Love to Learn, Learn to Love

Dunia bergerak semakin cepat dalam hal teknologi dan informasi. Hal ini disadari oleh banyak orang, orang-orang pun semakin gencar untuk “menyamakan” kecepatan hidupnya dengan dunia seperti ini. Para pekerja bekerja lebih keras dan para calon pekerja belajar semakin giat, karena mereka sadar bahwa siapa yang tidak bisa mengikuti arus pergerakan dunia akan tertinggal jauh. Tertinggal dalam aspek ekonomi, sosial dan pengetahuan.

Pendidikan menjadi jawaban atas trend dunia seperti ini. Siapa yang memiliki pendidikan yang tinggi, baik dalam aspek kognitif maupun karakter, dialah yang akan memperoleh kedudukan dalam masyarakat. Lalu, bagaimana idealnya suatu penyelenggaraan pendidikan? Apa yang harus diajarkan dan ditanamkan pada peserta didik? Kompetensi semacam apa yang harus dimiliki para pengajar? Rasanya pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang menjadi pertanyaan di dunia pendidikan masa kini.

Para orang tua pun tak lepas dari trend dunia yang berkembang pesat ini. Mereka menghendaki agar anak-anak mereka mampu bersaing di masa depan. Memperoleh pendidikan yang berkualitas tinggi menjadi suatu kebutuhan yang wajib dipenuhi bagi anak-anak mereka. Tak heran, investasi yang harus dikeluarkan untuk pendidikan pun menjadi tidak sedikit.

Pertanyaannya pun sama, pendidikan macam apa yang menjadi jawaban atas trend dunia dan pendidikan masa kini?

Suatu penyelenggaraan pendidikan harus memiliki visi yang diwujudkan dalam motto yang menarik untuk menjadi “brand” / merek dagang. Brand atau merek dagang bukan sekedar untuk mencari pangsa pasar sebesar-besarnya, namun yang terpenting adalah masalah identitas. Identitas ini bicara mengenai siapa sesungguhnya penyelenggara pendidikan tersebut serta visi/cita-cita/semangat apa yang hendak disampaikan kepada para orang tua dan peserta didik.

“Love to Learn, Learn to Love” adalah visi yang disampaikan dalam bentuk motto yang menarik dari BPK Penabur Cimahi. Motto yang mudah diingat karena kata-katanya tidak terlalu panjang dan berakronim L2L ini terpampang jelas di sekitar sekolah TKK, SDK dan SMPK BPK Penabur ini.

Love to Learn

Bagian pertama yang berarti “mencintai belajar” tentu menjadi aspek wajib dari pendidikan. Suatu semangat mencintai belajar adalah dambaan para penyelenggara pendidikan. Para peserta didik memang seharusnya memiliki kemandirian dalam belajar. Mereka akan mandiri apabila mereka menyukai dan mencintai proses belajar. Hasil akhir berupa nilai dan prestasi hanyalah sekedar hasil akhir. Mereka harus menyukai proses belajar itu sendiri.

Hal ini bisa dicapai dengan memberi pendidikan berupa inspirasi bagi para peserta didik. Pendidikan yang hanya menekankan pada pengajaran tidak akan memberi banyak inspirasi pada peserta didik. Mereka akan memandang itu sebagai pengetahuan yang “harus” dikuasi untuk memperoleh suatu hasil. Akibatnya mereka menjadi benci terhadap proses belajar itu sendiri.

Solusinya  adalah pendidikan harus menekankan pada pemberian inspirasi agar peserta didik memiliki kemauan untuk mencari pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, penyelenggara pendidikan termasuk kepala sekolah dan guru memegang peranan penting. Mereka harus menjadi inspirasi dari para peserta didik sehingga peserta didik dapat mencintai proses belajar, Love to Learn.

Learn to Love

Bagian kedua ini berarti “belajar mencintai”. Rasanya aspek ini yang seringkali dikesampingkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Hal ini rasanya tersirat dalam suatu kutipan berikut:

An educational system isn’t worth a great deal if it teaches young people how to make a living but doesn’t teach them how to make a life.  ~Author Unknown

atau dalam Bahasa Indonesia (terjemahan bebas):

Suatu sistem pendidikan tidaklah berharga apabila sistem itu mengajarkan generasi muda tentang bagaimana mencari nafkah tapi tidak mengajarkan mereka tentang membuat suatu kehidupan.

Aspek “pengetahuan” saja tidak cukup dalam suatu penyelenggaraan pendidikan. Peserta didik secara sadar harus mengetahui alasan mengapa mereka harus belajar, yakni untuk memberikan suatu sumbangan bagi kehidupan. Mereka harus belajar untuk mencintai kehidupan, bukan hanya untuk bertahan hidup.

Mereka juga harus sadar bahwa sebagai ciptaan Tuhan, tugas merekalah untuk menjadi wakil Allah di bumi ini untuk menjadikan dunia ini menjadi tempat yang lebih baik untuk didiami.

Para penyelenggara pendidikan kembali harus memberikan inspirasi mengenai semangat ini. Para peserta didik harus diarahkan untuk menemukan kecintaan mereka terhadap kehidupan serta menggunakan apa yang mereka miliki untuk menjadi berkat bagi kehidupan.

Love to Learn, Learn to Love

Dalam penyelenggaraan pendidikan, kedua hal ini harus berjalan beriringan. Generasi penerus bangsa ini harus mencintai proses belajar serta belajar untuk mencintai kehidupan. Pengetahuan menjadi bekal mereka untuk kehidupan di masa mendatang, tapi bukan hanya sekedar untuk bertahan hidup, mereka harus menjadi berkat bagi kehidupan. Caranya adalah bahwa mereka harus memiliki suatu alasan yang kuat untuk belajar.

Love to Learn, Learn to Love.

– be blessed –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s