my first ever jet-lag experience

Foto dari kamar residence (lantai 4), matahari baru terbit jam 9 pagi

Foto dari kamar residence (lantai 4), matahari baru terbit jam 9 pagi

jet lag is your soul trying to catch up after flying – Ryan Ross

Sejak tiba di Calais, Perancis sejak 2 hari yang lalu, saya hingga sekarang masih mengalami jet lag. Ini adalah pengalaman pertama saya, walaupun beberapa kali ke luar negeri, namun belum pernah mengalami jet lag yang seperti ini. Berbeda dengan di Jepang yang berbeda waktu hanya 2 jam, Singapore, Hongkong dan Malaysia yang hanya 1 jam, Indonesia dan Perancis berbeda waktu hingga enam jam.

Hal ini lah yang membuat saya mengalami jet lag. Setidaknya ada dua hal yang rasanya pasti akan dialami ketika jet lag, yakni perubahan waktu tidur dan makan. Untuk waktu makan, saya tidak terlalu bermasalah, namun untuk waktu tidur, saya mengalami hal yang tidak mengenakan.

Terkantuk-kantuk menjelang sore hari

Saya mulai merasakan kantuk sekitar pukul 4 sore atau 5 sore, dimana di Indonesia bagian barat menunjukan pukul 10 dan 11 malam. Rasa kantuk tersebut membuat saya harus tidur lebih awal. Tapi, yang tidak mengenakan adalah suasana di luar kamar saya yang masih ramai. Jam 4 dan 5 sore, para mahasiswa yang tinggal satu apartment dengan saya, mereka baru pulang dari kampus masing-masing dan tentunya membuat suara-suara yang cukup mengganggu.

Oleh karena itu, saya menjadi sulit untuk tidur. Kata teman saya, saya harus memaksakan diri untuk tidur dengan jam tidur normal di sini. Artinya saya harus menahan kantuk sekitar 5-6 jam. Jadi, kalau di Perancis menunjukan pukul 10 malam, maka di Indonesia bagian barat menunjukan pukul 3 subuh. Untuk proses ini saya belum melakukan. Rasa kantuk ditambah kelelahan akibat perjalanan jauh membuat saya harus tidur lebih awal.

Terbangun di dini hari

Di Indonesia, saya biasa bangun pukul 6 atau 7 pagi. Hal itu yang membuat sistem tubuh saya membuat saya bangun di Perancis sekitar pukul 1 pagi. Well,  saat itu di luar sana, teman-teman saya sudah tidur. Then, I have nobody to talked to😦. Selain itu, matahari yang “terlambat” terbit membuat pagi hari tidak jauh beda dengan waktu malam.

Terkadang saya hanya membuka mata dan berharap rasa kantuk kembali datang. Terkadang saya juga keluar kamar hanya untuk memanaskan minuman (dapur tidak terletak di kamar). Saya juga merasa, malam begitu menakutkan (mungkin ditambah perasaan home sick juga). Pada saat itu saya memaksakan diri untuk tidur.

Akhirnya saya bisa benar-benar bangun pada pukul 5 subuh. Saat itu bahkan matahari belum terbit dan suasana di luar kamar pun masih sepi. Tidak banyak yang bisa saya lakukan. Saya terkadang harus mencari cara untuk membuat pikiran sibuk, salah satunya, pagi ini saya menonton film yang sempat saya beli di Indonesia.

Membiasakan diri

Well, saya harus bisa membiasakan diri dengan situasi ini. Saya datang ke Perancis di saat liburan riset justru supaya saya bisa beradaptasi. Caranya adalah menahan kantuk hingga larut malam di sini dan bangun dengan agak sedikit lebih siang. Sehingga waktu tidur saya cukup.

Semoga tulisan ini bisa memberi gambaran bagi anda yang hendak ke luar negeri dengan perbedaan waktu yang cukup lama.

– be blessed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s