mengalahkan inersia dalam belajar/bekerja

image from sxc.hu, uploaded by shadow

Setiap benda akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan lurus beraturan apabila tidak ada resultan gaya luar yang bekerja pada benda tersebut – Hukum 1 Newton tentang gerak

Pernyataan hukum pertama di atas sering kita dengar di kelas Fisika ketika SMU (itupun kalau kita menyimak dengan baik). Hukum di atas dinamakan hukum inersia. Inersia bisa diartikan sebagai “kemalasan” benda untuk bergerak. Kemalasan ini bisa dipengaruhi oleh massa atau bentuk dari benda tersebut.

Tahukah kamu bahwa kita sebagai manusia juga memiliki inersia. Inersia yang dimaksud adalah kecenderungan kita untuk diam/malas atau menjalani hidup dengan konstan (membosankan) kecuali ada dorongan gara dari luar. So, mungkin hukum inersia ini dapat ditulis ulang sebagai berikut:

Seseorang akan tetap diam/bermalas-malasan atau menjalani hidup dengan konstan/biasa-biasa kecuali adanya dorongan motivasi dari diri sendiri ataupun dari orang lain

Ada yang berbeda, bukan? Ya, kita sebagai manusia bisa memiliki gaya yang berasal dari dalam diri kita untuk memulai bekerja. Ini yang dinamakan motivasi intern.

Saya mengalami hal ini dalam hal kemajuan riset doktoral. Proposal penelitian yang tak kunjung selesai menjadi hal yang membuat inersia dalam diri saya semakin besar. Kemalasan untuk belajar dan menggarap proposal menjadi masalah terbesar dalam kemajuan riset doktor saya. Saya ga bisa begini terus.

Di sini saya hendak berbagi tentang hal yang menyebabkan inersia saya menjadi besar serta beberapa langkah praktis untuk mengatasinya. Ya… saya telah mengatasi inersia tersebut hari ini. Baru saja saya menyelesaikan tambahan dua sub bab pada proposal. Sedikit memang, namun hal ini adalah kemajuan yang besar.

Beberapa hal mengenai inersia dalam bekerja/belajar adalah sebagai berikut:

  1. Tidak adanya pencapaian/keinersiaan kita membuat kita menjadi minder dan merasa bersalah. Saya tahu bahwa saya harus belajar dan bekerja untuk menyelesaikan proposal penelitian. Namun karena kemalasan dan faktor yang lain, saya menjaid terus menunda dan menunda. Saya menjadi keasyikan mengerjakan prioritas/tanggung jawab yang lain. Hal ini menyebabkan saya merasa bersalah, terutama di akhir hari ketika memasuki sore/malam hari. Saya jadi berhitung berapa banyak waktu yang terbuang dan hitungan itu menjadikan saya makin merasa bersalah.
  2. Tidak adanya pencapaian/keinersiaan kita membuat kita lari dari orang yang kepadanya kita harus bertanggung jawab. Pernah merasa minder ketika bertemu pembimbing/guru/atasan kita karena tugas kita belum selesai? Ini yang sering saya namakan “menjadi buronan/most wanted“. Baig saya, hal ini malah menambah beban dan tekanan di pundak saya. Oleh karena itu, saya sering menghindari mereka (berharap mereka tidak membaca tulisan ini.)
  3. Bersembunyi dari kenyataan dan mencari gratifikasi instan. Makin saya menunda, makin saya menyembunyikan pekerjaan saya. Folder penelitian tidak pernah saya buka, berkas fotocopy-an saya simpan jauh-jauh dari meja kerja. Selain itu, saya mencari kepuasan instan dengan menyelesaikan hal lain, padahal hal lain itu tidak terlalu urgent, bukan prioritas atau bahkan hanya membuang waktu. Untuk saya sendiri, saya bergumul dengan kehidupan yang always online. Facebook, messenger, membaca berita dan artikel adalah tempat di mana saya mencari gratifikasi instan. And guest what, gratifikasi ini tidak bertahan lama, mereka hanya berupa candu yang setelah melakukannya, kita makin kecanduan dan merasa bersalah.
  4. Membohongi diri sendiri bahwa saya “jenuh”. Ini adalah suatu bentuk pembenaran. Saya ingat bagaimana pertama kali saya break dari penelitian adalah ketika saya memang benar-benar jenuh. Persoalan beasiswa, berkas, adminstrasi, tugas asistensi, tugas sebagai panitia seminar, les bahasa, persoalan di gereja dsb membuat saya jenuh. Namun, sebetulnya diri saya sendiri tahu bahwa saya tidak perlu lama-lama beristirahat. Kata “jenuh” adalah hal yang sering saya katakan kepada orang lain dan diri sendiri untuk membenarkan diri tidak melakukan pekerjana yang semestinya.

So, how to overcome this problem? Saya kira semua orang pernah mengalami hal ini. Baik dalam kadar yang kecil maupun besar. So, saya akan berbagi hal-hal praktis yang bisa langsung dipraktekan untuk mengatasi hal ini. Saya baru melakukan hal ini dua hari belakangan dan saya berharap bisa konsisten hingga pekerjaan saya selesai.

  1. Sadar bahwa kita tidak bisa lari selamanya dan mengaku bahwa kita ada dalam masalah. Ini adalah langkah awal yang sangat penting, pengakuan itu baik bagi jiwa. Memang kebenaran kadang menyakitkan, namun itulah yang harus kita lakukan. Ini adalah masalah mental, katakan kepada diri sendiri bahwa saya tidak bisa lari selamanya.
  2. Rapihkan lingkungan kerja. Bagi saya, ada relasi antara kerapihan kamar dan meja saya serta kinerja. Kemarin dan hari ini saya membersihkan dan menata ulang kamar dan meja kerja saya. Lingkungan yang rapih mengembalikan mood saya dalam bekerja. Mulailah dengan menertibkan buku, kertas-kertas kerja dan file-file komputer.Taruh hanya satu folder kerja di desktop. This is the first step to get your mood back.
  3. Bekerja dalam jam optimal. Bagi saya, pagi dan sore dan malam hari adalah waktu optimal untuk bekerja. Setiap orang berbeda. Ada teman saya yang memang harus begadang hingga subuh untuk menyelesaikan pekerjaannya. So, tanya pada diri sendiri “kapan saya bisa bekerja optimal?”
  4. Buat slot waktu untuk bekerja tanpa gangguan. Kemarin saya membuat komitmen untuk membaca jurnal dan brainstorming satu jam tanpa gangguan. Saya mematikan kehidupan online dan hanya menggunakan internet untuk mencari artikel yang berhubungan dengan proposal. Kita bisa mulai dengan slot yang lebih singkat, 15 atau 30 menit cukup untuk langkah awal.
  5. Rayakan sukses kecil kita. Hari ini saya mampu bekerja 2 jam tanpa gangguan dan saya merayakannya dengan online sebentar, membaca kabar teman-teman di Facebook dan menulis di blog ini. Saya merasa sukacita dengan membagikan keberhasilan kecil saya di sini.

Ketika kita konsisten untuk melakukan hal-hal di atas, gairah untuk belajar dan bekerja akan kembali. Saya tidak menganjurkan untuk menggunakan faktor eksternal sebagai dorongan, bagi saya hal itu hanya menjadi tekanan. Maksud saya, jangan terlalu menjadikan ketakutan pada deadline, bertemu dosen pembimbing sebagai satu-satunya faktor untuk bekerja. Latihlah untuk memotivasi dari dalam diri sendiri.

So, semoga tulisan ini membantu. By the way, I should go back to work.

– be blessed –

3 thoughts on “mengalahkan inersia dalam belajar/bekerja

  1. Pingback: Détour Nostalgique | CREATIVE ENDLESS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s