mengajar : menanam benih yang entah kapan akan berbuah

Mengajar tidak sama dengan bisnis yang bicara mengenai untung-rugi. Mengajar ibarat menanam benih yang entah kapan akan berbuah.

Saya selalu tertarik dengan profesi seorang pengajar. Profesi yang juga sedang saya kejar, yang juga merupakan panggilan hidup saya. Guru-guru saya dahulu tetap menjadi inspirasi saya hingga kini. Saya tetap menganggap mereka sebagai guru saya.

Hari ini saya membaca ulang buku yang sangat bagus yang berjudul “mengajar untuk mengubah hidup”. Di bab 2 buku tersebut terdapat pernyataan yang kurang lebih sama dengan judul dari post ini.

Pernyataan ini sebetulnya sudah saya pahami sejak lama, namun hari ini saya diingatkan kembali mengenai hal ini. Saya bersyukur untuk proses “pengingatan kembali” yang saya peroleh hari ini.

Saya kira banyak guru yang mengajar murid yang tidak pernah membayangkan akan menjadi apa muridnya kelak. Guru itu hanya berusaha memberikan pengajaran dengan sepenuh hati ibarat seorang petani yang menanam benih di ladangnya.

Lalu apabila sang mantan muridnya kembali ke sekolah tempat ia dulu belajar dan menemui gurunya untuk mengucapkan terima kasih. Sang murid kini sudah menjadi orang yang berada, yang memiliki prestasi tinggi di bidangnya dan yang telah menjadi berkat bagi banyak orang.

Mungkin pada momen ini, sang guru lupa akan mantan muridnya tersebut. Setelah diingat-ingat, barulah sang guru ingat. Sungguh sebuah buah yang sangat manis bagi sang guru tersebut. Jerih payahnya terbayar bukan karena uang, tapi melihat mantan muridnya kini menjadi orang yang sukses.

Itulah guru, seseorang yang senantiasa setia menanam benih, tanpa tahu entah kapan benih itu akan berbuah.

Pendidikan itu bukan ladang bisnis

Nah, hal ini berbeda dengan wajah pendidikan yang saya amati sekarang. Pendidikan saat ini menjadi ladang bisnis dimana sudah berbicara mengenai untung dan rugi.

Biaya yang mahal, kelas yang “katanya” berbasis internasional/bilingual menjadi ujung tombak marketing sekolah. Kelas yang “katanya” internasional/bilingual itu memiliki tarif yang lebih mahal ketimbang yang reguler.

Pendidikan saat ini menjadi ladang bisnis, dimana modal untuk mendirikan/mengembangkan sekolah harus cepat dikembalikan PLUS keuntungan berupa materi yang sudah ditargetkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Saya terkadang bertanya pada diri sendiri:

Apakah ini model pendidikan yang harus dijalani oleh adik-adik saya?
Apakah hanya uang yang ada di pikiran para penyelenggara sekolah?
Apakah penyelenggara sekolah pernah berpikir mengenai produk pendidikan yang sebenarnya?

Produk pendidikan haruslah berupa buah dari pendidikan itu sendiri yang memang entah akan berbuah kapan. Produk itu bukanlah keuntungan materil semata, tapi apakah lulusan sekolah bisa menjadi berkat bagi banyak orang melalui pendidikan yang ia terima?

Rasanya pendidikan sudah lari dari tujuan mula-mula, menjadi tujuan yang instan, yaitu keuntungan materi.

Inilah salah satu kemarahan saya terhadap dunia pendidikan dan salah satu alasan saya mengambil kuliah hingga jenjang S3 adalah agar suara saya mengenai pendidikan dapat lebih didengar oleh penyelenggara pendidikan agar penyelenggara pendidikan dapat kembali ke tujuannya mula-mula.

– be blessed –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s