dua hal terpenting dalam pendidikan

the heart of education, the minimum of education is a learner of whatever age that person is and what ever situation happens to be and a teacher, in some case the teacher is the learner. – Sir Ken Robinson

Presentasi lain yang saya saksikan kemarin selain yang sudah saya post sebelum ini adalah salah satu pembicara favorit saya, yaitu Sir Ken Robinson. Presentasi ini berdurasi sekitar 30 menit, namun saya sempat terdiam dan merenung di 4 menit pertama karena ia menjelaskan mengenai esensi pendidikan, mengenai apa hal terpenting dalam pendidikan.

Walau 4 menit pertama itu sebetulnya hanya pembuka dari presentasinya, tapi itu adalah akar dari semua presentasinya bahkan lebih dari itu, itu adalah akar dari pendidikan. Pertanyaannya sederhana :

apa hal terpenting dari pendidikan? apa esensi dari pendidikan?

Sir Ken Robinson menjelaskan dengan sangat baik. Ia menganalogikan esensi pendidikan dengan esensi teater atau seni peran. Ia membuka presentasinya dengan membahas mengenai buku karangan Peter Brook, yakni The Empty Space. Buku ini mengulas pertanyaan “apa hal terpenting/esensi dari teater/seni peran ?”

apa esensi dari teater/seni peran? apa hal terpenting dari seni peran? kita bisa menghilangkan gorden, script,lighting, kostum bahkan gedung teater. Tapi kita tidak bisa menghilangkan aktor yang memainkan peran serta penonton yang menonton aktor tersebut. Hal terpenting dari seni peran adalah aktor di suatu ruang dan penonton serta hubungan antara keduanya. Kita tidak harus menambahkan hal lain kecuali dapat memperkuat hubungan antara aktor dan penonton – The Empty Space, Peter Brook

the empty space book

Sama halnya dengan pendidikan :

the heart of education is the relationship between the teacher and the learner, and I believe we shouldn’t add anything unless it improve it. – Sir Ken Robinson

Guru dan murid serta hubungan keduanya adalah esensi dari pendidikan, hal terpenting dari pendidikan. Hal-hal lain hanyalah pelengkap yang seharusnya tidak mengurangi hubungan keduanya.

Kenyataan ini membuat saya merenung dan melihat ke sekeliling lingkungan pendidikan di sekitar saya. Kenyataannya, pendidikan kini lebih disibukan dengan hal-hal lain selain hal penting ini. Hal-hal lain ini memang ditambahkan untuk memperkuat pendidikan, namun dari kenyataan yang saya lihat, malah mengurangi kedua hal penting tersebut (counter productive) dan yang sangat menyedihkan, membuat cita-cita awal pendidikan menjadi kabur.

Sistem dan infrastruktur adalah dua hal yang ditambahkan pada pendidikan dan rasanya semakin gencar ditambahkan demi menambah gengsi dan pamor institusi pendidikan. Berikut lima hal diantaranya yang saya amati:

  1. Kurikulum
    Kurikulum itu baik untuk membuat pengajaran menjadi terstruktur. Kurikulum baik ketika sistem ini menempatkan aljabar sederhana sebelum persamaan kuadrat. Tapi kurikulum yang padat, dipenuhi oleh target, jadwal dan sebagainya membuat guru dan murid tidak memiliki cukup waktu untuk mengajar dan mempelajari secara  mendalam suatu materi. Adalah hal yang aneh menurut saya apabila seorang murid diajari gerak dua dimensi apabila dia tidak mahir di gerak satu dimensi namun hal ini terjadi karena guru dikejar target dan jadwal untuk mengajar materi gerak dua dimensi.
  2. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
    Mungkin adanya istilah ini bertujuan untuk memberi target pada siswa mengenai nilai “minimum” yang harus ia peroleh. Target itu penting, tapi target yang rendah hanya memberi tekanan dan bukan motivasi. Siswa seharusnya diberi target maksimal, bukan minimal. Target minimal ini membuat siswa tidak fun dalam belajar dan guru tidak mengajar secara konsep dan mendalam sehingga terjebak pada cara instant. Guru seharusnya memberikan motivasi dan inspirasi kepada siswa tentang suatu pelajaran dan siswa seharusnya belajar karena mereka tertarik pada pelajaran itu. Jika mereka tertarik maka otomatis nilai mereka baik.
  3. Ujian Nasional
    Topik yang paling banyak diperdebatkan dan mengundang kontroversi di Indonesia. Rasanya pandangan terhadap ujian ini hampir mirip dengan KKM pada poin kedua di atas. Pandangan terhadap sistem ini yang harus dirubah, ketimbang banyak terjadi manipulasi karena untuk memenuhi nilai minimum kelulusan.
  4. Teknologi
    Teknologi baik bagi pendidikan, sepanjang hanya dipandang sebagai alat bantu dan bukan hal yang sifatnya esensial (penting). Saya terkesan dengan banyak sekolah yang sudah tersedia fasilitas LCD Proyektor lengkap dengan screen-nya. Hanya persoalan baru muncul, apakah para pengajar siap dengan teknologi ini? dan memandangnya sebagai alat bantu, bukan cara melarikan diri dari bertatap muka langsung dengan siswa.
  5. Kelas “Khusus”
    Kelas “standar internasional”, “bilingual” dsb yang sebetulnya hanya digunakan sebagai bisnis dan daya tarik belaka. Siswa semestinya masuk kelas unggulan bukan karena orang tua-nya mampu membayar lebih mahal tapi karena ia mampu menjadi siswa unggulan melalui prestasi akademiknya. Dari 5 hal yang saya bahas, kesedihan saya terdalam adalah poin yang terakhir ini.

Mungkin foto yang diambil di suatu sekolah di desa, India dapat memberikan gambaran mengenai esensi dari pendidikan.

sekolah di suatu desa di India, menggambarkan dua hal terpenting dari pendidikan. Murid dan guru serta hubungan diantara keduanya. (image from sxc.hu, uploaded by : geowillis)

Sudah saatnya para guru, para pengambil keputusan di institusi pendidikan dan pemerintah berpikir serius mengenai hal ini dan mengajukan pertanyaan?

bagaimana kita membuat sederhana sistem pendidikan dan mengembalikan pada hal yang terpenting?
apa hal yang bisa dihilangkan supaya pendidikan menjadi lebih esensial (berfokus pada hal yang penting)?
adakah cara lebih baik untuk memperkuat hubungan antara guru dan murid?

– be blessed –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s