kenapa saya tidak ikut kegiatan kemahasiswaan ketika kuliah dulu

image from sxh.hu, uploaded by hisks

lectures dan research already made me so busy, so why should I involve with those activities?

DISCLAIMER : pengalaman pribadi, bukan sebuah prinsip hidup yang universal. You may agree or you may disagree. Ini bukan masalah baik atau tidak baik, tapi masalah pilihan.

Kegiatan di SMA almamater saya, SMAN 2 Cimahi membuat saya harus bergaul dengan mereka yang masih S1, terutama mereka yang masih tingkat 1 dan tingkat dua.

Seringkali di setiap obrolan, mereka bertanya: “Dulu ka/kang Chris ikut unit apa ?” dan “Dulu ka/kang Chris ikut himpunan ga ?”

Mereka bertanya bukan sekali atau dua kali, rasanya di tiap angkatan selalu ada pertanyaan ini. Saya menjawab beberapa alasan ketika itu, dan rasanya cukup worth it untuk saya tulis di sini:

  1. Kuliah sudah membuat saya repot, amat sangat repot.
    Ini adalah alasan yang paling utama. IP semester 1 saya: 2.2, semester 2: 2.3, semester 3: 1.3 (this is true, nasakom, nasib satu koma), semester 4: 2.4. Kebanyakan kegiatan kemahasiswaan berlangsung ketika tahun pertama (di ospek jurusan) dan di tahun kedua (menjadi panitia bla bla bla). Well, saya sadar IP saya cuma segitu, dua setengah pun tidak. So, kuliah sudah membuat saya repot, apalagi ikut kegiatan kemahasiswaan? Saya sadar saya bukan mahasiswa pintar, saya kesulitan untuk adaptasi di awal-awal kuliah, so saya membatasi diri saya terhadap kegiatan di luar perkuliahan.
  2. Saya melihat contoh yang buruk.
    For a young generation, a living example is everything. Saya agak risih kalau melihat senior yang bicara dibuat-buat, sok ngatur dan sok jaga wibawa. Saya pernah mendengar seorang senior yang bicaranya cukup “besar”, bicara soal bangsa Indonesia, soal kemahasiswaan, soal kemandirian, soal tanggung jawab di suatu pertemuan. Tapi orang yang sama berada di suatu mata kuliah dengan saya, kuliah wajib. Tidak ada kemungkinan lain selain dia mengulang. Itu adalah merupakan suatu contoh yang amat sangat buruk bagi saya. Sejak saat itu, saya sudah tidak mau ikut-ikutan kegiatan yang begituan. They cannot live as same as their talk. Saya tahu itu adalah stereotype, dalam artian tidak semua senior demikian, tapi hal itu cukup membuat saya trauma.
  3. Saya melihat contoh yang baik di lingkungan akademisi.
    Kebalikan dengan alasan sebelumnya, saya melihat contoh yang baik di lingkungan akademisi. Mereka (teman seangkatan, senior dan dosen) telah menjadi inspirasi saya untuk memberikan performa yang baik di kuliah. Hal ini masuk akal bagi saya, karena kewajiban utama saya adalah kuliah dan riset. Oleh karena itu, saya lebih tertarik untuk kegiatan kampus yang seperti ini.
  4. Tidak ikut kegiatan kemahasiswaan, bukan berarti tidak bersosialisasi.
    Salah satu alasan anak tingkat satu mengikuti kegiatan kemahasiswaan adalah karena mereka takut hidup terkucil, takut hidup tidak bersosialisasi, takut tidak ada teman (once again, you may agree or disagree). Well, tidak ikut kegiatan seperti itu tidak membuat saya tidak bersosialisasi. Saya berteman baik dengan teman seangkatan yang mengikuti kegiatan kemahasiswaan, bergaul dengan kakak senior dengan adik angkatan. Terlebih jika kita menjadi asisten dosen, mereka yang jadi peserta kelas tentu akan mengenal kita, bukan?
  5. Belajar berorganisasi bisa dimanapun.
    Salah satu keuntungan ikut kegiatan mahasiswa adalah belajar berorganisasi, belajar kepemimpinan, belajar berbicara di depan, mengemukakan pendapat, berdebat dsb. Well, saya memilih belajar soft skill seperti ini di organisasi gereja, rekam jejak salam delapan tahun di organisasi gereja rasanya cukup memberi saya pelajaran soft skill.

Sekali lagi, ini bukan masalah baik atau tidak baik, tapi masalah pilihan hidup. Saya memilih sendiri pilihan hidup ini tanpa paksaan, saya memilih mengambil sikap daripada saya berikan keputusan hidup saya pada orang lain.

Saya juga tidak berkata organisasi kemahasiswaan itu jelek, tapi saya hanya bilang bahwa organisasi kemahasiswaan jelek untuk saya. Ada banyak teman saya yang akademiknya baik, lulus dengan prestasi tapi aktif juga di kegiatan kemahasiswaan. Once again, it is a matter of choice.

Beberapa link tentang manfaat organisasi kemahasiswaan dapat dibaca di sini, sini, sini dan sini.

– be blessed

2 thoughts on “kenapa saya tidak ikut kegiatan kemahasiswaan ketika kuliah dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s