kekhawatiran tidak akan mempercepat masa studi

Which of you by worrying can add one cubit to his stature? – Matthew 6:27

Sesuatu hal dapat terjadi di luar kendali kita sebagai manusia. Manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan. Jalan Tuhan itu baik adanya, namun terkadang kita sebagai manusia yang tidak dapat mengerti maksud dan kehendak Tuhan.

Tuhan terkadang membawa kita ke situasi yang membuat kita khawatir, deg-degan, membuat tidak bisa tidur dan membuat kita tidak bisa beraktifitas dengan tenang.

Itulah yang saya rasakan selama 3 (tiga) hari belakangan ini. Saya melewatkan suatu proses penting dalam pengajuan beasiswa Double Degree Indonesia-Perancis (DDIP), proses dimana saya harus menyerahkan form pengajuan program tersebut ke FMIPA.

Hasilnya, FMIPA mengajukan 12 nama yang menjadi kandidiat penerima beasiswa DDIP di luar nama saya. Ketika mengetahui hal ini, rasanya pundak yang sudah sakit ini ditimpa dengan suatu beban yang berat.

Proses administrasi itu saya benar-benar tidak tahu. Saya sudah mendaftar DDIP ke Sekolah Pasca Sarjana ITB dan ke situs DIKTI. Tapi memang yang terpenting adalah mengajukan melalui FMIPA. Kedua proses yang lain seakan-akan tidak berarti dan lucunya, ketika pendaftaran ke situs DIKTI, saya tidak mendapat dokumen yang dapat dicetak atau bahkan bukti bahwa telah melakukan input data registrasi. Suatu sistem pendaftaran online yang aneh.

Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Saya tidak bisa menyalahkan teman-teman yang tidak memberitahu saya bahwa ada form yang harus diisi. Saya juga tidak bisa menyalahkan pendaftaran online di situs DIKTI. Hal ini terjadi karena saya tidak mencari informasi sendiri dan hanya berharap dari info teman-teman.

Saya lalu berbicara dengan wakil dekan FMIPA mengenai kemungkinan menyusulkan berkas saya. Beliau dan KaProDi program S2 saya akan berusaha menyusulkan berkas saya, tapi mereka tidak bisa berjanji apa-apa.

Saya hanya bisa berserah menghadapi masalah ini.

kekhawatiran tidak akan menyelesaikan masalah

Saya begitu khawatir dan takut kalau-kalau saya memang tidak akan bisa ikut program itu tahun 2012 mendatang. Saya terlalu memikirkan hal ini dan hasilnya sekarang saya menderita sariawan (sariawan katanya bisa dipicu karena stress).

Saya berusaha tenang malam ini, selama 3 hari emosi saya tidak stabil, apalagi ditambah pekerjaan yang sangat menumpuk. Singkat kata, fisik, pikiran dan emosi saya terkuras.

Saya lalu membaca perikop di Alkitab yang sebetulnya sudah saya tahu tapi saya membaca ulang suatu ayat di perikop tersebut dengan Alkitab versi NKJV (New King James Version), yaitu

Which of you by worrying can add one cubit to his stature? – Matthew 6:27

Ada dua kata yang menyita perhatian saya :

  • Cubit : an ancient measure of length, approximately equal to the length of a forearm.
  • Stature : a person’s natural height, importance or reputation gained by ability or achievement.

Dua kata ini membuat perbedaan yang mendasar dengan arti dalam bahasa Indonesia, arti dalam bahasa Indonesia :

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Dalam bahasa Inggris, arti ayat ini begitu spesifik, berbicara mengenai importance or reputation gained by ability or achievement. Arti yang lebih spesifik, berbicara mengenai reputasi kita atau pencapaian kita.

Dengan kata-kata saya sendiri  ayat ini berarti : kekhawatiran tidak akan menambah apapun pada reputasi atau pencapaian kita.

kekhawatiran saya tidak akan mempercepat masa studi 

Setelah saya merenung, bertanya pada diri sendiri, saya menemukan bahwa saya memang sudah khawatir terhadap kelangsungan program S3 (Doktor) yang saya jalani sekarang.

Bahkan sebelum perkuliahan dimulai, saya mengalami kekhawatiran dan krisis kepercayaan diri. Takut bahwa saya tidak mampu menjalani jenjang pendidikan ini.

Beasiswa Voucher ITB yang saya peroleh ternyata tidak menghilangkan rasa kekhawatiran. Dari sini bahkan saya bisa bilang kepada diri sendiri bahwa saya (pada kasus ini) adalah orang yang tidak tahu bersyukur. Karena himpitan kekhawatiran (yang sebetulnya tidak beralasan), saya menjadi kurang bersyukur. Dan kekhawatiran tersebut bertambah dengan masalah beasiswa DDIP ini.

Saya bersyukur Tuhan mengingatkan saya pada ayat ini, dan saya tersadar bahwa kekhawatiran tidak akan menyelesaikan masalah, kekhawatiran tidak akan membantu saya dalam kuliah dan mempercepat masa studi.

kekhawatiran membuat saya lupa akan apa yang harus saya lakukan

Bisa dikatakan bahwa saya telah menjalani start buruk dalam program S3 saya. Suatu anti klimaks setelah saya menyelesaikan program master dengan brilian. Kekhawatiran dan krisis kepercayaan diri membuat saya lupa untuk mengerjakan apa yang harusnya saya kerjakan.

Memang demikian :

kekhawatiran akan masa depan, membuat kita lupa akan apa yang harus kita kerjakan di masa kini.

Saya terhentak ketika merenungi hal ini. Hingga kini saya bahkan belum membaca ulang bahan kuliah yang sudah disampaikan oleh dosen di kampus. Saya mengerjakan PR hanya bermodalkan logika sederhana serta pengalaman di masa studi master dan sarjana.

Sudah saatnya saya harus berbenah diri. Saya yakin bahwa kejadian ini Tuhan perkenankan terjadi dalam kehidupan saya. Bisa saja Tuhan memberikan kejadian ini untuk saya alami agar saya lebih berserah kepada-Nya, menyerahkan segala kekuatiran saya kepada-Nya dan mulai mengerjakan bagian saya.

Terkadang kita sebagai manusia sok tahu, mencoba mengambil bagian Tuhan untuk kita kerjakan, padahal kita lupa akan kewajiban kita sendiri.

Semoga tulisan ini menjadi berkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s