mengapa (saya) sekolah sampai S3 ?

mao sekolah sampe “S” berapa ? “S7” ato S-“teler” ? – pertanyaan seorang teman

Kurang lebih satu bulan saya tidak menulis blog. Baik di gratefulnote, my personal blog atau pun di blog ini. Kesibukan di kampus, mengajar, penelitian, pelayanan di Gereja serta les bahasa Perancis yang memakan waktu 16 jam / minggu telah membuat saya kelelahan. Kehidupan yang baru ini membuat saya kewalahan. Akibatnya, jam makan dan istirahat menjadi tidak beraturan dan beberapa kali saya terserang flu (yang terakhir hari ini). Kehidupan menjadi mahasiswa S3 ini memerlukan penyesuaian diri yang tidak mudah. Dan… terkadang terpikir untuk berhenti saja lalu mencari pekerjaan yang bisa memberi saya penghasilan tetap.

Saya pernah mendengar mengenai masa transisi di setiap kehidupan manusia. Bahwa kita sebagai manusia tidak terlepas dari perubahan hidup. Perubahan hidup itu akan menjadi bagian kehidupan kita dimana kita akan terbiasa dengan kehidupan itu setelah 21 hari kita menjalani perubahan itu. Misalkan, ketika kita ditinggalkan seorang yang dikasihi, pindah ke lingkungan pekerjaan yang baru, pindah ke sekolah baru atau pindah ke suatu kota yang baru, maka kita minimal memerlukan waktu 21 hari untuk menjadi terbiasa dengan perubahan itu.

Puji Tuhan, saya sudah melewati fasa itu. Dua hari yang lalu saya sudah mulai merasa terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Ketika S1 pun saya mengalami hal seperti ini, bahkan ketika itu penyesuaian dirinya sangat lama, sekitar 1 1/2 tahun hingga saya terbiasa dan bisa memperbaiki nilai akademik saya.

Saya lalu mempelajari apa yang saya alami selaa satu bulan belakangan ini. Dan saya mengambil kesimpulan bahwa saya telah kehilangan gambaran besar mengenai apa yang sedang saya kerjakan. Rutinitas tersebut telah membuat saya jenuh, padahal rutinitas itu memang perlu dalam perkembangan studi dan karir saya.

Lambat laun, saya mulai menggali motivasi yang hilang itu, pertanyaan sederhana yang saya ajukan kepada diri sendiri adalah (dan ternyata pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh mahasiswa S3 / PhD, check here):

apa yang saya lakukan di sini?

Pertanyaan itu sangatlah fundamental, sehingga saya harus menyelidiki diri sendiri, berbicara dengan diri sendiri. Padahal, sesuai dengan quote di awal post ini, pertanyaan itu sering saya jawab dengan mudahnya. Namun ternyata, saya sendiri belum mengerti tentang jawaban saya sendiri sebelum saya mengalaminya.

So, anggaplah post ini adalah curahan dan jawaban hati saya, Why should I go Ph.D school ?

  1. Kepedulian saya terhadap pendidikan, terutama jenjang SD – SMU.
     Ini adalah alasan terpenting saya. Lalu, “mengapa saya tidak menjadi guru di sekolah saja ?”. Saya berpikir bahwa menempuh pendidikan tinggi hingga S3, memberikan saya pengertian yang mendalam tentang matematika dan sains (terutama Fisika) sehingga saya bisa mengajarkannya pada guru-guru dan murid-murid SD – SMU. Saya juga berprinsip bahwa menempuh pendidikan hingga S3 bukan menjadikan pengajaran saya menjadi lebih sulit, malah menjadikan pengajaran itu menjadi lebih sederhana dan jelas. Lalu saya juga berpikir bahwa dengan bersekolah hingga S3 bahkan double gelar dengan Universitas luar negeri dapat memberikan saya suatu kredibilitas yang tidak usah diragukan lagi, lingkaran pengaruh saya bisa menjadi lebih besar (meminjam istilah dari buku 7 Habits – Stephen Covey).
  2. Karena memang gada tempat lain. Universitas adalah satu-satunya tempat “masuk akal” bagi saya.
    Rasanya ini adalah alasan yang paling penting kedua, konyol memang (gimana ga konyol? “gada tempat lain” adalah jawaban yang aneh.), but seriously tidak ada tempat yang lebih masuk akal bagi saya setelah lulus S1 dan S2 selain kembali ke Universitas untuk belajar dan mengajar.
  3. Saya tidak akan betah bekerja di perusahaan.
    Sebetulnya keputusan untuk melanjutkan ke jenjang S3 baru terpikir bulan April 2011 silam, sebelumnya saya ingin bekerja di perusahaan, target saya ketika itu adalah British Petroleum (BP). Ketika saya berkata tentang rencana bekerja di BP  kepada teman lab di Jepang, dia berkata, “are you sure ?”. Sensei saya di Jepang berkata, “there will be no freedom for you in a company. But working in university and doing research, you will get unlimited freedom.”. Lalu dosen pembimbing saya di ITB juga berkata, “bekerja di perusahaan hanya menjadikanmu mengerjakan hal-hal yang sifatnya administratif, gada kebebasan”. Saya pun tersadar dengan kenyataan itu, serta melihat banyak teman yang bekerja di perusahaan, surely no freedom for doing research. Walaupun penghasilan di perusahaan lebih besar dibandingkan menjadi akademisi, saya tidak tertarik karena saya tidak akan bebas mengerjakan riset.
  4. Saya sudah sangat nyaman dengan lingkungan Universitas.
    Tujuh tahun saya berada di lingkungan Universitas dan saya belum bosan. Ada perasaan puas dan nyaman ketika datang pagi-pagi ke kampus, melihat ruang kelas, melihat para mahasiswa, melihat perpustakaan dengan tumpukan buku, saya tidak pernah bosan dengan hal tersebut. University is my second home.
  5. Saya suka belajar dan mengajar.
    Ketimbang melakukan hal-hal yang rutin dan sifatnya administratif, saya lebih baik belajar banyak hal yang baru, melakukan penelitian, terpukau dengan ilmu pengetahuan dan mengajarkannya bagi para mahasiswa, rekan sekerja dan anak-anak usia sekolah. Produk dari pendidikan tinggi memang seharusnya begitu, bukan ? Investasi dalam hal pengetahuan sehingga mampu memperkaya orang lain dengan apa yang kita tahu.
  6. Berpetualang ke luar negeri.
    Memang bagi mereka yang bekerja di perusahaan atau melakukan bisnis sendiri bisa membawa mereka ke luar negeri, tapi dari jalur pendidikan hal itu sangatlah mungkin. Apalagi bukan dengan uang sendiri, tapi dari beasiswa dan dana penelitian. Menempuh pendidikan selama 1 tahun di Jepang membuat saya ketagihan untuk belajar kembali di luar negeri, melakukan penelitian dengan orang asing dan tentunya membawa nama negeri tercinta Indonesia.
  7. Menjadi berkat dengan prestasi akademik.
    Setiap orang yang berkenalan dengan saya kebanyakan akan terheran-heran dengan usia saya yang 25 tahun ini tapi sedang menempuh pendidikan S3 (terlebih ketika mereka tahu bahwa jurusan saya adalah Fisika). Mereka lalu bertanya mengenai alasan dan pengalaman saya menempuh pendidikan di luar negeri serta penelitian yang saya lakukan. Saya merasa hal seperti ini memberi motivasi bagi mereka untuk belajar lebih serius, apalagi ketika saya bercerita mengenai asiknya belajar di luar negeri. Prestasi dan perbuatan kita berkata lebih keras dibandingkan perkataan kita. Kita memotivasi bukan hanya dengan perkataan, tapi dengan perbuatan dan prestasi.

Saya bersyukur bahwa saya telah memilih jalan hidup yang sesuai dengan apa yang saya suka dan memberi berkat bagi banyak orang. Walaupun sekarang sedang dalam masa tersulit dalam karir pendidikan, saya yakin saya bisa melewati ini dan meraih gelar ganda di jenjang S3.

“Being a graduate student is like becoming all of the Seven Dwarves. In the beginning you’re Dopey and Bashful. In the middle, you are usually sick (Sneezy), tired (Sleepy), and irritable (Grumpy). But at the end, they call you Doc, and then you’re Happy.” – Unknown

– be blessed –

2 thoughts on “mengapa (saya) sekolah sampai S3 ?

  1. saya adalah seorang jurnalis sejak muda di kota Pati Propinsi Jawa Tengah ( Indonesia). tetapi usia saya sekarang lebih 2 tahun dari setengah abad. tua sekali memang.
    namun keinginan saya untuk mendapat title S3 terus saja bergelora. sementara saya harus sadar bahwa pendapatan tidak terlalu besar bahkan teramat kecil.
    nah, bagaimanakah cara saya supaya bisa mendapat gelar S3 dalam bidang “Hukum Lingkungan” yang saya impikan tersebut ?.
    mudah mudahan ada yang menolong saya.
    salam hormat
    CUK CONK

    • Salam kenal, Pak.

      Setahu saya, untuk S3 tidak mengenal usia koq. Ayah saya juga, sekarang umurnya mirip dengan bapak tapi sedang studi S3 di bidang ilmu pemerintahan.

      Rasanya, Bapak harus proaktif untuk mencari beasiswa dan program studi S3 di universitas-universitas yang ada.

      Dalam beasiswa, kita tidak bisa hanya menunggu, tapi harus proaktif mencari.

      Salam,

      Chris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s