my first ever luwak coffee at Podjok Kopi BEC

I believe humans get a lot done, not because we’re smart, but because we have thumbs so we can make coffee.  – Flash Rosenberg

Kamis kemarin (15 Sept’11), saya iseng makan di food court BEC (Bandung Electronic Center). Makanan favorit saya akhir-akhir ini adalah penyet. Namun saya merasa kecewa pada kios penyet yang biasa saya pesan. Pelayanannya begitu buruk, pelayannya ngobrol sendiri, tidak ada ucapan selamat datang dan yang paling mengecewakan, mereka memberikan pesanan yang salah. Saya memesan lele penyet, eh yang dikasih malah ayam penyet.

Saya adalah tipe orang yang menerima saja apa yang saya terima dari orang lain. Saya juga tipe orang yang tidak banyak komplain atau mengeluh tentang makanan yang saya pesan.

Untuk mengobati ke-BT an saya (pada saat itu, emosi saya sedang tidak karuan berkaitan dengan problem di beasiswa saya), saya ingin minum secangkir kopi. Nah, di dekat tempat saya duduk ternyata ada kedai kopi yang bernama “Podjok Kopi”. Kedai ini sebetulnya sudah saya amati sejak saya sering makan di food court BEC, tapi saya belum pernah mencicipi menu di kedai tersebut.

Saya lalu mendatangi kedai itu dan ternyata kedai itu memiliki menu kopi luwak. Jenis kopi yang katanya enak, langka dan mahal ini rasanya pantas saya coba untuk mengobat kekesalan saya.

Saya lalu bertanya mengenai ketersediaan kopi itu, penjaga kedai itu menjawab “ada” dan langsung memberitahu harganya, yakni Rp. 67.500,-. Dalam hati saya berkata,

wow, mahal sekali? tapi gak ada salahnya deh buat mencoba

Saya adalah tipe orang yang percaya pada harga tinggi = kualitas tinggi. Tanpa pikir panjang saya langsung memesan kopi itu. Saya kira, kopi luwak akan langsung disajikan dalam cangkir, ternyata, mas penjaga kedai mendatangi meja saya dan menumbuk kopi dengan alat penumbuk yang unik.

Saya pun menangkap momen yang langka ini dengan kamera handphone

proses menumbuk kopi luwak

Sambil menumbuk, mas penjaga itu bertanya kepada saya:

suka ngopi mas?

Saya yang ketika itu sedang internetan, langsung menanggapi mas penjaga tersebut. Sungguh suatu sapaan yang tulus, berbeda dengan penjaga di tempat saya membeli makanan.

Obrolan pun berlanjut ketika saya bertanya mengenai asal kopi luwak tersebut serta koleksi kopi milik kedai Podjok Kopi. Saya menikmati obrolan tersebut.

kopi siap dituang ke dalam cangkir

 

a cup of luwak coffee

Setelah mengobrol, mas penjaga kedai mempersilakan saya untuk menikmati kopi luwak. Saya pun menuangkan kopi ke cangkir, lalu menambahkan sedikit gula. Aroma kopi luwak berbeda dengan kopi biasa, terkesan memiliki tingkat kafein yang lebih rendah dari kopi biasa.

Setelah saya mencicipi kop i tersebut, saya bisa berkata :

Rasa kopi luwak luar biasa, sangat berbeda dengan kopi yang biasa saya minum. Terlebih dengan mas penjaga yang sangat welcome. Pelayanan yang luar biasa.

Saya tidak dibayar untuk menulis post ini, yang saya tulis di sini memang demikian adanya. Saya adalah tipe orang yang akan berkata jujur dan menyebar ke banyak orang mengenai rasa suatu makanan/minuman serta pengalaman menikmati hidangan di suatu tempat.

Pengalaman pertama menikmati kopi luwak rasanya menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Pada saat itu, apa yang saya alami benar-benar mengubah mood saya ketika itu.

Lain kali saya akan berkunjung dan mencoba varian kopi lain.

– be blessed –

4 thoughts on “my first ever luwak coffee at Podjok Kopi BEC

  1. Thank you buat komentar untuk podjok kopi, kalau boleh saya mau undang untuk ngbrl santai sambil ngopi di podjok kopi. My whatsapp 081214383888 okky ho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s