8 hal yang membuat pendidikan doktor menjadi sulit

PhD is a different level of education

Adalah sebuah anugerah Tuhan bahwa saya bisa sampai di akhir tahun pertama pendidikan doktor di ITB. Saat ini, saya masih menunggu kepastian beasiswa DDIP (double degree Indonesia-Perancis) untuk fase yang kedua, yakni beasiswa untuk melakukan penelitian selama 2 tahun di Perancis.

Saat ini juga saya berada dalam fase yang sangat jenuh. Dua minggu yang lalu saya mengalami burn out yang kerap disamakan dengan stress (walaupun sebetulnya gejalanya berbeda). Saya sempat berpikir

apakah saya kecapean sekolah sejak TK hingga saat ini ?

Saat saya mengalami burn out, ada banyak pikiran yang muncul. Salah satunya adalah saya merasa bahwa tahun pertama saya di ITB tidaklah begitu menggembirakan. Memang saya berhasil untuk lulus ujian kualifikasi doktor dimana saya harus mengambil beberapa mata kuliah di level master, but penelitian saya ga ada kemajuan. Hal ini sungguh mengesalkan untuk saya yang orangnya sedikit perfeksionis. Saya merasa performa saya jauh di bawah standar.

Saya sempat merenung bahwa pendidikan doktor adalah level yang berbeda dengan level edukasi lainnya. Setidaknya dari pengalaman saya, beberapa poin di bawah ini adalah beberapa alasan (semoga bukan menjadi pembenaran saya) tentang mengapa pendidikan doktor adalah hal yang sulit:

  1. Penelitian untuk mencari hal yang baru. Ini adalah poin yang sangat penting. Pendidikan doktor diukur dari seberapa hebatnya kita dalam mencari suatu hal yang baru. Apakah itu teori, penerapan atau teknologi baru. Bagi saya ini sangatlah sulit, bagaimana tidak? Kita harus bertaruh dan yakin bahwa kita suatu saat nanti akan menghasilkan sesuatu yang baru.
  2. Harus memperhatikan penelitian terbaru yang ada di bidang kita. Konsekuensi dari poin yang pertama adalah kita harus membaca jurnal terbaru yang berkaitan dengan bidang kita. Jangan sampai ada di belahan bumi lain yang sudah mengerjakan penelitian kita. Kita juga harus menggunakan rujukan jurnal terbaru untuk mendukung penelitian kita.
  3. Ekspektasi yang tinggi. Profesor yang membimbing kita biasanya akan menaruh ekspektasi yang tinggi pada diri kita. Ekspektasi dari para pembimbing memang wajar, toh beliau-beliau ini berharap adanya suatu terobosan dalam bidang yang mereka geluti.  Hal itu bisa menjadikan motivasi atau menjadi beban. Bagi saya, sekarang malah cenderung menjadi beban. Hal ini yang harus saya perbaiki dari segi mental.
  4. Multiple bos. Mungkin poin 4 ini hanya terjadi di Indonesia, setidaknya di ITB. Mahasiswa S3 biasanya memiliki banyak tanggung jawab dan komitmen pada beberapa dosen. Bisa berupa sebagai asisten mata kuliah, panitia seminar atau bahkan membantu dalam hal administrasi. Saya adalah orang yang sulit untuk berkata “tidak” kalau ada yang meminta bantuan bagi saya. Repotnya, ketika semua pekerjaan menumpun, I will stress out… Berbeda dengan di luar negeri, setidaknya ketika berkuliah master di Jepang dulu, saya hanya diperintah oleh satu Profesor saja, sehingga fokus tidak terbagi-bagi.
  5. Komitmen lainnya. Ada beberapa teman S3 saya yang lain, yang sebetulnya sudah menjadi dosen di universitas. Mereka memiliki tanggung jawab sebagai pengajar. Hal ini juga akan membuat fokus mereka terbagi. Rasanya sepandai apapun mengatur waktu, it is not an easy arrange all of those things. Terlebih apabila pekerjaan di luar pendidikan doktor malah memberikan gaji yang besar. Makin sulitlah untuk melepas komitmen tersebut sehingga penelitian yang dikorbankan. Komitmen lainnya pun bisa berasal dari intern, bisa berupa proyek dosen atau proyek dari jurusan. Ini juga memerlukan suatu fokus tersendiri.
  6. Ikut membimbing mahasiwa S1 dan S2. Biasanya, mahasiswa S3 yang nantinya akan dicalonkan menjadi dosen akan diminta untuk ikut membimbing mahasiswa S1 dan S2. Buat saya hal itu mengasyikan, saya bisa berbagi pengalaman dan bisa belajar bidang yang baru. Repotnya, kalau mahasiswa S1 dan S2 yang dibimbing malesnya bukan main. Terkadang kalau kita terlalu memanjakan mereka, ya mereka akan jadi manja. Mereka akan lebih senang bertanya kepada kita (yang tentu saja akan sangat merepotkan), ketimbang membaca buku atau bahan yang sudah kita berikan.
  7. Bertanggung jawab pada lab. Karena mahasiswa S3 adalah mahasiswa paling senior di lab, biasanya dosen akan memberi tanggung jawab lab kepadanya. Mulai dari tanggung jawab kunci lab, pemeliharaan hingga penambahan inventaris. Hal ini memang sepele, namun justru gangguan nya bisa datang kapan saja.
  8. Tidak ada libur. Pernah saya mendengar ada mahasiswa S3 yang meminta liburan kepada dosen pembimbing. Masuk akal sich, karena mahasiswa tersebut meminta ijin libur di saat liburan semester, logis bukan? namun dosen tidak memberikan, karena kata dosennya : “justru kalau kampus libur, kamu akan punya banyak waktu untuk riset”. Begitu sulit bahkan untuk meminta libur. Sehingga saya punya teori begini: “kita gakkan dapat libur kecuali kita yang meliburkan diri”.

Itulah yang saya rasakan dan bisa bagikan di tulisan ini. Bagi saya ini adalah pergumulan yang berat. PhD is not easy. 

– be blessed –

10 thoughts on “8 hal yang membuat pendidikan doktor menjadi sulit

  1. Nice blog tapi koreksi sedikit.

    Point 4 tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Eropa, dimana terdapat skema industrial PhD, point ini adalah salah satu yang paling memberatkan PhD student.

    Di Perancis, Jerman atau Denmark, dengan skema industrial PhD, seorang PhD student biasanya merangkap sebagai R&D Engineer di perusahaan dan biasanya punya lebih dari 4 bos. Minimal 2 supervisor di Industri (biasanya lebih) dan 2 supervisor di universitas.

    Masing masing punya prioritas dan pola pikir yang beda. Pusing banget….

    • Yang saya tahu di Jepang, karna pernah master di sana… S3 di Jepang jauh lebih bisa berkonsentrasi pada riset, apalagi dengan dana penelitian yang cukup besar serta fasilitas yang ada… kalau Taiwan saya belum pernah ke sana…

      • compare dong S3 di taiwan, jepang, korea selatan, yg paling berat prosedur atau syarat kelulusannya yg mana? sistemnya full riset atau ada kuliahnya?
        biaya hidupnya gmana?

        jangan dibanding dgn S2 nya ya. soalnya pasti beda jauh. compare khusus s3 di 3 negara tsb.

      • Thank you…

        Tulisan saya di atas hanya bicara khusus tentang pengalaman saya studi S3 di tahun pertama… mungkin lain kali saya bisa tulis yang sifatnya informatif, seperti membandingkan S3 di beberapa negara…

  2. salam kenal pak..
    saya berencana th 2013 ini ambil S3 informatika di ITB? apakah bapak ada pengalaman atau teman tentang S3 Informatika di ITB? ktnya ‘sulit’ masuk dan keluar ?

    terima kasih.. salam

    • Salam kenal juga, pak.

      Rasanya kalo masuk s3 di itb tidak sulit, hanya syarat tpa dan toefl saja pak, itu pun tidak besar syarat nya.

      Rasanya kalau lulusnya tergantung kita sih, sistem pendidikannya dan dosen2 nya tidak akan mempersulit kita juga…

      Buat saya sih tidak ada kesan susah masuk dan susah keluar koq.

  3. izin share pak, saya berencana s3 di biologi itb, hanya yang menjadi permasalahannya untuk bidang yang akan digeluti ahli mikoriza dan bioreklamasi ada di ipb jurusan silvikultur, kalau saya s3 di ipb jurusan silvikultur itu tidak linier dalam proses karir, nah apakah bisa salahsatu pembimbing calon promotor bukan dari institusi itb (salahsatu promotor dari silvikultur ipb) terima kasih atas masukannya

    • Halo pak, salam kenal…

      Menurut saya sih bisa-bisa aja, coz saya pernah punya teman yang salah satu co-promotornya beda universitas.
      Rasanya harus ada tindakan pro aktif dari bapak untuk menjembatani komunikasi antar pembimbing di ITB dan IPB…

      Yang pasti perlu ijin dari pembimbing utama yang di ITB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s