Bagaimana mengajak 35 orang dalam 2 minggu untuk memberikan donasi beasiswa kakak asuh

A good head and good heart are always a formidable combination. But when you add to that a literate tongue or pen, then you have something very special. – Nelson Mandela

Sekitar 3 minggu yang lalu, saya menyaksikan sebuah TEDx talk yang sangat inspiratif, dimana sang pembicara berhasil mengumpulkan donasi untuk membuat sebuah sekolah di Afrika dalam waktu 3 jam.

TEDx talk tersebut sangat menginspirasi hingga saya penasaran untuk mencoba apa yang dilakukan oleh sang pembicara, yakni Taylor Conroy. Sesuatu yang sangat menginspirasi bukan hanya mengubah cara kita berpikir, namun juga memberikan suatu keinginan untuk bertindak, kira-kira itu yang terjadi pada saya.

Saya sudah memiliki suatu tema besar untuk ditawarkan kepada orang lain mengenai donasi pendidikan, yakni pemberian beasiswa kakak asuh di almamater saya yaitu SMAN 2 Cimahi. Donasi ini dicetuskan oleh Ikatan Alumni SMAN 2 Cimahi, dimana para alumni (kakak asuh) mengumpulkan donasi untuk membiayai siswa/i (adik asuh) yang memiliki keterbatasan ekonomi namun berprestasi di SMAN 2 Cimahi.

Sebelum saya mencoba mengajak teman-teman saya, saya sendiri harus sudah menjadi kakak asuh. Puji Tuhan, saya mendaftarkan diri sebagai kakak asuh untuk membiayai biaya pendidikan penuh seorang adik asuh yang saat ini duduk di kelas X.

Menurut saya, tindakan ini sangatlah penting. Saya sebetulnya sudah mengetahui pemberian beasiswa ini sejak bulan September 2011. Namun, saya masih belum mengajak teman-teman saya, karna ya saya berpikir :

kalau saya sendiri tidak memulai menjadi kakak asuh, bagaimana logikanya saya bisa mengajak teman untuk mengikuti kegiatan yang saya sendiri belum berpartisipasi ?

And you know what? Setelah menjadi kakak asuh dan memberikan donasi, perasaan yang saya peroleh sangatlah berbeda, perasaan puas dan damai… This is the feeling that money can’t buy.

Setelah saya sudah resmi menjadi kakak asuh, saya lalu memiliki keinginan mengajak teman-teman lain dengan menerapkan cara-cara dari video di atas.

Ada keragu-raguan dalam diri ketika hendak mencoba, tapi saya tidak akan tahu hasilnya kalau tidak berani mencoba.

So, I give it a try…

Dua posting di dua grup Facebook

Saya mencari komunitas yang saya ikuti dan memiliki keterikatan dengan almamater. Ada dua grup yang saya jadikan target, yaitu grup angkatan saya, SMAN 2 Cimahi 2004 dan grup anak-anak alumni SMAN 2 Cimahi yang berkuliah di ITB, Ganesha 2 Cimahi. Isi dari posting saya hanya terdiri dari 4 kalimat berita dan 1 kalimat tanya:

Saya dan sekitar 100 alumni SMAN 2 Cimahi dari berbagai angkatan sedang membiayai 10 siswa/siswi kurang mampu di SMAN 2 Cimahi untuk membiayai SPP mereka. (Masih ada puluhan siswa/siswi yang menunggu untuk dibantu).
10 orang saja yang komit dari grup Ganesha 2/SMAN 2 Cimahi 2004 ini untuk mengumpulkan Rp. 22.500 / bulan bisa membiayai seorang anak tidak mampu di SMAN 2 Cimahi… (jumlah ini bisa kita dapatkan dari potongan Rp. 1.000/hari untuk kebutuhan kita seperti makan, beli baju, pulsa, gadget, rokok).
Menyisihkan Rp. 1.000,- / hari rasanya tidak berat untuk kita… dan bisa memberikan senyuman pada adik-adik yang tidak mampu kita di SMAN 2 Cimahi.
So, siapa 10 orang pertama dari grup ini yang ingin ikut dalam program kakak asuh ini ?

Hasilnya luar biasa, banyak tanggapan positif yang saya peroleh dari teman-teman. Dalam 2 hari, terkumpul sekitar 20-an alumni yang mau berkomitmen untuk menjadi kakak asuh. Saya lalu membagi grup yang berisi 5 orang kakak asuh dengan donasi Rp. 50.000 / bulan dan ada juga yang berisi 10 orang kakak asuh dengan donasi Rp. 22.500,-

Berikut beberapa komentar mereka :

This slideshow requires JavaScript.

Yang membuat saya heran adalah tidak ada yang bertanya lebih lanjut mengenai kebenaran program ini kepada saya. Artinya mereka yang menyatakan diri ikut percaya 100% pada apa yang saya katakan. Saya rasa hal ini bisa terjadi karena adanya rasa saling percaya dan semasa sekolah dulu, saya mengenal baik beberapa diantara mereka dan saya cukup memiliki reputasi yang baik di mata mereka. So, that’s called trustworthiness.

Hari-hari berikutnya makin banyak teman-teman yang ingin memberikan donasi, bahkan ada yang sempat protes ketika saya lupa memasukan update nama-nama kakak asuh. Dari sini saya belajar bahwa

Setiap orang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, mereka hanya perlu diinspirasi. Perlu satu orang saja yang berani berdiri, memulai dari diri sendiri lalu mengajak orang-orang itu.

Hal ini bukannya tidak beralasan, banyak dari teman-teman yang mungkin sudah mengetahui mengenai program ini tapi belum menyumbang karena memang angkatan 2000-an ke bawah belum ada yang memulai, dari sinilah saya belajar bahwa setiap orang memerlukan seorang pemimpin yang bisa mengajak mereka untuk berkontribusi.

So, what are the secrets?

Saya baru menceritakan pengalaman saya yang luar biasa. Luar biasa karena baru pertama kali saya seolah-olah berperan sebagai tenaga marketing namun dalam kegerakan sosial, luar biasa karena saya mencoba secara langsung cara-cara yang saya pelajari dari sebuah TEDx Talk.

Di video itu terdapat 5 kriteria untuk menjadikan pesan kemanusiaan kita didengar oleh orang dan orang tersebut bertindak secara nyata untuk mendukung misi kemanusiaan yang kita suarakan.

Lima kriteria itu adalah :

  1. Group Mentality
    Kita sebagai manusia senang dan bersemangat ketika berada dalam suatu grup dengan manusia lain. Hal ini juga berlaku untuk grup misi kemanusiaan dalam hal ini memberikan beasiswa pada siswa/i di SMAN 2 Cimahi. Dalam pesan saya, hal ini terlihat di awal kalimat, yaitu :

    “Saya dan sekitar 100 alumni SMAN 2 Cimahi dari berbagai angkatan…”

  2. Tangible Outcome (Hasil yang nyata)
    Orang-orang yang memberikan donasi secara sadar atau tidak sadar menginginkan representasi visual/nyata dari apa yang mereka bantu. Mereka perlu memiliki gambaran di benak mereka bahwa sejumlah uang/barang yang mereka donasikan benar-benar menjadi suatu manfaat yang nyata dan dapat menjadikan dunia (minimal seseorang) menjadi sedikit lebih baik. Di pesan saya :

    “…mengumpulkan Rp. 22.500 / bulan bisa membiayai seorang anak tidak mampu di SMAN 2 Cimahi…”

  3. Micro Giving (Pemberian kecil)
    Orang-orang perlu diberikan suatu gambaran konkrit tentang betapa ringannya memberikan sesuatu, Informasi harus diberikan se-nalar mungkin dan selogis mungkin. Info seperti ini memberikan suatu gambaran di benak mereka bahwa semakin kecil donasi yang diberikan, semakin tidak terasa pula efeknya pada kehidupan pribadi mereka. Di pesan saya :

    “10 orang saja yang komit dari grup Ganesha 2/SMAN 2 Cimahi 2004 ini untuk mengumpulkan Rp. 22.500 / bulan …(jumlah ini bisa kita dapatkan dari potongan Rp. 1.000/hari untuk kebutuhan kita seperti makan, beli baju, pulsa, gadget, rokok).”

    Donasi per-10 orang untuk 1 orang siswa terlihat sangat ringan dan memberikan pula efek Group Mentality. Rp. 22.500,- / bulan saya nalarkan ke dalam Rp. 1000,-/hari (yang sebetulnya sudah lebih dari cukup), kalimat selanjutnya memberikan gambaran tentang dari bagian kehidupan yang mana, mereka bisa memotong Rp.1000,- per-hari. Dan kalau diperhatikan, item yang saya sebutkan adalah hal logis yang bisa masuk ke dalam nalar sederhana, akan menjadi blunder bagi saya kalau saya menyebutkan: susu anak, pembelian obat dsb (karena hal yang ini adalah hal yang pokok).

  4. Personal Connection (hubungan pribadi)
    Rasanya hal ini adalah hal yang terpenting. Adanya hubungan pribadi dari saya sebagai yang mengajak berpartisipasi dengan teman-teman yang saya ajak menjadi dasar yang membuat mereka percaya pada hal yang saya bicarakan. Reputasi di sini sangatlah penting. Sulit bagi kita untuk mengajak berpartisipasi apabila kita memiliki reputasi buruk di depan orang lain.

    Note :  Taylor Conroy berargumen bahwa hal ini yang menyebabkan kegagalan dalam pencarian dana untuk kemanusiaan. Di mana seorang/sebuah badan yang mencari dana kemanusiaan tidak mendapat cukup banyak respon dari banyak orang, walaupun mereka beriklan sangat hebat (seperti mencantumkan sebuah gambar/foto yang membuat kita iba/merasa kasihan). Sebagai gambaran : berapa banyak dari kita yang menghindar saat didatangi para aktifis kemanusiaan?

    My Important Note : Faktanya dari kegiatan kakak asuh ini, ada 2350 anggota di grup Ikatan Alumni SMAN 2 Cimahi, tapi toh tidak semua yang berpartisipasi. Kalau semua berpartisipasi, alangkah indahnya dunia ini (setidaknya di SMAN 2 Cimahi). Hal yang menurut saya kurang adalah hubungan pribadi antar angkatan dan ditambah tidak ada seseorang yang berani memulai di angkatannya, berani mengajak teman-temannya yang lain.

  5. Recognition (Pengakuan)
    Hanya hal ini yang kurang dalam pesan saya. Pengakuan bagi teman-teman yang memberikan donasi, (baru/hanya) berupa penulisan nama di setiap update informasi mengenai kakak asuh ini. Saya berencana membuat suatu iklan singkat mengenai kakak asuh ini dimana iklan ini juga menjadi suatu bentuk pengakuan bagi mereka yang membantu.

    Don’t get me wrong, pengakuan di sini bukan berarti saya dan teman-teman gila hormat, namun sebagai sebuah penghargaan bagi apa yang sudah para kakak asuh lakukan. Suatu penghargaan yang tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang sudah mereka berikan.

 Do you want to give it a try?

Di posting ini saya berbagi pengalaman mengenai cara untuk mencari donasi kemanusiaan untuk suatu persoalan yang kita bawa. Lima kriteria di atas ditambah dengan integritas kita dapat membuat kita didengar oleh orang-orang di sekitar serta dapat memancing tindakan nyata.
Apa yang sudah saya dan teman-teman lain lakukan dalam memberikan donasi memberikan suatu perasaan puas dalam hati.
A feeling that money can’t buy.
Saya kira, perasaan puas ini muncul karena memang pada dasarnya kita sebagai manusia diciptakan untuk saling membantu.
Sudah terlalu banyak ajakan orang lain kepada saya (mungkin kepada anda) untuk berbisnis dan diiming-imingi keuntungan berlipat dalam waktu singkat. Investasi dan bisnis seperti ini hanyalah mengenai diri sendiri. Pencapaian pribadi berbeda dengan kontribusi.
Pencapaian pribadi adalah soal diri sendiri… saya, saya dan saya. Tapi kontribusi adalah bagi orang lain.
Terkadang sebuah pertanyaan muncul di benak saya:
Apa untungnya buat saya saat saya membantu adik-adik asuh itu?
Tapi hati dan pikiran saya menjawab dengan cepat:
Saya tidak mendapat untung secara materi, tapi saya tahu, saya sedang membiayai seorang adik yang mungkin menjadi orang sukses dan orang yang memberi dampak baik nantinya. Apakah saya bisa melihat si adik ini sukses? Saya tidak tahu, tapi yang saya tahu… Saya meringankan bebannya sebagai anak sekolah, sehingga ia bisa belajar dengan tenang tanpa memikirkan biaya.

Toh, saya juga hidup dari uang negara, kenapa saya harus menggunakan semua uang ini untuk saya, saya dan saya. Setiap hari belakangan ini, saya merenung ketika melihat lemari pakaian, saya berkata dalam hati, “saya sudah punya cukup pakaian”. Ketika berangkat ke kampus saya punya 2 pilihan tas dan 2 pilihan sepatu, saya berkata dalam hati, “saya sudah punya cukup tas dan sepatu”. Ketika melihat gadget di toko elektronik, saya meraba saku celana dan saya berkata dalam hati, “saya sudah punya cukup handphone“.

So, maukah anda mencoba cara ini untuk membawa misi kemanusiaan yang anda percayai?
Thousands of candles can be lit from a single candle, and the life of the candle will not be shortened. Happiness never decreases by being shared. – Budha
– be blessed –

One thought on “Bagaimana mengajak 35 orang dalam 2 minggu untuk memberikan donasi beasiswa kakak asuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s