mata kuliah akademik vs mata kuliah kehidupan

Tulisan ini saya pindahkan dari blog saya yang lain, yang saya pikir relevan dengan topik dari blog ini yaitu tentang pendidikan. Tulisan ini adalah refleksi saya ketika meninggalkan Jepang setelah menempuh pendidikan Double Degree di negeri sakura tersebut.

Akhir-akhir ini saya sering merefleksikan diri mengenai apa yang telah saya peroleh selama menempuh pendidikan di Jepang. Hampir satu tahun lamanya saya menempuh pendidikan master double degree di sini.

Dari semua momen-momen refleksi itu, saya mengambil kesimpulan bahwa

dari 100% pendidikan yang saya peroleh, hanya 15% diantaranya merupakan pendidikan akademik, sedangkan sisanya merupakan pendidikan “kehidupan”.

Saya merasa bahwa saya lebih belajar banyak hal mengenai nilai-nilai kehidupan ketimbang hal-hal akademik. Di posting kali ini saya ingin berbagi mengenai nilai-nilai kehidupan yang saya peroleh.

Saya tidak berkata hal-hal akademik itu tidak penting, namun ada hal yang lebih penting ketimbang hal-hal akademik itu yang sebetulnya lebih menjadikan saya bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Sebelumnya, inilah mata kuliah dan topik riset yang saya peroleh di Jepang:

  1. Topics in Computational Science
  2. Introduction to Frontier on Computational Science
  3. Partial Differential Equation
  4. Low Dimensional Geometry
  5. Theory of Numerical Analysis
  6. Mathematical Modeling
  7. Topics in Computational Material Science
  8. Computational Solid State Physics
  9. Computational Molecular Chemistry
  10. Introduction to Computational Material Science
  11. Electron Theory for Computational Material Science
  12. Riset Topik : Particle Method for Fluid Dynamics Modeling

Itulah mata kuliah akademik yang saya peroleh. Jujur, bahwa di luar topik riset saya tidak ingat materi mata kuliah-mata kuliah di atas. Nilai yang saya peroleh memang memuaskan, karena memang di sini tidak ada ujian untuk mata kuliah S2. Nilai diperoleh dari absensi dan tugas. Inilah yang membedakan sistem pendidikan S2 di Indonesia dan di Jepang.

 

image from sxc.hu uploaded by Ove Tøpfer

Singkat kata, hanya sedikit pengalaman akademik yang saya peroleh. Sedangkan mata kuliah “kehidupan” yang saya pelajari adalah:

Tanggung Jawab

Selama tinggal di Jepang, saya semakin diajar untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Tidak menyalahkan orang lain apabila saya mengalami kesulitan atau kemunduran dalam pendidikan. Saya adalah satu-satunya orang yang dapat memutuskan kondisi hidup saya. Saya belajar untuk tidak berdalih dan memberikan alasan apabila saya salah. Kalau saya salah ya salah dan sedapat mungkin tidak menyalahkan keadaan atau orang lain.

Mengambil Tanggung Jawab Lebih

Poin ini saya buat tersendiri berbeda dengan sebelumnya. Kita memang sebaiknya bertanggung jawab pada tugas dan kewajiban pokok kita. Namun dari pengalaman saya, kita bisa memperoleh banyak pengalaman ketika kita mengambil tanggung jawab lebih.

Contoh pengalaman saya adalah ketika proses keberangkatan ke Indonesia untuk mendampingi sensei yang menjadi Visiting Professor. Ketika itu, saya menjadi penghubung dua universitas yakni ITB dan Kanazawa University. Persoalan administrasi ketika itu memang sulit karena ini adalah pertama kalinya Professor dari Kanazawa University diundang untuk mengajar di universitas lain. Saya belajar banyak ketika itu dan puji Tuhan semuanya berjalan dengan lancar.

image from sxc.hu uploaded by Nicole Shelby

Kerja Keras dan Tidak Mengeluh

Bangsa Jepang terkenal karena kerja keras mereka dan dedikasi penuh mereka terhadap pekerjaan. Di sini saya banyak melihat langsung bagaimana mereka bekerja keras dan itulah juga yang saya tiru dari mereka.

Mereka juga tidak pernah mengeluh pada pekerjaan mereka. Betapapun berat pekerjaan mereka, mereka tetap mengerjakannya dengan penuh dedikasi. Satu hal yang saya kagum dari mereka adalah para pekerja publik yang bekerja melebihi jam kerja mereka. Seorang teman Indonesia yang bekerja sebagai perawat berkata bahwa sebetulnya jam kerja orang Jepang di rumah sakit itu hanya sampai jam 4 sore, namun mereka bersedia bekerja hingga larut malam TANPA DIBAYAR.

Iya, tanpa dibayar. Mereka menganggap jam kerja ekstra tersebut adalah pengabdian bagi orang-orang yang mereka layani. Berkebalikan dengan budaya bekerja di Indonesia, dominan pekerja Indonesia mengeluh apabila mereka bekerja melebihi jam kerja mereka dan kerap meminta uang lembur.

 

image from Flickr

Mengambil Keputusan Sendiri

Banyak momen selama hidup di Jepang di mana saya harus mengambil keputusan sendiri. Keputusan ini terkadang berbeda dengan teman-teman yang lain. Contohnya adalah ketika saya memutuskan untuk meninggalkan kelas Bahasa Jepang (yang sebetulnya gratis), padahal saya baru 3 minggu minggu belajar.

Ketika itu hanya saya yang meninggalkan kelas bahasa itu karena saya pikir kelas ini tidak terlalu penting untuk saya. Saya berpikir bahwa kelas ini hanya membuang-buang waktu saja. Akhirnya saya bisa memperoleh waktu yang lebih banyak untuk melakukan riset.

Contoh lainnya adalah ketika saya bekerja sendirian di Lab dari pagi hingga malam (bahkan di hari Sabtu/Minggu). Saya berangkat dari apartment ke kampus sendirian. Awalnya memang sulit untuk berangkat pagi-pagi dan sendiri namun saya berpikir prioritas riset yang lebih penting ketimbang menunggu teman untuk berangkat sama-sama. Dan hasilnya, saya bisa selesai lebih cepat dan diperbolehkan untuk pulang ke Indonesia lebih dulu dibanding mahasiswa lain.

Kebudayaan Jepang

image from sxc.hu uploaded by Ove Tøpfer

Saya menulis dalam posting tersendiri mengenai ini. Saya kagum akan banyak kebudayaan Jepang, dari desain, pemandian air panas, dedikasi mereka terhadap pekerjaan dan filosofi hidup.

Sebelum ke Jepang, saya banyak membaca mengenai Jepang dan puji Tuhan saya diberi kesempatan untuk melihat dan merasakan langsung kebudayaan ini. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga.

Persahabatan

Saya ke Jepang bersama dengan 9 mahasiswa lainnya. Ini adalah pengalaman pertama saya untuk tinggal jauh dari kerabat ketika menempuh pendidikan.

Kami tinggal bersama di satu kompleks apartment. Kami sering menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Tidak dipungkiri ada banyak masalah dan gesekan diantara kami. Saya kira hal ini wajar karena kami harus memahami orang lain yang tinggal bersama kami.

Memahami kebiasaan orang lain, sisi psikologis orang lain dan belajar menghormati keputusan orang lain. Kami belajar dewasa dalam hal hubungan antar manusia. Ini adalah pelajaran berharga bagi kami.

Puji Tuhan, tidak ada masalah besar diantara kami dan kami bisa mempertahankan kekompakan dan menjunjung tinggi nilai persahabatan. Saya bangga memiliki mereka sebagai teman seperjuangan. Mereka luar biasa.

we are family

Saya adalah Duta Negara

Saya tersadar ketika berpartisipasi dalam event-event International Student Festival bahwa saya membawa nama Indonesia ke Negeri Sakura ini. Ini juga merupakan tanggung jawab, karena saya harus menjaga nama baik bangsa serta memberikan hasil yang maksimal selama menempuh pendidikan di sini.

Satu contoh yang paling unik adalah ketika kami menampilkan tarian Saman di suatu gathering International Student. Jujur, saya paling enggan kalau diminta untuk menari. Namun ketika itu saya berpikir bahwa ini adalah untuk Bangsa dan Negara, untuk apa saya merasa risih dan malu?

Saya berlatih bersama teman-teman lain untuk event spesial ini dan Puji Tuhan kami mendapat sambutan yang meriah dari para mahasiswa dari negara lain dan staf Kanazawa University. Berikut video yang berhasil diambil ketita itu:

Makna yang saya peroleh adalah

Saya tidak ada bedanya dengan duta besar, dengan atlit yang berpentas di kejuaraan International, dengan siswa yang bertarung di Olimpiade International atau bahkan duta Indonesia di organisasi penting dunia. Saya adalah orang Indonesia yang memiliki kewajiban bagi bangsa dan negara TITIK.

Timnas Indonesia Kanazawa University

So, saya memang akan memperoleh gelar M.Si dan M.Sc setelah pendidikan S2 saya ini selesai. Namun, saya merasa bahwa gelar tersebut tidaklah sepenting pelajaran nilai-nilai kehidupan yang saya peroleh.

Semoga tulisan ini menjadi berkat.

– be blessed –

2 thoughts on “mata kuliah akademik vs mata kuliah kehidupan

    • Halo Via,

      Kalau untuk uang sekolah di Jepang cukup mahal, sekitar 75 juta an / tahun. Kalau biaya hidup / bulan bergantung dari tiap kota. Kalau di kota saya, Kanazawa, mungkin sekitar 8 jt/bulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s