kelas ini. Jumlah itu adalah 2/3 dari keseluruhan siswa.

Satu sisi saya merasa senang, sisi lainnya saya kebingungan karena harus mencari banyak tutor dari Ganesha 2 untuk mengajar setiap hari Sabtu.

Terlepas daripada itu, semua hal mesti disyukuri, baik dari siswa siswi SMAN 2 Cimahi dan para tutor dari Ganesha 2.

So, what next?

Hari ini, Sabtu 28 Januari adalah sesi yang kedua kalinya kelas tutorial. Sesi pertama minggu lalu kami selenggarakan pre-test untuk mengetahui kemampuan anak-anak SMAN 2 Cimahi pada beberapa pelajaran.

Para tutor pun banyak yang bisa hadir, dan mendapat bantuan juga dari alumni yang berkuliah di UPI dan seorang teman yang membantu kelas Biologi yang bukan merupakan alumni SMAN 2 Cimahi.

Saya bersyukur untuk antusiasme anak-anak SMAN 2 Cimahi dan para tutor, saya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan di SMAN 2 Cimahi dan membuat suatu gerakan yang berkelanjutan.

Saya selalu tekankan kepada para tutor bahwa kita harus berbeda dari alumni SMAN 2 yang lainnya, kita harus bisa berbuat lebih kepada almamater yang sudah mendidik kita, memberi perbedaan yang signifikan dan memberikan senyuman kepada adik-adik kita saat mereka mengerti yang kita ajarkan.

Kutipan di awal blog post ini adalah tentang pendidikan yang mengubah jendela menjadi cermin, maksudnya pendidikan semestinya bisa memberikan wawasan dan bukan hanya terfokus pada diri sendiri kepada para murid.

Itulah yang ingin kami tekankan kepada para siswa siswi SMAN 2 Cimahi, dengan mereka melihat kami, kakak-kakak mereka yang sedang berkuliah di ITB, kami harap mereka dapat lebih termotivasi untuk belajar.

Biarlah kelas tutorial Ganesha 2 Academy ini dapat menjadi permulaan yang baik bagi kontribusi alumni untuk SMAN 2 Cimahi.

- be blessed

berpikir berbeda ketika memilih jurusan kuliah

January 26th, 2012 § Leave a Comment

life is about making meaning, not making money – Guy Kawasaki

Bulan ini, semester II dari tahun ajaran 2011-2012 dimulai. Khusus bagi kelas XII semester ini adalah semester terakhir mereka di bangku SMU. Ada banyak hal yang harus mereka lakukan, ujian praktek, persiapan UN, UN nya sendiri dan SNMPTN. Hal-hal tersebut membuat mereka harus siap secara fisik dan mental. Selain hal-hal tersebut, mereka juga dibuat bingung dengan keputusan yang harus mereka buat untuk jenjang pendidikan selanjutnya, yakni kuliah.

Dua hal yang harus mereka putuskan, yakni tempat berkuliah serta jurusan yang akan mereka ambil. Hal ini berpengaruh pada model ujian yang akan mereka hadapi, entah itu berupa SNMPTN terpusat, ujian mandiri dsb.

Lantas apa yang menjadi bahan pertimbangan ketika memilih jurusan?

Dua hal terutama yang sering saya cermati sebagai bahan pertimbangan memilih jurusan adalah sebagai berikut :

  1. Minat dan bakat diri sendiri
  2. Prospek kerja dari jurusan yang ingin dituju

Wajar jika pilihan jurusan bergantung pada dua hal di atas. Dua hal di atas menjadi topik pembicaraan baik di kalangan siswa maupun guru bimbingan konseling dan guru bimbingan belajar.

Pertimbangan di atas tidaklah salah, tapi menurut saya… pertimbangan di atas terlalu kerdil dan kecil jika dipakai sebagai pertimbangan untuk memilih jurusan. Dan rasanya jika mindset ini terbawa terus hingga menjadi mahasiswa, generasi yang dihasilkan menjadi tidak memiliki kontribusi besar bagi bangsa ini.

Alasan yang egois (selfish reason)

Dua hal di atas, terlalu berbicara mengenai diri sendiri. Minat dan bakat bicara tentang kemampuan diri sendiri, apa yang kita suka, apa yang kita minati dan apa yang kita punya sebagai sebuah talenta. Terlebih tentang prospek kerja, hal ini bicara tentang masa depan yang juga hanya bicara soal diri sendiri. Ingin memperoleh pekerjaan agar bisa hidup layak menjadi dambaan lulusan dari suatu jurusan.

Artinya, kedua alasan itu terlalu egois untuk dijadikan pertimbangan memilih jurusan.

Pertanyaan penting untuk memilih jurusan (fundamental reason)

Kedua pertimbangan di atas tidak salah, namun terlalu kerdil untuk dijadikan bahan pertimbangan utama. Saya rasa, pertanyaan ini yang harus terlebih dahulu ditanyakan kepada diri sendiri :

Kontribusi seperti apa yang bisa saya berikan bagi bangsa ini? bagi orang-orang di sekeliling saya?

Perbedaan seperti apa yang bisa saya lakukan bagi bangsa ini melalui jurusan kuliah yang saya pilih

Tanyakan hal ini kepada diri sendiri… Apa kebutuhan bangsa ini? Apa kebutuhan orang-orang di sekeliling saya? Itu yang mesti ditanyakan sebelum bertanya minat dan bakat serta prospek pekerjaan dari suatu jurusan.

Alasan yang besar ketimbang alasan yang egois

Pertanyaan yang fundamental di atas memberikan suatu alasan yang besar dari diri kita sendiri. Alasan itu bahkan bisa menjadi lecutan semangat untuk menapaki kehidupan kuliah. Bahwasanya, kita berkuliah untuk satu tujuan, yakni memajukan bangsa ini dan melayani masyarakat dengan jurusan yang kita pilih.

Saya yakin alasan ini memberikan kita suatu motivasi yang lebih ketimbang hanya memikirkan pekerjaan setelah lulus. Memberikan arti yang lebih besar ketika kita lulus dari jurusan yang kita pilih. Bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri, bahwa pekerjaan kita hanyalah alat untuk berkontribusi bagi bangsa ini dan melayani masyarakat di sekeliling.

Life is about making meaning not making money

Saya hendak mengubah mindset anak-anak yang hendak memilih jurusan. Bahwa jurusan yang mereka pilih adalah suatu tangga yang harus mereka lewati untuk menjadi duta bangsa ini, bukan hanya sekedar batu loncatan untuk memperoleh pekerjaan layak.

Hidup adalah untuk memberi arti, bukan hanya sekedar mencari uang.

- be blessed -

pembelajaran berbasis Wolfram Mathematica (presentation record)

January 16th, 2012 § Leave a Comment

because principles matter – Wolfram Mathematica

Ketika pertama kali melihat kemampuan Wolfram Mathematica 8.0, Wolfram Alpha, Wolfram Demonstration dan Wolfram CDF Player, pikiran saya langsung membayangkan betapa luar biasanya pendidikan matematika dan sains apabila kesemua platform  Wolfram ini digunakan.

Saya lalu berinisiatif untuk merekam presentasi berdurasi sekitar 45 menit di bawah ini untuk memberikan gambaran mengenai kemampuan dari produk Wolfram, terkhusus untuk pendidikan. Video presentasi terbagi menjadi 3 bagian yang saya bagi menurut prioritas penjelasan.

Rasanya saya tidak perlu menulis banyak tentang ini, video-video di bawah ini sudah lebih dari cukup menjelaskan tentang pembelajaran berbasis Wolfram Mathematica.

Video pertama : latar belakang dan Wolfram Mathematica

Video kedua : Wolfram Alpha

Video ketiga : Wolfram CDF dan saran implementasi

Untuk rekan-rekan pengajar dan siswa atau siapapun yang melihat sesuatu yang berbeda dan ingin bertukar pikiran mengenai implementasinya di dunia pendidikan, saya akan dengan senang hati berdiskusi.

- be blessed -

menjaga integritas dengan menggunakan software asli

January 12th, 2012 § Leave a Comment

Character is doing the right thing when nobody’s looking.  There are too many people who think that the only thing that’s right is to get by, and the only thing that’s wrong is to get caught.  ~ J.C. Watts

Pagi ini ketika membuka e-mail, saya mendapat e-mail dari Wolfram Research, perusahaan yang memproduksi dan mengembangkan software Matematica. E-mail itu berisi license number software Mathematica for Students yang saya pesan sekitar 3 hari yang lalu.

Dan sekarang, saya sudah meregistrasi secara resmi penggunaan copy dari Mathematica ini. Ada kepuasan tersendiri ketika melakukan hal yang benar, yakni menggunakan software asli yang sebetulnya bisa saya peroleh versi bajakannya dengan harga yang sangat sangat jauh lebih murah.

License Mathematica

Saya memesan Mathematica ini dari re-seller resmi Wolfram Research di Indonesia, yakni PT. Nabenta Indonesia. Service dari re-seller ini sangat baik. Prosesnya tidak berbelit-belit. Saya hanya bertanya harga dan versi, lalu mereka mengirimkan invoice, saya transfer biayanya melalui bank dan 3 hari kemudian, saya mendapat e-mail dari Wolfram.

Harga dari software ini sangat WAH !!! yakni Rp. 2.365.000,-. Bandingkan dengan harga versi bajakan yang dengan mudah bisa saya dapatkan di depan kampus seharga Rp.25.000,- ?

Harga segini saja adalah harga termurah untuk versi student, dan ketika  saya nanti lulus S3, saya harus meng-upgrade ke versi akademik dengan biaya tambahan.

Sebelum software ini, saya juga menggunakan Microsoft Office for Mac yang asli. Puji Tuhan saya bisa memperolehnya dengan harga yang sangat murah karena menggunakan versi student ketika berada di Kanazawa, Jepang.

Ini adalah masalah integritas

Lalu kenapa saya harus mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk sebuah software asli ? Saya kira ini adalah masalah integritas saya sebagai seorang educator, sebagai seorang warga negara yang baik dan sebagai manusia yang menghargai karya intelektual orang lain.

Ini bukan masalah pamer, tapi ini adalah masalah melakukan hal yang benar.

Kalau dibandingkan harga itu dengan harga sebuah gadget HP atau Tablet, tentu saya bisa membeli gadget seperti itu dan untuk software ini saya gunakan saja yang bajakan. Tapi dana yang saya punya, rasanya lebih baik dipakai untuk melakukan hal yang benar, ketimbang membeli barang yang sebetulnya hanya untuk diri sendiri.

Software ini saya beli karena akan sangat berguna untuk saya mengajar dan membuat bahan ajar untuk pengajar lainnya. Oleh karena itu, tujuan yang mulia ini lebih baik difasilitasi dengan sesuatu yang benar juga khan?

mencapai tujuan yang benar dengan melakukan hal yang benar

Rasanya hal yang aneh juga bagi saya, kalau ada orang yang berteriak-teriak bicara mengenai integritas, terlebih hingga menuntut sana dan sini, sedangkan dirinya sendiri tidak menjaga integritas dengan menggunakan software bajakan, ya ga sich ?

- be blessed -

one step forward to become a physics Ph.D

January 6th, 2012 § Leave a Comment

“Faith is taking the first step even when you don’t see the whole staircase.” – Martin Luther King, Jr.

“Kamu yakin ambil 3 mata kuliah ini?” kurang lebih itu kata-kata yang tersirat dari dosen wali ketika saya mengajukan 3 mata kuliah kunci untuk kualifikasi. Kualifikasi di sini adalah kualifikasi tahap pertama Doktor, yaitu lulus dengan nilai minimal B untuk 4 mata kuliah, yaitu Mekanika Statistik, Elektrodinamika, Mekanika Analitik dan Mekanika Kuantum.

Empat mata kuliah itu adalah mata kuliah yang sulit (ya kalo mudah ga mungkin jadi syarat kualifikasi) yang mencakup hampir keseluruhan sistem fisis di alam semesta ini. Syarat kualifikasinya adalah lulus mata kuliah tersebut dengan nilai minimal B.

Untuk Mekanika Statistik, saya sudah mengambil semasa S1 dan memperoleh nilai B.

Saat menjalani proses belajar selama 1 semester dengan 3 mata kuliah sisa, rasanya saya sudah mencapai limit kelelahan dan kejenuhan. Imbasnya, dalam 1 semester, saya sudah jatuh sakit hingga 4x.

Saat ujian dan quiz, saya tidak percaya diri. Saya pun sulit memahami setiap konsep yang harus saya kuasai di tiap mata kuliah. Hal ini dikarenakan saya cukup kaget menghadapi mata kuliah Fisika yang sudah 2 tahun tidak saya sentuh (karena S2 saya bukan Fisika). Terlebih dengan kegiatan dan tanggung jawab yang cukup padat di luar kuliah. Intinya, saya menjalani dengan terseok-seok.

Tapi itulah baiknya Tuhan, kemarin saya diberitahu oleh seorang teman tentang nilai-nilai saya. Dan menurut mereka, saya sudah lolos kualifikasi. Satu mata kuliah AB dan dua yang lainnya B. Minim sich, karena B adalah standar minimal lolos kualifikasi, tapi saya cukup senang, karena mengingat performa saya yang tidak cukup baik.

Pagi ini, saya memastikan nilai-nilai tersebut ke Tata Usaha. Pagi-pagi benar saya datang ke kampus, bahkan ketika Tata Usaha belum buka, saya masuk saja ke dalam untuk melihat nilai. Dan ternyata apa yang teman saya katakan benar adanya. Saya lolos kualifikasi.

Ini adalah langkah kecil untuk mendapat gelar Dr. dan Ph.D. Masih ada banyak proses di depan sana. Tapi, biarlah saya dapat menikmati kemajuan kecil ini hari ini.

Thanks God.

- be blessed -

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,357 other followers