sudahkah kita me-redefinisi hidup?

melakukan hal yang sama terus-menerus dalam keseharian kita seringkali membuat kita lupa untuk bertanya pada diri sendiri, “apakah ini kehidupan yang saya mau ?”

Sudah lama saya tidak menulis blog post, saya juga tidak ingat kapan terakhir saya menulis. Pekerjaan rutin di kampus dan pelayanan di gereja membuat saya seakan “terjebak” dalam keseharian saya. Selama dua minggu ini, boleh dikata bahwa saya mengalami kejenuhan, profesi saya sebagai pengajar dan mahasiswa yang sebetulnya profesi idaman saya, seakan hanya menjadi rutinitas saja.

Saya akhir-akhir ini juga banyak bertanya pada diri sendiri, “apa ada yang salah dengan hidup saya ?”. Pertanyaan itu yang membawa saya pada perenungan yang cukup panjang untuk me-re-definisi hidup, hingga akhirnya saya menulis blog post ini.

But before that, let me tell you about my life update :

  1. Sekitar bulan Februari kemarin, saya diangkat menjadi asisten akademik di lingkungan program studi Fisika. Pekerjaan ini rasanya adalah tahap awal hingga nanti suatu saat saya bisa diangkat jadi staf “beneran”. Namun, tentu hal ini menambah variabel baru dalam hidup. Bagaimana tidak ? Saya harus bekerja minimal 10 jam/minggu untuk menjadi asisten akademik. Mengisi kuliah pengganti, mengajar kelas tutorial, menjadi koordinator praktikum, memeriksa quiz dan PR serta menjadi panitia seminar. Rasanya pekerjaan ini adalah pekerjaan manajerial yang cukup menguras waktu dan tenaga.
  2. Saya juga banyak mengurus administrasi kelangsungan kuliah saya ke Perancis serta kunjungan riset ke Jepang. Mulai dari mengisi form, melengkapi berkas, hingga korespondensi e-mail. Hal ini juga cukup menguras waktu dan tenaga.
  3. Pelayanan di gereja yang memaksa saya untuk melakukan suatu pelayanan yang diluar “service area”. Saya juga terkadang bertanya pada diri sendiri, “untuk apa sich saya melakukan hal ini ? toh ini bukan bagian saya ?”. Tapi yang namanya beban pelayanan dalam hati kecil ini tidak bisa dibohongi, saya sangat terbeban dengan pelayanan usia muda dan saya melihat tidak ada perhatian sama sekali dari mereka yang seharusnya mengurus hal semacam ini. Hal ini membuat saya lelah secara emosi, lelah pikiran dan fisik.
Ketiga hal di atas yang sedang saya alami, yang membuat saya terlalu lelah untuk melakukan riset yang seharusnya menjadi kewajiban utama. Alhasil, saya mengalami kejenuhan, dan mulai bertanya kepada diri sendiri
Apa benar apa yang saya lakukan ini ? Apa ini yang Tuhan mau dalam hidup saya ?

 Hati kecil saya berkata “Ya” untuk pertanyaan di atas dan menyalahkan diri sendiri karena tidak cukup cerdik dalam mengatur diri sendiri. Namun, terkadang ada pikiran berupa “excuse” bahwa saya sedang dalam beban yang cukup berat, intinya

Rasanya saya terlalu memaksakan diri untuk melakukan segalanya.

 Apalagi mengenai pelayanan di gereja, itu bukan tugas saya, kenapa saya harus repot-repot dengan hal seperti itu. Tapi, terkadang ada suara dalam hati kecil :

Ini beban yang Tuhan berikan di pundak saya untuk dijalankan dengan setia, lagipula : it seems nobody cares, no body is willing to make a difference.

Me-redefinisi Hidup

Post ini ditulis sebetulnya hanya untuk memotivasi diri sendiri, namun saya bersyukur apabila ada yang terberkati dengan tulisan ini.

Saya ingin belajar dari kehidupan diri sendiri, bahwa pekerjaan rutin terkadang membuat kita lupa untuk bertanya pada diri sendiri

Apakah saya berada di jalur yang benar ?
Apakah saya mendapat sukacita dari pekerjaan saya ?
Apakah ini kehidupan yang saya mau ?

Perenungan ini yang terkadang baru terpikir di malam hari sebelum tidur, tapi karena terlalu lelah, kita tidak sempat untuk merenungkannya lebih jauh.

Pagi hari pun, kita sudah harus beraktifitas kembali.

Weekend dan hari minggu, kita habiskan untuk istirahat dan mengusir kejenuhan dengan bersenang-senang.

Pertanyaan itu kembali mengusik kita. Intinya

kita harus menemukan ketenangan dalam berpikir, berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri

Hal itulah yang sedang saya lakukan akhir-akhir ini. Saya bertanya pada diri sendiri mengenai motivasi dan penyebab mengapa saya menjadi seperti ini.

Saya juga bertanya pada Tuhan

Apa tujuan-Mu dibalik semua ini ?

 Setelah beberapa lama merenung, saya menemukan pelajaran berharga dari pengalaman ini :

  1. Terkadang hal ini, Tuhan ijinkan terjadi untuk membuat kita lebih dekat dengannya. Rutinitas membuat kita lupa untuk berdoa, untuk bersyukur dan malah mengeluh dengan apa yang ada di sekeliling kita. Saya belajar bahwa pada saat saya mengalami hal seperti ini, justru itu adalah “warning” untuk meningkatkan hubungan dengan sang pencipta.
  2. Awal pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menenangkan diri. Setelah mengalami “kejenuhan” ini, saya mengubah kebiasaan dengan bangun lebih pagi dari biasanya. Saya terkadang bangun jam 4 pagi atau paling telat jam 5 pagi. Waktu seperti ini memungkinkan kita untuk menenangkan diri, berdoa, bercakap-cakap pada diri sendiri mengenai hidup kita.
  3. Memperbaharui motivasi. Motivasi apabila tidak diperbaharui akan membuat kita kelelahan di medan pertempuran. Oleh karena itu, diperlukan waktu khusus untuk memperbaharui motivasi. Mengumpulkan alasan-alasan yang membuat kita berada di keadaan kita sekarang. Kalau alasan itu tidak ada, maka rasanya kita harus mempertimbangkan untuk berpindah profesi atau mencoba hal yang baru.

Saya tahu, keadaan seperti ini, perenungan seperti ini akan terjadi lagi di kemudian hari. Rasanya memang ini menjadi suatu siklus yang harus kita lewati.

So, sudahkah kita me-redefinisi hidup?

– be blessed –

2 thoughts on “sudahkah kita me-redefinisi hidup?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s