kejujuran intelektual (antonim dari mencontek)

Cheating basically amounts to pretending to know things one doesn’t actually know. Intellectual honesty requires students to openly admit when they don’t know something – Dr. Tae

Rabu lalu, saya mengawas quiz Fisika Dasar 1A dari sebuah kelas di tingkat pertama Institut Teknologi Bandung. Saya ditugaskan pembimbing saya untuk memberikan quiz karena beliau sedang berada di Ibaraki, Jepang.

Sehari sebelumnya saya membuat soal, lebih tepatnya memilih tiga soal dari buku panduan mahasiswa, yang berarti saya mengambil soal persis sama dengan buku yang mahasiswa pegang.

Soalnya tidak rumit, materinya masih materi tingkat SMU yang bahkan seharusnya mereka bisa kerjakan tanpa harus mengikuti perkuliahan di universitas.

Kedua foto di bawah ini menunjukan suasana ruang kelas pada waktu sekitar 20 menit pertama dari 90 menit waktu yang disediakan :

suasana quiz

suasana quiz

Saya kira suasana serius di 20 menit pertama akan berlangsung hingga selesai. Namun saya salah, saya banyak melihat mahasiswa yang mencontek, memberi jawaban, berdiskusi dengan mahasiswa lainnya.

Saya tidak menegur mereka, saya memang tipe orang yang demikian, jarang menegur mahasiswa yang melakukan kecurangan akademik. Alasan saya sich sederhana, mereka sudah besar, seharusnya tahu mana yang benar dan yang salah.

Saya bingung, soalnya begitu sederhana, konsep dan tidak menggunakan angka yang sulit (tanpa kalkulator pun bisa, tapi ada mahasiswa yang meminta ijin menggunakan kalkulator).

Kecurangan sudah terlampau mengakar di negeri ini.

Kejujuran Intelektual

Di situs resminya Dr. Tae menulis mengenai kejujuran intelektual, yakni dimana para pelaku ilmu pengetahuan, baik guru maupun murid harus menerapkan kejujuran mengenai hal yang mereka kuasai atau tidak.

Dr. Tae berkata :

Cheaters are only punished if they’re caught, and if they’re not, the reward is undeserved higher grades. Students who are honest about what they don’t know are easily “caught” and punished with bad grades. Many teachers do not encourage intellectual honesty but punish it instead.

Atau dalam bahasa Indonesia :

Para pencontek akan dihukum ketika mereka ketahuan, dan jika tidak, mereka akan memperoleh hadiah berupa nilai yang tinggi. Siswa yang jujur mengenai ketidaktahuan mereka dengan mudahnya tertangkap dan terhukum dengan nilai kecil. Banyak guru yang tidak memberikan keberanian pada kejujuran intelektual tapi malah menghukumnya.

Hal ini yang menyebabkan budaya mencontek semakin menjamur. Siswa tidak berani berkata bahwa mereka tidak bisa karena mereka akan terhukum dengan nilai yang buruk, hasilnya : mereka akan mencontek. Hal ini bertentangan dengan perkataan Richard Dawkins mengenai kejujuran intelektual berikut :

Singkat kata, kejujuran intelektual berarti mengakui dengan jujur bahwa kita tidak mengerti akan suatu materi pelajaran dan tidak memanipulasi diri sendiri dengan mencontek atau cara-cara tidak jujur lainnya.

Manipulasi pendidikan tidak berbeda dengan korupsi materi (uang), para pelaku kedua hal tersebut “berpura-pura” memiliki sesuatu padahal mereka sama sekali tidak memilikinya.

Bagaimana mengajarkan kejujuran intelektual ?

Bagaimana solusi untuk masalah ini? Saya kira solusinya terletak pada para guru. Saya secara khusus berbicara mengenai para guru matematika dan sains (fisika, kimia, biologi).

Para guru matematika dan sains harus mengajarkan matematika dan sains sebagai ilmu pengetahuan yang holistik (keseluruhan), bukan hanya seperangkat prosedur mengerjakan soal.

Sedih rasanya melihat guru yang mengajar cara menjawab soal dengan cepat, memberi trik pengerjaan, memberi petunjuk rumus mana yang dipakai untuk persoalan tertentu, tanpa mengajarkan intuisi dan feel sains itu sendiri.

Guru harus memberikan inspirasi bahwa proses mendapatkan ilmu pengetahuan jauh lebih penting ketimbang nilai di ujian. Siswa harus mengerti bahwa mereka harus bekerja keras pada proses, bukan hanya menjadikan nilai sebagai target belaka.

Guru harus menghargai siswa yang mengaku tidak bisa, memuji kejujurannya dan memberikan penjelasan yang lebih kepada siswa tersebut.

Siswa-siswa yang sekarang adalah generasi penerus bangsa, apa jadinya bangsa ini jika dipimpin mereka yang sudah melakukan manipulasi sejak kecil ?

– be blessed –

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s