model pendidikan : model industri/fast food atau model pertanian

Disadari atau tidak, pendidikan dasar sekarang (SD, SMP dan SMU) mengadopsi model industri/fastfood. Produk pendidikan yang adalah para siswa terstandarisasi dengan cara yang sama, metode yang sama dan evaluasi yang sama.

Perhatikan sistem industri dan fast food. Semua bahan baku diperlakukan dengan cara yang sama untuk menghasilkan produk yang sama. Lalu produk tersebut melalui proses Quality Control (QC) untuk mengevaluasi produk tersebut.

Pendidikan sekarang pun sama. Sistem pendidikan memukul rata bagaimana cara mendidik siswa. Sistem pendidikan menekankan pada kemampuan otak kiri. Semua kurikulum di muka bumi ini menekankan pada kemampuan matematika dan bahasa. Lalu Quality Control berupa ujian dan evaluasi yang menjadi patokan soal layak/tidaknya produk pendidikan.

Sistem pendidikan mencetak didikannya untuk menjadi orang dewasa yang juga menggunakan otak kirinya. Dokter, pengacara, profesor, akuntan, ahli komputer adalah pekerjaan-pekerjaan yang merupakan cetakan sistem pendidikan sekarang.

Ini adalah model industri dan fastfood, semuanya terstandarisasi. Tanpa sadar, sistem ini menjadikan manusia menjadi barang. Karena industri menghasilkan barang, bukan? demikian halnya dengan pendidikan saat ini. Produk pendidikan seperti memiliki bar code di kepala mereka, berupa cap QC (Quality Control).

Adakah model yang lebih baik dari ini?

Ya, model agriculture atau pertanian.

Perhatian ketika kita bercocok tanam. Semua yang kita perlukan untuk mengembangkan suatu tanaman, harus sesuai dengan karakeristik tanaman tersebut, bukan?

Jika saya ingin mengembangkan pohon sakura di negara tropis seperti Indonesia jelas tidak mungkin. Demikian halnya dengan banyak benih tanaman yang lain, sang petani harus mengerti bagaimana cara untuk mengembangbiakan benih tanaman tersebut. Dengan kata lain, dalm model ini kita tidak bisa memukul rata modal awal kita, dalam hal ini benih tanaman. Kita harus mengembangkan setiap benih dengan cara khusus.

Bayangkan jika pendidikan mengadopsi sistem seperti ini. Saya membayangkan anak yang diberi karunia Tuhan di bidang olahraga memiliki ruang kelas yang luas berupa lapangan untuk berolahraga.

Anak yang diberi karunia Tuhan untuk menari memiliki ruang kelas berupa sanggar tari.

Dan anak yang diberi karunia Tuhan dalam bidang sains, memiliki ruang kelas berupa laboratorium yang bisa menunjang mereka belajar.

Setiap anak itu khusus, sama halnya dengan setiap benih yang ingin kita kembangbiakan. Tidak bisa diperlakukan sama dan tidak bisa dievaluasi dengan cara yang sama (quality control).

Tulisan singkat ini terinspirasi oleh speech dari Sir Ken Robinson, TED.com, saksikan dua TED talk beliau berikut :

– be blessed –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s