the curse of expertise

image from sxc.hu, uploaded by joejoe77

We are all expert in some way

Kita semua adalah ahli dalam suatu hal. Kita mahir dalam suatu bidang, kita semua memiliki jam terbang tinggi dalam bidang tersebut. Kita dipuji dengan segala prestasi yang kita pernah buat di masa lalu. Kita menjadi sangat biasa untuk mengerjakan pekerjaan pada bidang kita.

Pada saat itulah kita berada dalam status quo, pada masa itulah kita berhenti mengembangkan diri, kita berhenti untuk belajar lebih banyak dan kita menjadi terlalu “biasa” dalam mengerjakan pekerjaan kita.

Ini yang saya namakan sebagai “the curse of expertise” (mungkin bahasa Indonesianya : kutukan keahlian).

Kutukan ini memang terjadi pada mereka yang sudah ahli, mereka yang tahu segalanya, mereka yang sudah memiliki jam terbang tinggi pada pekerjaan mereka.

Efek buruknya adalah mereka menjadi kehilangan “feel” pada pekerjaan mereka, kesungguhan hati mereka pada pekerjaan berkurang karena keahlian mereka yang sudah tinggi (menurut mereka). Mereka menjadi miskin kreatifitas dan hasil pekerjaan menjadi rata-rata (mediocrity).

Saya sendiri pernah merasakannya baik secara individu ataupun dalam tim. Saya terlalu banyak berasumsi akan pekerjaan yang sudah sering saya lakukan. Saya menjadi kehilangan “feel” pada tugas yang harus saya kerjakan. Hasilnya seperti yang saya katakan di atas, hasilnya menjadi biasa-biasa. Dan terkadang, kita menjadi permisif terhadap hasil yang biasa-biasa itu.

So, how to solve it ? saya teringat akan kata-kata dari pepatah Jepang berikut

In the beginner’s mind there are many possibilities, but in the experts mind only a few

Kita lupa ketika kita pertama kali mengerjakan pekerjaan itu. Kita lupa akan perasaan tegang kita, persiapan kita yang berlebihan dan kekhawatiran kita ketika melakukan pekerjaan kita untuk pertama kalinya.

Kita lupa pada perasaan ketika pertama kali kita mempelajari suatu hal, kita lupa pada perasaan ketika kita pertama kali masuk kerja, kita lupa pada perasaan ketika kita melakukan pekerjaan kita dengan luar biasa.

Perasaan dan pola berpikir seperti seorang amatirlah yang bisa mengembalikan “feel” kita pada pekerjaan kita.

Kita harus senantiasa merasa menjadi seperti pemula ketika melakukan pekerjaan, walaupun pekerjaan itu adalah pekerjaan yang menjadi keahlian kita.

Never stop learning and never be an expert. Always be a beginner in everything we do, regardless how great we are.

– Be blessed –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s