4 alasan mengapa saya tidak bekerja (dan malah kuliah terus)

why am I doing here? 

Belakangan saya banyak membaca buku dan artikel di internet yang mengerucut pada apa yang saya sedang lakukan sekarang. Belajar dan melakukan penelitian adalah “pekerjaan” pokok saya sebagai mahasiswa PhD di Perancis. Belakangan ini juga saya kembali melihat motivasi yang saya punya dan berefleksi tentang pilihan hidup yang sedang saya jalani. Kasarnya, saya sebenarnya sedang bertanya pada diri sendiri

gw ngapain sih di sini? ngapain juga harus jauh-jauh sekolah? kenapa setelah selesai S1 tidak langsung bekerja saja? Kenapa juga mau-mau nya ditawari sekolah ke luar negeri?

Rasanya pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, sedikit banyak menjadi pemikiran mereka yang bersekolah jauh ke negeri orang. Semula datang ke luar negeri dengan semangat tinggi namun ditengah kuliah dan pekerjaan meneliti, pertanyaan di atas akan ada dalam pikiran mereka.

Well, saya sudah mengalami hal ini dua kali. Ketika studi master (S2) di Jepang dulu, saya bahkan sudah mengalami kegalauan ini di hari pertama saya tiba di Jepang. Tapi toh karena kerja keras dan perkenanan-Nya saya bisa selesai.

Tapi, kali ini rasanya berbeda. Pertanyaan-pertanyaan itu tampaknya bertanya dengan lebih mendalam.

Jujur, menjawab pertanyaan diri sendiri itu sangat menakutkan. Saya sangat takut dengan jawaban yang saya berikan pada diri sendiri. Dalam hal ini, saya takut bahwa saya melanjutkan studi S3 dengan alasan yang salah.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa beberapa hari ini saya melakukan studi kecil-kecilan tentang hal ini. Saya membaca beberapa buku dan artikel internet mengenai pertanyaan-pertanyaan ini. Well, Puji Tuhan, kesimpulan dari studi itu ternyata mendukung pada kondisi saya sekarang.

Studi itu masih belum berakhir dan rasanya pengalaman dapat saya bagikan kepada mereka yang membutuhkannya, terutama yang masih bingung memutuskan apakah akan lanjut kuliah ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak. Berikut adalah beberapa alasannya:

Saya tidak suka kerja kantoran

Ketika memutuskan untuk lanjut S2 dulu, hal inilah yang menjadi alasan utama saya. Alasan itu menjadi sangat kuat ketika saya makin “takut” melihat mereka yang se-usia saya memakai kemeja, dasi, sepatu yang kalau berjalan mengeluarkan bunyi dan bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Satu kesempatan saya diajak makan siang di sebuah perkantoran di Jakarta oleh seorang teman. Kami makan siang di sebuah food court yang menjadi langganan makanan karyawan setempat. Saya lalu melihat sekeliling, saya tidak bisa membayangkan diri saya berada dalam keadaan seperti mereka, berdasi, kemeja rapih, memakai name tag dsb. Sungguh berbeda dengan “kostum” saya ketika itu, celana jeans dan kaos kemeja.

Waktu yang lain ketika saya memikirkan hal ini adalah ketika berlibur di Singapura. Di Singapura, saya harus menggunakan kereta MRT (Mass Rapid Transport), saya pergi ke pusat kota sejak pagi hari dan pulang ke hotel pada sore hari. Di dua waktu tersebut saya berada di dalam MRT, di tengah-tengah para pekerja yang pergi dan pulang bekerja. Mereka begitu tampak kelelahan, jarang ada yang berbicara satu sama lain dan memakai headset untuk mengusir kebosanan di dalam MRT. Saya lalu membayangkan diri saya seperti itu, seandainya saya harus pergi pagi-pagi dan pulang dari tempat kerja dengan lelah secara fisik dan mental. Membayangkannya saja saya sudah takut.

Jadi, itulah alasan pertama mengapa saya terus melanjutkan kuliah tanpa pernah mendapat pengalaman di dunia kerja. Sebagai mahasiswa ketika S2 dulu dan S3 sekarang, saya tidak memiliki “jam kantor”, saya bebas kapan pun saya hendak bekerja di lab. Saya juga bisa bekerja di rumah (dengan seijin supervisor tentunya) dan saya bisa datang (dengan sukarela) di hari Sabtu/Minggu atau hari libur.

Tidak mau terjebak melakukan hal yang rutin

Ini adalah alasan yang pertama kali masuk ke kepala saya karena perkataan Dosen pembimbing saya. Rasanya ketika itu, beliau hendak lebih meyakinkan saya untuk terus melanjutkan kuliah dengan menakut-nakuti saya akan hal ini. Dan ternyata memang berhasil. Saya tidak mau terjebak melakukan hal yang sama terus menerus di dunia kerja.

Bagi saya, dunia kerja identik dengan melakukan hal yang rutin. Masuk dan pulang kerja di saat yang sama (terkadang lembur), mengerjakan laporan dengan subjek yang sama, berurusan dengan orang-orang yang sama, memperoleh gaji di waktu yang sama dan (terkadang) menghabiskannya di waktu dan tempat yang sama.

Hal-hal rutin di atas terkadang membuat banyak orang menjadi tidak berkembang. Hampir tidak ada waktu untuk mempelajari sebuah skill yang baru. Sangat memungkinkan untuk berkuliah sambil bekerja, tapi saya rasanya tidak sanggup. Saya membayangkan fokus saya akan terbagi dan saya akan sangat kelelahan baik secara fisik dan mental.

Kesempatan belajar inilah yang bisa saya dapatkan di lingkungan akademik dengan belajar dan melakukan penelitian. Setiap hari rasanya selalu ada yang bisa saya pelajari dan bisa saya coba lakukan dalam sebuah eksperimen. Bagi saya, hal ini sangat penting dimana saya bisa mengembangkan diri sendiri dengan lingkungan yang sangat mendukung.

Ingin keluar negeri

Mendengar Jepang ketika lulus S1 dulu membuat saya tidak pikir panjang untuk melanjutkan kuliah S2 dan mendengar Perancis juga tidak membuat saya berpikir lama-lama untuk mengambil gelar S3.

Saya ingin memiliki pengalaman baru hidup di negeri orang. Rasanya itu menjadi kebanggan tersendiri dimana saya bisa mengalami banyak hal yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di televisi.

Alasan ini membuat saya menjadi banyak belajar tentang kehidupan, tentang budaya, tentang nilai-nilai yang tidak bisa saya pelajari secara langsung di Indonesia. Budaya kerja keras orang Jepang sudah saya alami dan budaya penelitian di Eropa sedang saya pelajari. Rasanya pengalaman ini menjadi sebuah cerita yang menarik dan inspiratif yang bisa saya ceritakan kepada adik-adik kelas, kepada keluarga dan kepada anak cucu saya. 

Kebiasaan menggali pengetahuan yang menjadi kini menjadi kebiasaan yang adiktif 

Ini adalah alasan terakhir yang saya simpulkan belakangan ini. Mendapat sebuah pengetahuan baru dan memberi makan rasa penasaran rasanya sudah menjadi sebuah “candu”. Dan menjadi hal yang sangat menyenangkan ketika memperoleh momen “AHA” atau momen “lampu menyala” di kepala.

Hal yang mendasari ini adalah belakangan ini saya menikmati dua hal dari aktivitas saya: yang pertama adalah melakukan studi literatur untuk topik penelitian dan yang kedua adalah kebiasaan membaca buku populer (non fiksi) untuk mengisi waktu luang.

Melakukan studi literatur telah “memaksa” saya untuk membaca banyak jurnal penelitian yang sudah dilakukan. Dan ketika memaknai kegiatan ini rasanya saya sedang berada di “tepian” pengetahuan manusia dimana sebuah penelitian yang akan saya lakukan akan membuat “tepian” ini bergerak maju. Dan perasaan ini menjadi sebuah perasaan yang “adiktif”.

Membaca buku non-fiksi juga menjadi hal yang mengasikan. Selain sebagai “refreshing” dari kegiatan riset, hal ini juga membuat pemikiran saya berkembang. Membaca memang membuat pemikiran kita menjadi berkembang dan memberi motivasi untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih baik lagi.

Tidak ada penyesalan

Pada akhirnya, perenungan belakangan ini membuat saya nyaman berada di keadaan saya sekarang ini. Mengambil kuliah S3 tidaklah menjadi keputusan yang salah dalam hidup saya. Saya tidak menyesal mengambil keputusan ini.

Tulisan ini adalah sebuah pendapat pribadi tentang pengalaman hidup saya. Ada yang setuju mungkin juga tidak. Toh, ini adalah sebuah penilaian yang subjektif.

Saya hanya sangat berharap ada diantara Anda yang membaca tulisan ini yang sedang bergumul/bingung dalam mengambil keputusan untuk bekerja/lanjut kuliah. Well, Anda sudah membaca pengalaman saya di sini, memang tidak adil jika tidak dibandingkan dengan pengalaman mereka yang bekerja, anyway it is you who should decide it.  

– be blessed

151 thoughts on “4 alasan mengapa saya tidak bekerja (dan malah kuliah terus)

  1. lanjutkan, pak. Saya orang pekerja kantor yg sedang berpikir untuk keluar dari kungkungan kantor. Pengen melanjutkan sekolah namun terkendala waktu dan jarak (plus biaya – meski itu bisa dicari). Pengen fokus untuk kuliah dan meninggalkan dunia perkantoran, tapi sudah punya tanggungan. Jadi, selagi belum terikat atau tanggung jawab belum banyak, nikmati mengejar ilmu sebanyak-banyaknya. Memang benar, secara ilmu saya merasa kurang berkembang, meski tidak sedikit proyek saya selesaikan. Sukses selalu.

    • Salam kenal Pak, Saya punya teman yang kuliah sambil kerja, memang bakalan cape sih, tapi setidaknya bisa memberi pengetahuan yang lebih ketimbang hanya bekerja. Kalau hanya bekerja kita jadi terjebak dengan rutinitas dan akhirnya juga ada perasaan “gak secure” kalau seakan-akan nanti bakalan dipecat. Tapi kalau kita nya memang punya kemampuan sih, perasaan itu gakkan muncul.

  2. wah.. ntah kenapa alasan ini mengena ke hati saya pak. saya pun tipe org yg gak maw terlalu dituntut utk jam kerja. karena itu dalam melamar pekerjaan pun saya setengah hati. tapi saya telah membulatkan tekad utk melanjut

  3. Salut buat Pak Chris. Saya saat ini kerja kantoran pak. Datang jam 8 pagi pulang jam 5 sore. Dan Saya merasa sangat capek pak. Saya ingin lanjut kuliah di Jakarta, tapi Saya terkendala oleh izin orang tua karena orang tua ingin Saya bekerja tau lanjut kuliah di Padang. Sampai sekarang Saya masih merasa seperti di dalam sangkar burung, tidak bisa keluar kalau pintu sangkar tidak di bukakan. Maaf jadi curhat nih pak, hehehe. Tapi secara keseluruhan, Saya kasih 2 jempol buat Bapak🙂

    • Salam Kenal…

      Lanjut sekolah lagi itu keputusan pribadi, walau memang ada pengaruh juga dari orang lain. Jadi, ya kalau bener-bener serius mao lanjut sekolah, ya knapa ga dijalankan saja… jangan sampai nanti ketika sudah tua, ada pikiran seperti ini “knapa ya, dulu ga berani untuk lanjut sekolah”…

      Waktu kita di dunia ga lama, jadi knapa ga lakukan sesuatu yang menantang, yang lebih punya dampak bagi kehidupan…

  4. Trus setelah kelar s3 mau jadi apa ? jadi dosen ? peneliti ? konsultan manajemen ? Yah, kalau karya”nya berguna buat bangsa dan negara sih bagus. Tapi kalo pengangguran juga buat apa ? Beasiswa kan pakai uang rakyat dan negara. Buktinya tokoh” sukses yg karyanya revolusioner di dunia malah banyakan tidak pernah mendapatkan gelar ijazah kuliah. Di indo juga banyak. Apakah takut menghadapi dunia nyata ? Dan lebih berani di ruangan kelas saja ?

    • Jadi dosen/peneliti… Ya karya nya mesti berguna lah. Karna pakai uang rakyat, ya mesti kembali ke Indonesia. Anyway, S3 menghadapi dunia nyata koq, karena ga ada kelas, langsung terlibat dengan penelitian. Hehehe…

      Kalau tokoh2 hebat ga dapat ijazah kuliah ya itu kan jalan hidup mereka. Setiap orang ada jalannya masing-masing untuk berkontribusi.🙂

      • Penelitian untuk pengakuan gelar sangat berbeda dengan penelitian untuk kemajuan orang banyak. Setiap orang ada jalannya masing-masing untuk berkontribusi. Tapi sifatnya berupa sama yaitu menghasilkan karya untuk memudahkan kehidupan manusia. Yang patut dipertanyakan lebih banyakan mana orang yg sampe Es 3 ato malah yg gapernah sekolah menghasilkan karya” visioner?

      • Kenapa harus sangat berbeda? Bisa saja sama, penelitian untuk pengakuan gelar sifatnya menambah sebagian kecil untuk suatu topik/aplikasi yang besar.

        Lebih banyak mana? Gada referensi tuh. Anda punya referensi ? Di sini saya ga bilang S3 itu perlu dan harus. Saya juga tidak membandingkan perbedaan nya sama yang tidak S3. Saya juga ga bilang mana yang lebih baik diantara keduanya.

      • Persis seperti teman” saya yg lanjut kuliah ke s2 s3 ato gk ke s100. Alasan kurang lebih sama. Krn ga tau mau ngapain lagi. Ya udah mending kuliah lagi biar ortu jg bangga setengah mati cerita ke tetangga ato gk ke ade iparnye. Alasannya kurang tepat bos. Kok bisa”nya penilaian lanjut ampe s3 sifatnye subjektif. Kalo pake uang sendiri sih oke. Tapi katanya beasiswa. Pasti ada urusan yg lebih penting lagi. Ingat pendidikan bukan cuma sekolah, krn sekolah cuma media untuk pendidikan. Pendidikan yg nyata ialah gmana cara biar berusaha sendiri menghasilkan karya” berguna buat orang banyak. Gtu aja kok repot tinggal bilang mau lanjut s2 s3 s100 ya krn gengsi dong biar keren gitu loch, dibanding kalian cuma pegawai bank, wkekkkw, padahal kalo udh lulus kuliah tdk identik kerja kantoran, anda bisa melakukan apa saja yg anda mau. kenapa harus kerja kantor. kalo gitu ni alasan kurang masuk akal! tinggal bilang aja kalo mau s3 s4 s100 ya biar makin banyak gelar makkin sexy deh itu kalo dipampang di meja wekkekkekekke

      • > ” Ya udah mending kuliah lagi biar ortu jg bangga setengah mati cerita ke tetangga ato gk ke ade iparnye. ”

        Saya ga nulis alasan saya seperti di atas.

        > “Kok bisa”nya penilaian lanjut ampe s3 sifatnye subjektif”

        Maksudnya subjektif ? Tulisan saya kan pendapat pribadi saya, karena saya ga suka kerja kantoran (walo sekarang ada jam lab gitu)

        > “Tapi katanya beasiswa. Pasti ada urusan yg lebih penting lagi.”

        Ya jelas ada urusan yang lebih penting lagi, jadi akademisi di Universitas.

        > “Ingat pendidikan bukan cuma sekolah, krn sekolah cuma media untuk pendidikan”

        Oh, saya tahu betul itu

        > “Pendidikan yg nyata ialah gmana cara biar berusaha sendiri menghasilkan karya” berguna buat orang banyak.”

        Yap, setuju dan jalan saya untuk melakukan itu adalah sekolah sampai S3, bahkan mungkin Post Doc

        > tinggal bilang aja kalo mau s3 s4 s100 ya biar makin banyak gelar makkin sexy deh itu kalo dipampang di meja wekkekkekekke

        Wow, menghakimi sekali Anda🙂

        Kalau Anda ga setuju dengan jalan saya ya, silahkan. Tulisan ini kan blog pribadi, pendapat pribadi tentang karir yang sifatnya pribadi juga. Tujuan saya untuk meng-encourage orang-orang yang mao lanjut sekolah, bukan untuk mengecam mereka yang sudah bekerja
        🙂

      • wekekekkek,, anda gk bisa membantah kalo setelah kuliah itu identik dengan kerja kantoran, pegawai bank,dll anda bisa melakukan apa saja yg anda mau tapi mungkin krn ga tau lagi mau ngapaen ya terpaksa lanjut kuliah lg deh ampe s3 pula tuh wkekekeke,, wekkeekek,, punya jalan masing”..hahakhakhak.. jalan masing” kmana sih ? ke dimensi lainkah? ke planet mars? akkakkk tahun 2020 tuh manusia pertama mo kesana.. presiden iran tuh katanya mo kesana si presiden tukang ngancam. wekekke.. ya udah anda luluslah ampe s3 baru ke planet mars deh berkarya disana kalo bisa buat peradaban manusia pertama disono wkkwkakwka soalnya menurut pak prof manusia mau punah 1 miliar tahun ke depan.. wakakak Hala Science wkkekekwkkw

      • “krn ga tau lagi mau ngapaen ya terpaksa lanjut kuliah lg deh ampe s3 pula”

        Terpaksa ? kayaknya engga deh, saya enjoy koq.

        > “punya jalan masing”..hahakhakhak.. jalan masing” kmana sih ? ke dimensi lainkah? ke planet mars?”

        Anda makin ngaco😦

        > “presiden iran tuh katanya mo kesana si presiden tukang ngancam”

        keliatannya Anda skeptik sama banyak hal ya, mungkin Anda juga pernah banyak komentar di media online, atau di blog orang lain yang Anda ga suka secara pribadi.

        > “ya udah anda luluslah ampe s3 baru ke planet mars deh berkarya disana kalo bisa buat peradaban manusia pertama disono ”

        See you are so sceptic in many things which you don’t like Komen nya jade kemana-mana, argumen nya juga jadi absurd

      • skeptic on many things.. i think u r right. i dont believe in many things. i dont see things in black or white.

        saya ingin meminta maaf jika banyak perkataan saya yg tidak dienak di hati. anggap saja saya hanya sampah yg terbang tidak ada tujuan. Cheers, Love Life.

      • Skeptic is no problem. We are skeptic in some ways. But we should learn how to express our opinion in a good and respect way and not offense people🙂

        Ga apa-apa koq, hehehehe…🙂

        ________________________________

    • menurut saya hak setiap manusia menentukan jalan hidupnya masing2, mau kerja kantoran seumur hidup / mau kuliah seumur hidup sama aja…yg penting selain berguna utk bangsa & negara, juga bermanfaat untuk akhirat nanti, Tuhan ngga pernah melarang manusia utk berhenti menuntut ilmu, justru tuntutlah ilmu sampai ke liang kubur karena ngga pernah ada rugi nya belajar itu, hehehe…

  5. halo salam kenal, saya kagum bgt sama Anda yg dapet beasiswa ke jepang (pengen banget!! I love japan ^^) saya seorang pekerja kantoran yg dah 8 tahun bekerja dan (entah kenapa) mengalami titik jenuh…kepengen dapet beasiswa dan lanjut kuliah di luar negeri semacam 2-3 tahun, lalu balik ke indo utk berkarya kembali (baca : kerja kantoran lagi :p) hehehe…

    • Halo salam kenal juga, mbak…

      Iya, kalau ada kesempatan ke Jepang ya ke sana aja, mbak. Seru tuh di sana… Ya, 2-3 tahun cukup untuk dapet pengalaman belajar dan pengalaman di negeri orang dan niat mbak bagus, kembali ke tanah air…

      • iya, niat saya begitu….tp krn Anda bilang begitu sy jadi kepikiran ini : gimana dgn Anda apakah anda ada niat kembali ke indo lagi? kadang saya dengar cerita mahasiswa indo yg ngga mau pulang setelah selesai kuliah di LN, padahal bukannya ijin kerja cuma dapet 6 bulan ya setelah tu hrs balik ke negara masing2…?

      • Iya, berniat kembali lagi ke Indonesia… anyway, memang memaksakan diri untuk kembali dengan mengambil beasiswa dengan ikatan kontrak 9 tahun🙂

  6. klo berdasarkan pengalaman saya, sejujurnya ketika saya ambil s1 lebih krn ingin mudah mendapat pekerjaan dan bergaji lumayan. maklum belum punya kesempatan berwirausaha. jadi usaha yg dilakukan masih mengikuti aliran mainstream: kuliah s1 dulu trus bekerja.

    ketika lulus s1, semua teman saya langsung bekerja. karena saya riset s1 di perusahaan berbasis riset. jiwa riset dan rasa ingin menjelajahi luar negeri begitu memuncak. alhasil, alih2 saya langsung bekerja malah kepengan ambil s2, dan beruntungnya baru lulus dapat lowongan s2. karena adanya kesempatan dan ingin mendapatkan pengalaman berbeda dari orang lain akhirnya lowongan s2 saya ambil hehe.

    kesempatan mencari ilmu tidak mudah didapatkan bagi setiap orang lain. teman2 saya yg sudah bekerja saja banyak yg iri dan pengen ambil s2 tapi gak kesampean. klo masalah titel biar keren2an mah gak pernah kepikiran. saya di kartu nama gak pake gelar. kartu undangan kawinan jg gak pake. klo nulis surat dsb jg gak pake. krn emang merasa gak penting. dan gak pengen disombong2in.

    skrg setelah bekerja beberapa tahun, saya berencana meneruskan studi untuk ambil s3. lagi2 bukan krn pengen dapet gaji lebih gede. tp karena KEBUTUHAN. klo anda bekerja berbasis penelitian. kebutuhan untuk mencari ilmu sangat tinggi. dan dg s3, saya berharap mendapatkan pengalaman riset dan perluasan daya nalar dalam hal penelitian.

    dan klo anda pengen gaji gede, jangan ngandelin dari tingginya gelar tapi berwirausahalah. ^^V

    • Stuju Mr Baidillah… kalo karena kebutuhan ya itu faktor intern, motivasinya akan lebih terjaga ketimbang ngejar gelar atau penghasilan…

  7. Salam kenal pak Chris, sekarang sy jg lagi galau apakah harus lanjut kuliah atau tidak?? sempat bbrpa bulan kmrn sy semangat bgt bt apply beasiswa. Namun sy agk ragu utk lanjut kuliah krn rendahnya kemampuan menulis sy (dikarenakan skripsi sy hasilny jelek😦 ), pdhl tugas utk menulis d kuliah S2 kan hmpr ada d stiap perkuliahan. Saya takut nntinya kuliah sy bs molor ato mlh berhenti di tengah jalan. Mungkin Bpk bs berbagi pngalaman utk mngtasi kgalauan y sprti itu??
    thx before

    • Halo salam kenal Mbak Fida… Wah, kalo mao lanjut sekolah sih emang mesti sepenuh hati, kalo ga tar di jalan bisa kehabisan motivasi…🙂 Tentang kemampuan menulis bisa dilatih koq🙂 Yang penting itu ya niat dan konsistensi dalam melakukan studi…🙂 Mungkin kita bisa diskusi by email…

  8. Halo Pak Chris, terima kasih atas sharing pendapat dan pengalamannya dalam semangat menuntut ilmu, saya jadi semangat buat lanjutin S3 dan target saya ingin ke Jepang.

    Saya sendiri sedang menyelesaikan tesis saat ini, Saya menekuni bidang pemasaran, kebetulan Pak Chris pernah ke Jepang, ada saran sekolah S3 di jepang yang bisa saya pertimbangkan terutama bidang marketing.

    Terima kasih sebelumnya.

    • Halo juga, salam kenal… wah, ikut seneng kalo bersemangat untuk sekolah lagi. Kebetulan bidang saya sains, waktu di Jepang dulu saya tahu nya sekolah-sekolah based on science ato engineering, mungkin kalau bidang marketing bisa googling saja dan cari peluang beasiswa nya…

      Ada sih yang saya tahu, nama univ nya Kansai Gaidai University di Osaka… mungkin bisa liat ke situs nya dulu. Salah satu dosen nya itu jadi salah satu master presentasi/marketing yang terkenal di dunia…🙂 hanya satu nih yang saya tahu…

  9. Halo pak Chris,,salam kenal
    saya adalah salah satu manusia yang sangat mencintai pendidikan,,bukan karna gelarnya,tapi selama saya kuliah s1 n s2 bukan hanya pengalaman dan ilmu saya yang bertambah, tapi teman saya juga bertambah..saat ini saya bekerja sebagai salah satu tenaga pengajar di Univ n sekaligus sebagai seorang konsultan…saya masuk kampus pagi sampai sore,,plg dari kampus saya lanjut ke pekerjaan konsultan…Tapi dari kedua aktivitas yang saya jalani, saya merasa bahagia,,karna saya bekerja sama dengan orang2 yang membuat pekerjaan saya bukan sebagai suatu beban tetapi sebagai suatu hiburan…”edisi curhat pak,he2″..saat ini saya punya niat untuk lanjut s3 n saya betul2 punya keinginan lanjut s3 di LN….pertanyaan saya pak dibalik pembuka yang panjang lebar diatas,,Bagaimana cara bergaul di Negeri orang terutama di Jepang karna saya yakin karakter bangsa yang berbeda tentunya memiliki budaya bergaul yang juga berbeda…

    • Halo mbak Risna, salam kenal juga. Wah, kegiatannya sibuk juga ya, dari pagi sampai malam. Hehehe… Ya kalau yang suka nya pendidikan sih, pasti akan enjoy jalanin nya (walo akan ketemu hambatan juga nantinya).

      Kalau bergaul sih, intinya tenggang rasa, mbak. Memang agak sulit menyesuaikan ama orang-orang Jepang itu, apalagi ama disiplin kan rate kerja kerasnya yang kagak susah untuk diikutin. Selama saya di sana sih ya enjoy-enjoy aja, bahasa memang agak jadi masalah untuk mereka, karna komunikasi dengan saya dan teman-teman lebih banyak pakai bahasa Inggris.

  10. hallo salam kenal

    saya mau tanya apakah jika kita dapet beasiswa s2 ke LN ntar setelah balik pasti dapat kerjaan atau tidak ya. karena saya sekarang ini bisa di bilang kerjanya lumayan enak.

    mav sebelumnya klo motivasi saya ingin mendapatkan penghasilan yang lebih baik

    • Kepastian bekerja setelah lulus itu ya gada yang bisa jamin… mungkin kalau mau ada jaminan ya bisa masuk program studi S2 luar negeri yang memang memiliki kontrak kerja dengan salary yang mbak inginkan…🙂

  11. terima kasih postingannya pak. sangat menginspirasi saya dalam kebingungan beberapa hari ini. semoga bisa bermanfaat utk banyak orang. mari memperdalam pendidikan utk memajukan bangsa.

  12. mas chris,
    Saya berasal dari Kalimantan Timur/Utara.
    beberapa bulan yang lalu saya sudah diwisuda Alhamdulillah gelar S.E.
    apa yang ada di artikel ini, kurang lebih sama dengan apa yang saya pikirkan.
    Insha Allah saya akan melanjutkan program MBA di UGM (kalau lolos, seleksinya September nanti).
    tapi, saya mau tanya beberapa hal, mungkin juga ke teman-teman yang komen di atas,
    awalnya gini dulu, S1 saya Akuntansi, dan saya mau ambil program MBA, which is ini manajemen. Goal-nya, saya mau menjadi seorang pebisnis, yang expert maksimal, dan, tentunya menjadi seorang biz consultant yang akan nolong pemilik bisnis level UMKM untuk dikembangkan, dan semoga bisa jadi bisnis level mid atau high class biz. Saya melihat di daerah sini, begitu banyak Potential Sleeping Market bisnis yang saya rasa kalau itu dikembangkan, maka akan sangat sangat menolong banyak pihaklah.

    pertanyaan saya, sudah tepatkah langkah yang akan saya ambil ini?
    apakah keinginan saya untuk punya bisnis dan jadi biz consultant utk bisnis level UMKM, hanya cukup dengan pendidilkan saya di S1?
    saya memang akan membiayai kuliah ini nantinya (kalau keterima), dengan biaya dari orangtua dan sodara-sodari saya, (saya anak terakhir), atas ini, jahatkah saya?
    orang tua dan kakak saya memang nyuruh lanjut, krn ngaca dari pengalaman mereka semua yang mau ambil S2, terhalang kondisi krn mereka telah berkeluarga dan sibuk, jadinya saya yang di support, tapi saya merasa kasian, karena biaya kuliah MBA yang super, nah, jahatkah saya? Apakah sebaiknya saya kerja dulu, buka usaha dulu, atau langsung lanjut studi master?

    saya berfikir, bahwa saya harus bisa bermanfaat kepada masyarakat sekitar saya, sukur sukur buat bangsa, dengan menjadi pengusaha yang akan membuka lapangan pekerjaaan dan menjadi seorang biz consultant yang langsung terjun ke masyarakat dan berbagi pengetahuan ke meraka, dan mencoba menolong mereka untuk mengembangkan usaha mereka yang potential, daripada harus ngantor dan bekerja untuk perusahaan orang.

    mohon maaf kepanjangan, namanya lagi nyari jati diri..😉

    • Wah, cita-cita masbro mulia banget tuh. Hehehe…

      Saran dari saya ya lanjut saja kuliah S2. Saya kira ilmu yang akan didapat di level Master memang sangat berguna untuk profesi seperti masbro ini. Jadi lanjut saja, apalagi saya kira biaya udah banyak yang mao bantu tuh…

      Iya, kita mesti berguna untuk masyarakat sekitar, memberikan kontribusi nyata. Saya setuju…

      So, lanjut S2 saja mas… hehehehe…

      • Selamat Siang Mas Chris,

        Pertama tama,sedikit nyesel baru nemu blog-nya mas in early 2015 ini.Tapi tak ada kata terlambat bukan untuk belajar dari pengalaman Mas Chris ?.Saya ada sedikit sharing yang sedikit mirip dengan yang dialami Mas As Li.Kebetulan saat ini saya bekerja di sebuah kontrakstor swasta besar di Jakarta,posisi di site engineer.Di kontraktor tersebut saya semakin tertarik dengan dunia konstruksi,meskipun saya yang sebenernya lulusan Arsitektur yang sudah jelas jelas berbeda dengan ranah Konstruksi Sipil.Dari keseharian di lingkungan proyek tersebut, semakin ada dorongan dalam diri saya untuk mengambil S2 di Bidang manajemen konstruksi. Keinginan mengambil S2 semakin menjadi jadi dikarenakan saya dan mantan mantan rekan saya dikantor konsultan arsitektur di Bali berikrar untuk pasang target dalam 7-8 tahun kedepan kami berkumpul dan mendirikan PT di bidang design n Build.Rekan rekan saya saat ini berpencar,ada yang di China,Singapore,dan Bali,mereka semua ada di bidang konsultan Arsitektur,sedang saya ada di lingkungan konstruksi. Kami berpendapat bahwa dengan masing masing keahlian tersebut bisa dijadikan modal untuk berwiraswasta kelak.
        Menurut saya S2 dimata saya tidak semata mata untuk mengejar gaji dan karier dalam suatu perusahaan,tapi lebih ke sisi melengkapi ilmu yang memang saya perlukan untuk berwiraswasta nanti.menurut mas gimana?mohon bimbingannya.Matur suwun.

  13. Salam kenal Mas, saya Rahma. saya membaca blog anda ini memang lagi galau abis dengan rencana masa depan saya. saya sangat setuju dengan pendapat belajar itu adalah kebutuhan, dan pilihan hidup masing2 individu. Memang banyak orang yang berkontribusi bagi kemajuan peradapan bangsa tanpa menempuh pendidikan formal, tp bagi saya pendidikan formal adalah salah satu cara agar dapat menjadi seseorang yang bermanfaat setidaknya bagi diri sendiri. saya menyelesaikan S1 pada tahun 2009, sebenarnya sebelum lulus saya sudah ditawarkan untuk melanjutkan S2 di dalm dan di luar negeri. sayangnya pada saat itu saya mengabaikan kesempatan yg ada dengan alasan tidak mendapat restu dari ortu. bekerja bukanlah keinginan saya, kbersekolah juga tidak mendapat restu, pada akhirnya saya mengambil jalan bekerja dengan pikiran mengabdi kepada ortu. tahun pertam kerja saya merasakan pekerjaan saya adalah tantangan, tahun kedua adalah masa2 seru dengan penghasilan yang lumayan, tahun ketiga justru saya merasa berada dalam zona nyama yang sedikit demi sedikit memberikan tekanan pada kejiwaan saya. Pada tahun ketiga saya merasa mulai bingung tentang apa yg sedang saya lakukan, apa yang saya inginkan, knp kok hidup begini2 aja, datar bgt hidup, ga asik bagt sih hidup ini, sampai2 stress berat melanda pikiran saya. saya sangat menyukai dunia penelitian, dan penulisan karya ilmiah adalah kesenangan bagi saya. keindahan2 dunia perkuliahan, penelitian, dan perjuangan menulis karya ilmiah selalu teringat (memang terdengar klise tp yaaaa bgtulah adanya hehehehe….). dengan segenap tekanan yang datang dari sendiri ini akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar S2 di UI dan diterima, tentunya tanpa restu ortu. sebenarnya pada saat itu saya terobsesi kuliah di jepang. saya mengundurkan diri dari pekerjaan dan memulai masa perkuliahan tanpa dukungan ortu. tanpa dukungan ortu berarti harus bertanggung jawab atas kondisi ekonomi diri sendiri. Pada saat ini saya baru memasuki semester 3, dan sedang bersiap2 menyelesaikan tesis di semester ini (ini ambisi pribadi saya). tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, saya sanagt menkmati masa studi saya ini. untuk menjaga kestabilan ekonomi dirisendiri saya bekerja menjadi guru di sebuah sekolah turki dari pagi sampai sore dan dilanjut lagi menjadi guru bimbel. hal ini memang diluarprediksi saya, sebuah rutinitas yang sangat padat, kuliah, kerja, penelitian. kalau dipikir2 memang terdengar sulit, tp sejauh ini saya menikmati indahnya perjuangan ini.
    sekarang saya sedang galau memilih mempersiapkan diri untuk beasiswa S3 (ke Jerman? korea? prancis?) atau malah mempersiapkan diri untuk ikuut ujian negara menjadi CPNS? atau bekerja di perusahaan swasta yg berbasis riset? atau tetap menjadi seorang ibu guru? ini benar2 membingungkan bagi saya. cita2 saya menjadi dosen yg tetap melakukan penelitian tp juga memiliki pengalaman banyak dibidang yang sedang saya pelajari, dengan tujuan disaat saya berbagi dengan mahasiswa saya nantinya tidak hanya sebuah cerita diatas kertas tp saya benar2 terlibat didalamnya. oh ya saya kuliah jurusan material science UI dan alasan ortu saya tidak mengijinkan kuliah yaitu pernikahan (maklum anak perempuan hehehehe).
    makasih ya udah baca curcol saya yg super panjang ini. makasih tulisan Mas memberi semangat bg saya untuk segera menyelesaikan studi. dan saya harap ada saran, ataupun solusi dari Mass Chris yg sudah banyak pengalaman yg luar biasaaaa….. hehehehe.

    • Wow… kisah nya mbak bisa kasih inspirasi bagi mereka yang ga dapet ijin ortu tuh… Memang sih, ada yang berpendapat hal tersebut sama kayak melawan orang tua. Tapi ya saya kira, kalau bisa dikomunikasikan sama orang tua, why not ?

      Saya sendiri sekarang ada di bidang material science, mbak. Hehehe… jadi kita senasib juga ternyata.

      Kalau saran saya sih, mbak tetap lanjut saja S3, apalagi saya ngeliat semangat mbak yang besar banget untuk tetap berkuliah. Salut banget sama mbak.
      Nanti setelah S3 baru ikutan CPNS dosen di Indonesia. Mungkin itu sih saran dari saya…🙂

      • Waaaaahhhh…..Mas material science jg? hehehehe bisa nyambung banget dong kl ngobrol harusnya….hehehe. btw lagi ngerjain apa sekarang? untuk tesis sy lg ngerjain permalloy. saya ingin sekali desember 2013 inni sidang dan pertengahan 2014 udah siap berngkt S3 german. ayo semangat penelitian… saya setuju sekali pernyataan mas diartikel yg lain: yang terpenting adalah komitmen bukan motivasi.

      • Iya nih, lagi di Material Science sekarang. Sekarang lagi ngerjain material perovskite dan organic graphene. Waw, sudah dapatkah beasiswa Jerman nya ? Keren… cepat-cepat sidang lah, hehe…

  14. kebetulan sekali saya mampir di blog ini. saya mahasiswa S1 tahun akhir, dan sedang dalam masa galau-galaunya.

    karena kondisi keluarga saya pinginnya setelah lulus langsung kerja, tapi ada yg menyarankan lanjut S2 dan sebenarnya saya juga ingin lanjut S2.

    kalau boleh sedikit curhat, sebenarnya jurusan saya di S1 ini agak tidak sesuai dengan minat saya, jadi ada keinginan mengambil S2 yang berbeda dengan jurusan S1 saya. saya sudah cari informasi kalau di dalam negeri ada mata kuliah pilihan yg memungkinkan kita yg berbeda jurusan mempelajari materi-materi yg dibutuhkan di S2 tapi tidak kita pelajari di S1. saya ingin tahu apakah di luar negeri juga sama?

    terima kasih sebelumnya pak.

    • Saya kira di luar negeri juga sama. Kita bisa mengambil mata kuliah pilihan yang kompetensi nya berbeda dengan S1 kita. Untuk lebih jelasnya memang mesti cari informasi di universitas yang bersangkutan.

  15. Kuliah di jepang hrs bnr2 bs bhasa jepang dlu ya? Kuliahnya pke bhs jepang bgitu?

    Siapin les bhs jpang di indo dlu, atau gmna sih?
    Mkasih sblumnya, Gb🙂

    • Belakangan syarat bahasa Jepang sudah tidak mutlak perlu. Waktu saya belajar di sana pun (kelas internasional), semua kuliah dan percakapan sehari-hari bersama dosen dalam bahasa Inggris. Saya kira memang tergantung dari program yang ditawarkan univ di Jepang.

  16. salam kenal, dulu kini dan insyaAllah nanti saya masih berambisi truz menuntut ilmu. tapi perbedaanya ambisi dulu dan skarang berbeda.klo sudah berumah tangga orientasinya sudah berubah.sudah ada tanggungan. saya jg sangat2 bosan dg rutinitas pekerjaan yg ada. tapi keadaan memaksanya demikian,jika tidak kebutuhan keluarga dr mana terpenuhi.inginnya kuliah cari beasiswa tp gagal truz…

    • Kalau sudah berkeluarga memang lebih sulit, walau bukan hal yang mustahil. Saya punya beberapa teman yang sudah berkeluarga, namun masih bisa sekolah di negara lain. Akhirnya memang keluarga nya semua dibawa ke negara tersebut, anak-anak nya bersekolah di negara tersebut. Saya kira sulit, tapi bukan hal yang mustahil.

  17. Menurut saya orang yang paling bahagia adalah orang yang bisa mendapatkan uang dengan melakukan apa yang dicintainya. Bagi anda dan saya, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang kita cinta, Ilmu pengetahuan adalah candu bagi kita.

    Karena itu PhD adalah proses alamiah bagi pecandu ilmu pengetahuan.

    Kapan lagi kita bisa dibayar untuk melakukan riset, ngutak atik equations di Matlab dan Mathematica, membaca buku dan journal di bidang yang kita minati sambil menikmati budaya dan alam di negeri yang indah di luar negeri….

    Kalau masih single, saya ingin sekali mengambil postdoc, PhD kedua, ketiga, keempat….. melakukan riset di lab hingga jauh malam………..

    Sayang ketika menikah, saya menyadari bahwa S c i e n c e tidak bisa menutup kebutuhan hidup berkeluarga. Tidak di luar negeri, apalagi di Indonesia. Except if you become a tenured prof. And everybody knows getting tenured is as probable as getting a lottery.

    Jadinya saya tinggalkan kenikmatan-kenikmatan tersebut dan bekerja normal di kantoran seperti orang kebanyakan. Bekerja di industri.

    Sekarang aktivitas saya sehari-hari adalah bermacetan ke kantor….Berdasi, meeting pagi sama anak buah, meeting siang sama management, presentasi ke klien…..kerja sampai malam, presentasi sales, reporting ke management… pulang jam 11 malam… every day. Sales Sales Sales, Revenue, Revenue Revenue itu saja yang saya dengar setiap hari…….. Tapi at least dapur ngebul… at least keluarga saya bisa hidup…

    Good bye access to the frontier of science, great journals, great professors, good bye perjalanan-perjalanan ke negeri-negeri indah untuk conference…..good bye good PhD mates at my lab where we can discuss many interesting things in science hingga larut malam….. Good bye Equations !!

    in the real life people don’t care about beautiful equations, they only care about Income Statement, Balance Sheet and Cash flow statement….

    In the real life people don’t care about your publications, equations and patents you have invented or PhD thesis you wrote, they just want to know how much revenue you can get for to the company….. you are just a number to them.

    Enjoy PhD life while you can……. it will be the most beautiful memory of your life. Take it as a DREAM now. but remember someday you have to wake up.

    Somehow you will have to come to the “real world” and it sucks. But it will come, soon or later.

    But don’t worry, people will adapt…you will adapt….when the time comes, you will talk and think more about Debt Ratio and Account Receivable than Stochastic modeling and Thermodynamics….and who knows….you might enjoy it……like Prof Rudi Rubiandini…..hahaha…

  18. Mas chris, salut sekali dengan segala alasan dan apapun pilihan anda diatas. sejujurnya saya benar2 sedang dalam keadaan yang sangat bingung apakah saya harus bertahan dijalur mainstream yaitu memaksakan hati dan tenaga saya untuk terjun di dunia kerja atau memberikannya kebebasan berkreasi di ranah master degree.

    ada preasure dari orangtua untuk bagaimana caranya agar saya ttp kerja, “Sekolah lagi nanti sajalahhh.. gak penting banget”<<–kira2 begitu.
    saat ini status saya memang jobseeker, tapi alasan saya untuk S2 bukan karna saya gak tau mau apa lagi.. tapi sprti yang diats mas chris blg "ada rasa addict".. saya candu untuk belajar.. saya merasa ilmu saya masih sangat kurang! and I need to explore and doscover anything..

    saya pernah mengikuti sebuah pertukaran pelajar yang agak lama di eropa, hal itu pulalah yang menambah keinginan saya untuk step away from this comfort zone.. yah.. tapi semua terhalang karna restu orang tua.

    mas, kira2 apa yang harus saya lakukan ya kalo mas ada di posisi saya? mas punya cara jitu kok gimana caranya convince orangtua saya bahwa saya ada dijalan yang gak salah kalo saya ttp kekeuh mau S2.

    maksih mas sebelumnya

    • Halo, salam kena juga…

      Hmm… kalau orang tua saya sih, ngedukung saya untuk sekolah terus… So, kayaknya saya ga punya background pengalaman seperti mbak. Anyway, saya kira caranya dengan ngasih tau bagaimana beasiswa akan menjamin hidup anda nanti ketika sekolah lagi.

      Karena yang kebanyakan orang tua ga tau adalah sebenarnya nominal beasiswa yang kita dapet tuh lebih besar daripada kerja. Kayaknya emang harus lewat jalur situ sih…🙂 Jadi ya memang harus dijelaskan baik2…

      Sama-sama mbak, semoga membantu.

  19. sangat menginspirasi mas.
    semoga saya dapat mengikuti jejak mas.

    saat ini masih semester 6.
    pengen banget kuliah S2 bahkan S3 di Luar negeri🙂

  20. Salam kenal Pak. Membaca pengalaman Bapak tentang melanjutkan sekolah di luar benar – benar menginspirasi. Saat ini saya sendiri berada pada fase galau antara kerja atau kuliah. Pada dasarnya saya mau banget melanjutkan kuliah di luar, tapi banyak sekali kecemasan – kecemasan yang saya khawatirkan. Mulai dari kendala bahasa dan juga sifat saya yang cenderung pemalu serta tidak berani untuk tampil di depan buat saya maju mundur untuk apply beasiswa s2 di LN. Selama studi di Jepang, beasiswa yang Bapak dapat full beasiswa + biaya hidupkah? Yang paling sulit saat pertama kali menginjakkan kaki di Jepang dalam hal apa Pak?

    • Halo, salam kenal juga…🙂

      Beasiswa yang saya untuk S2 (Jepang) dan S3 (Perancis) dapat itu full beasiswa (biaya kuliah, buku dan biaya hidup). Saya rasa yang paling sulit ketika itu adalah penyesuaian cuaca dan makanan. Untuk kendala bahasa tidak terlalu karena kelas internasional, perkuliahana dan riset menggunakan bahasa Inggris.

  21. Dunia INI nggak ada yg gratis termasuk beasiswa. Anda dikasih beasiswa pun ada harganya yaitu dimasuki ideologi Dari bangsa lain entah ITU baik atau buruk.

  22. SAYA BINGUNG MAU KULIAH AMBIL JURUSAN APA S3-NYA SEDANGKAN S1-NYA BAHASA INGGRIS DAN S2-NYA MANAJEMEN?MOHON MASUKAN DAN PETUNJUK

  23. Hi Chris,

    saya senang bisa stumble upon artikel ini, thanks for writing it. sedikit mengenai background kenapa saya bisa terbawa ke topik ini karena sekarang saya baru menyelesaikan master study dari India, dan sejak kembali ke rumah, sampai saat ini saya masih struggle untuk mencari lowongan PhD, job lain di akademik, dan juga industri. saya belum tau apa yang akan saya dapatkan, motivasi saya untuk menjadi researcher di bidang saya ada karena saya berniat untuk melanjutkan project thesis saya sendiri atau involve dalam project yg berkaitan (mungkin dengan approach, metode, fasilitas, dan supervisor yang lebih advanced ya😀 … semoga…)

    tapi yang saya tidak bisa berhenti pikirkan setiap pagi adalah apa setelah PhD? saya ingin sekali bisa masuk ke bagian R&D di private industri dan tidak me-limitkan diri di karir akademik. namun, saya tidak tahu kemana saya harus belajar menyeimbangkan pengalaman kerja di dunia luar dan pengelaman penelitian di lab. andai saja, ada tes untuk menentukan ini😦

    terus.. komen tambahan nih, tidak berhubungan dengan pertanyaan saya di atas, salah satu alasan anda untuk tetap menempuh PhD adalah karena anda curious, well saya merasakan hal yang sama! mungkin ini adalah fuel yg palih ampuh buat saya. seorang scientist pernah memberi nasehat ke saya waktu saya bimbang dengan ke-mediocre-an saya “If, deep down, you really couldn’t imagine things any other way, then maybe the answer is to redouble your efforts and try to get as much out of your Master’s degree as possible.”

    plus, mungkin ada beberapa infection research enthusiasts di dalam dan luar Indo yang lagi struggle juga #shoutout

    (sorry kepanjangan)

    • Hallo, salam kenal…

      Wah, bagus tuh kalo punya alasan yang muncul dari diri sendiri untuk lanjut PhD. Semoga bisa dapat PhD dengan topik yang sesuai. Hehehe…

      Ya, kalau PhD masuk industri dan jadi R&D kayaknya jarang nih di Industri Indonesia. Mereka kebanyakan menggunakan akademisi sebagai konsultan. Tapi ya kalau di luar negeri sih banyak, dimana Industri punya departemen R&D yang isinya PhD.

      • Hi, again.. thanks, Chris. saya juga berharap demikian. ntah cuma saya yang lebih malas dari orang lain atau memang peluang dan proses masuk jadi peneliti/asisten peneliti di Indonesia tidak terbuka jelas. gak gampang di-browse dimana ada opening dan tinggal upload dokumen lamaran *sigh* harus ketemu doctor-to-doctor di setiap univ untuk menanyakan apakah ada peluang😦

        anyway, lebih baik jika keluhan2 ini jadi reality check, ya. hmm.

        oh, ya. beberapa referensi nih, klo ada yang procrastinating (because we’re human :P) mungkin tartarik untuk cek komedi “the PHD movie” dan melirik buku ini “Surviving…” http://goo.gl/FTi7nG. karena uhm, though it’s not bad at all but well.. our failures are expected, no? hehehe

      • Hai lagi pak… kalau peneliti di Indonesia ya kalau ga ke akademis/kampus ya paling ke LIPI atau BATAN, hehe… tapi untuk sektor swasta kayaknya susah di Indo. Anyway, saya prefer ke akademik karena lebih “bebas” aja pak, gada aturan yang terlalu mengikat seperti di perusahaan, hehehe…😀

        The PHD Movie saya udah nonton, hehehe dan ngikutin komiknya sejak S2 dulu.

        Untuk buku nya kayaknya lum pernah saya baca, ada juga beberapa referensi lain yang mungkin Bapak mau baca:
        1. How to get a PhD – Estelle M. Philips
        2. Mastering Your PhD – Patricia Gosling
        3. The Unwritten rules of PhD Research – Gordon Rugg

        hehehe… cheers…

  24. haloo..
    saya ri sy bru lulus s1 dan jika tidak halangan sy akan lanjut s2 tahun ini.
    sbnarnya sy brencana mengikuti seleksi beasiswa k jepang sambil mencoba usaha kecil2an untuk mengisi kegiatan, sama seperti pa chris, sya tidak suka dengan rutinitas kantor..

    saya sempat bingung harus apa setelah lulus kuliah. terlebih saya tidak punya keinginan yg kuat untuk mencari kerja-kerja kantoran mksudnya. sya lebih tertarik buka usaha dan saya ingin lanjut s2.lebih bebas-menurut saya

    alasannya bukan karena gelar.saya juga tidak bgitu peduli gelar. terbukti ketika kuliah saya tidak terlalu berambisi dapat nilai a.saya lebih suka menikmati ilmu yg saya pelajari dan tidak peduli dengan nilai hasilnya-tapi yah..alhmdllh g buruk dapet nilainya.hehe

    kemarin saya sempat ikut seleksi masuk ptn untuk s2.alhmdllh jg ktrima. nah saya mulai bingung skarang.

    apa jalan saya sudah benar?
    saya ingin ngejar beasiswa k jepang tp orang tua tidak setuju dan bilang kamu kuliah di sini aja.gpp g pake beasiswa jg.

    tp saya yg g enak.ketika ngeliat seluruh teman lain sudah kerja dan punya penghasilan sendiri.sya ngerasa g berguna dan jd brfikir lagi apa saya salah langkah?

    usaha saya juga masih kecil2an jadi saya rasa tidak cukup membiayai semua biaya itu.saya emang niat bantu ortu d toko sambil kuliah. atau mengajar d sekolah kenalan ortu.

    tp tetep saja ada yang mengganjal.

    saya ingin saran,apa keputusan saya menerima s2 d ptn ini tepat?degreenya lebih baik dati ptn ketika s1 saya.

    apa saya mening menunggu beasiswa saja?sambil terus berwirausaha ketika menunggu itu.saya tidak ingin membebani orang tua saya

    trimksh..

    saya salut atas keinginan bljar anda.smoga ilmu yg anda pelajari selama.ini dapat berguna dkemudian hari nanti ketika anda telah lulus.

    • Hello Ri, salam kenal and sorry for late reply, kind a busy these days…

      Saya rasa sih, kalau kita enjoy dengan apa yang kita lakuin mestinya gada rasa ragu. Anyway, keraguan kayak gini juga sering ada di benak saya, apalagi liat sekeliling, liat teman yang sudah bekerja dan ada penghasilan, sementara saya masih mengandalkan beasiswa. Hehehe…
      So, saya rasa tetaplah lanjut S2, karena sepertinya anda enjoy di situ.

      Anyway, mengenai S2 yang mana; dalam atau luar negeri. Dua-dua nya ada kelebihan dan kekurangan masing-masing, pengalaman nya pun berbeda-beda. Ya, untuk hal ini lebih baik untuk dipikir lebih matang tapi kalau ada kesempatan ke luar negeri ya kenapa engga ?😀 Mengenai orang tua ya tentu mesti diajak komunikasi juga.

      Gitu sih… So, jangan ragu aja ya, keraguan muncul ketika kita lihat kanan dan kiri😀

      • sya rasa sya akan coba ambil s2ny..nanti sya coba cari beaaiswa dr dalam kampusnya..
        semoga ad.
        sya skalian menemani ortu yg drumah sndirian.
        minimal sampai adik saya lulus..mungkin nanti klo ad ksempatan seperti bp sya coba ikut beasiswa k luar..

        sambil terus buka toko ini.agak melenceng dr jurusan memang.tp saya suka.hehe

        iya.kadang kalau liat kanan kiri jadi goyah..
        jadi sempet bingung apa keputusan yg kita ambil ini tepat atau g..

        mksh atas sarannya..sangat membantu..sya awalnya sangat bingung hrus apa.tp saya yakin ttng keputusan ini sekarang..

        sukses selalu dsana

  25. mas Chris, mau tanya. Melanjutkan komentar saya sebelumnya (paling atas), saat ini saya sedang menunggu pembukaan S2 di salah satu universitas di Jakarta (jika ada kelas sore/malam) dan saya berencana mengambil jurusan matematika, khususnya applied math (latar belakang saya adalah IT). Alasan saya ambil S2 karena saat ini pekerjaan saya lebih banyak berurusan dengan operasional IT dan sudah tidak banyak development server lagi sehingga saya merasa sudah tidak banyak yang bisa saya pelajari lagi. Harapan saya setelah melanjutkan S2 (kurang lebih 2 tahun), yaitu saya bisa punya gambaran yang lebih luas sehingga bisa melakukan hal-hal yang lebih “besar” dari pada yang saya lakoni sekarang, misalnya menjadi konsultan atau peneliti. Nah, mengingat umur saya sudah 37 tahun, apakah saya tidak terlambat untuk memulai – terlebih jika harus melanjutkan S3 di umur sekitar 40? Apakah mas Chris punya pengalaman atau berelasi dengan mereka yang banting stir di umur, katakanlah, 40 tahun ke atas? Terima-kasih sebelumnya.

    • Halo… pilihan ke Applied Math cukup bagus kok untuk yang berasal dari dunia IT. Saya ada kenalan yang ngelakuin itu juga. Well anyway, saya ada beberapa teman yang usia nya 35-40 tahun an yang sedang S2 dan S3. So, rasanya no problem, usia bukan masalah untuk menuntut ilmu…😀

  26. Saya bingung pak, disatu sisi, saya ingin bekerja, tapi disisi lain saya ingin melanjutkan kuliah dan menikah… Kalau ortu menganjurkan saya untuk melanjutkan kuliah dulu, dan habis itu menikah dan kerja… Tapi saya kadang jenuh dengan suasana perkuliahan, saya pengen bekerja… Tapi disisi lain, saya ingin menikah, bekerja, dan kuliah lagi/dilakukan dalam waktu yang bersamaan… maaf pak, malah curcol, terimakasih

  27. Halo Mas Chris, seneng deh baca artikel ini. Saya baru balik S2 kemudian bingung mau ngapain, sekarang sih lagi apply2 gawean walaupun sebenernya (diam-diam) masih pengen lanjut s3. tapi ngeyakinin orang tua kok ya susah ya ditambah, omongan ‘abis s3 mau ngapain?’, dan ‘perempuan sekolahnya jangan ketinggian, belum nikah pulak.’ *kemudian pusing sendiri*

    Eniwei, mas Chris sendiri udah mulai ada bayangan beres s3 mau ngapain? sukses terus ya mas😀

    • Halo juga… sama kayak saya, selalu ditanya “sekolah terus, kapan nikahnya ?”. Kalau saya ya jadi akademisi, jadi dosen di perguruan tinggi…😀 tentunya di Indonesia.

  28. Kalau kuliah S2 di luar negeri apa ada kemungkinan kerja di sana??? atau lulus langsung dikasih pekerjaan dan ga cari-cari lagi. Kalau yang seperti itu ada saya mau.
    Pekerjaan saya yang sekarang terlalu mudah dan membosankan. Bakat saya lebih baik dari itu. Jadi galau…
    Saya baru menulis blog juga untuk menyalurkan minat dan bakat saya, please visit
    http://sinaufem.blogspot.com/
    Terima kasih

    • Halo, salam kenal mas Rudhi.

      Kalau kuliah S2 di luar negeri ya setelah lulus terserah mao lanjut S3, kerja di sana atau kerja pulang ke Indonesia. Kalau memang ingin kerja di luar negeri ya memang ada kemungkinan kok. Banyak teman saya yang seperti itu.

      Iya mas, kalau memang pekerjaan nya kurang tantangan, jadinya ya monoton dan bosan…

      Oke, akan saya kunjungi blog nya.

      • Jadi masih harus hunting job juga ya? Ga ada ikatan dinas? langsung kerja kaya di STAN gitu…
        kalo ada kan enak tuh : ) Btw Anda jurusan apa ya?

      • Kalau saya ikatan dinas dengan pemerintah Indonesia, jadi harus jadi dosen setelah lulus…

        Saya jurusan Fisika, bidang keahlian komputasi

  29. Wah, Bagus Mas. Saya S1, Teknik Mesin. Tapi lebih suka simulasi dengan coding. Skripsi saya dulu pake’ finite difference untuk aliran supersonic. Sekarang belajar2 untuk yang finite element. Kalau Mas-nya mau bikin komputasi numerik mungkin saya bisa bantu. hehe… : )

  30. mnurut bpak…orang yg kmampuan akademik n bhs.inggris yg super duper standart bahkan mungkin dikatakan kurang (tp Insya Allah g bodo2 amat kok pak..:D) bisa gk melanjutkan s2 k luar negri dg beasiswa??

  31. mas Chris, saya galau hihihi….
    Kenalkan saya Rani. Tulisan anda sangat menginspirasi saya.
    saya orang yang suka belajar dan bermain. saya menikmati ilmu yang saya serap, menikmati proses belajar yang menyenangkan, saya menyukai observasi, mengamati perilaku manusia dan hewan (saya kuliah S1 psikologi).
    ketika menyelesaikan skripsi, perasaan saya antara gembira dan sedih. gembira akhirnya bebas dari tekanan ortu dan dosen (kapan kelar kuliahnya?? mau sampe kapan kuliah S1 hahahaha…) sedih karena saya tidak bisa belajar psikologi lagi di rumah. tidak menyenangkan rasanya membaca buku S1 sendirian dan tanpa tujuan. tapi saya kerap membagikan ilmu saya pada keluarga dan teman-teman ibu saya. sebab bagi mereka, lulusan psikologi itu seperti alien. menarik dan baru dan berbau supranatural.
    sudah 3 tahun berlalu sejak saya lulus S1. saya menjalankan bisnis online 2 tahun belakangan ini . teman2 ibu saya selalu mengeluhkan, kenapa ga kerja aja, sayang kuliahnya (bagi mereka bisnis online terdengar main2, padahal laba bersih yg sekarang saya dapat bisa 7x -10x lipat dari gaji bulanan karyawan fresh graduate) tapi saya tidak bilang. hanya saya, ibu saya dan Tuhan yang tau.
    sempat terpikir untuk kuliah S2. saya diam-diam memimpikan itu sambil membesarkan bisnis saya. dalam impian saya, saya mau membiayai sendiri.
    tapi ternyata ibu saya punya pikiran yang sama dengan saya. ketika ibu saya menyuruh saya kuliah dan membicarakan rencana-rencana untuk menguliahkan saya lagi, saya jadi takut. ibu saya akan memberikan uang kuliahnya, sedangkan untuk hidup sehari-hari, saya yang urus. saya senang suasana kuliah dan punya banyak teman.
    ketakutan utama saya adalah saya takut kalau hanya akan membuang-buang uang. lagipula saya ragu dengan kemampuan saya apakah masih sebaik dlu. kuliah S2 saya rasa biayanya tidak sedikit. apakah saya akan mampu membalasnya di masa depan saya…
    demikianlah sesi curhat malam saya. sekian dan terima kasih ^^

    • Hello salam kenal… Impian ya semestinya dijaga dan dikejar… mumpung masih muda, mbak… belajarlah yang banyak… kalau kita nya berkemauan tinggi, Tuhan pasti buka jalan…

  32. Halo pak salam kenal. . . Jujur saya lagi di lema skrng kerja dan kuliah. . . Thn ini saya melnjutkan s2 tp bkn dpt beasiswa sperti bapak, jujur sy melnjutkan s2 karna sudah lelah mencari pekerjaan yg sesuai dng minat sy, akhirnya ikut tes s2 dan lulus kemudian di hadapan sy skrng ada kesempatan s2 dan tawaran kerja sy berfikir apakah kerja atau kuliah kuliah sy biaya ortu, dan moving ke kota lain, sdngkn kerja sy stay dng ortu dan menghasilkan uang mslhnya pekerjaan yg ada di hadapn sy tdk terlalu sy inginkan haraoan sy dr awal ingin jadi dosen dan impian sy mau membuat sistem pendidikan yg lbh baik dng berbagai ide yg ada di kepala saya, tp kadang sy berfikir bekerja bs membantu diri sy sendiri dan bs lbh mandiri, ketakutan sy saat melanjutkan kuliah jenuh dngn khdpn perkuliahan dan stuck apa iya jk sy sudah menyelesaikan s2 akan lebih mudah melakukan apa yg saya impikan atau akan kembali sama seperti setelah sy menyelesaikan s1 , pikiran sy bercabang ada yg blng kerja aja, ada yg blng kuliah aja, bagaimana kalau ternyata sy melanjutkan s2 hanya untuk gelar semata dan setelah selesai sy tetap tdk bs mewujudkanapa yg sy impikan, helo me pls. . . Share with me so i can make right decision for my own life

    • Halo salam kenal, well… kalau mbak baca blog ini tentu saja saya menyarankan mbak untuk S2 saja. Menurut saya, untuk kuliah atau kerja tentu ada jenuh dan stucknya. Toh sama-sama akan menghadapi pekerjaan/mata kuliah/tesis yang nantinya sewaktu-waktu menjenuhkan. Namun, yang perlu dipertimbangkan adalah rencana jangka panjang dan impian mbak. Saya appreciate mereka yang berani untuk sekolah lagi, karena menurut saya ya S2 karna menjadikan seseorang lebih baik, walaupun proses nya sulit.

      Saya ngutip perkataan seseorang, “jangan lakukan hal yang mudah, lakukanlah hal yang sulit tapi berdampak untuk jangka panjang”.

  33. gimana caranya sy mendapatkan beasiswa ? krn sy berumur udah 37 thn lebih lulusan fakultas hukum dari universitas DR SOETOMO surabaya

    • salam kenal…

      Biasanya beasiswa mensyaratkan usia maksimal 35 tahun… tapi bukannya ga mungkin kok, karna saya ada kenalan yang udah 40 tahun an sekarang sedang kuliah doktor di ITB pakai beasiswa…

      Cari info saja…

  34. Dear Mas Chris yang baik,
    Saya sedang berusaha melamar S3 ke luar negeri dari tahun 2011, Cuma sampai sekarang belum ada yang berhasil, terutama untuk dapatkan LoA. Mungkin Mas Chris bisa share pengalaman untuk bisa kuliah S3 di Prancis.

  35. Hallo mas chris…salam kenal,
    Suami saya sekarang sudah bekerja disebuah perusahaan,namun sekarang ia merasa perlu untuk kuliah..karna ia hanya lulusan SMK. Namun terkendala biaya dan umurnya sekarang 31 tahun.kira-kira bisa dapat beasiswa gak ya?dan gimana caranya?terus..seleksinya bagaimana?

    • Halo mbak, salam kenal juga… Biasanya beasiswa mensyaratkan usia maksimum untuk mendapat beasiswa itu 35 tahun, jadi suami nya mbak rasanya masih bisa. Tapi tidak berlaku umum, tergantung dari beasiswanya.

      Cara awal nya ya cari informasi mengenai beasiswa, seleksinya pun tergantung dari beasiswanya mbak. Saya ga bisa kasih “resep” umum untuk ini…😀

  36. Wah seru juga ya mas bisa terus lanjut kuliah keluar Negri…apalagi bisa dapet beasiswa,,Itu cita2 saya banget Mas..He2 Just want to share Mas saya salah satu orang yang di deskripsikan mas saya Lulus kuliah lgs kerja di salah satu perusahaan JV kerja dari Jam 8 s,d 5 kadang harus lembur atau pulang pagi pas awal2 bekerja, pulang naik kereta kadang bawa mobil dan itu terus berlanjut hingga sekarang. Saya Lulus S1 umur 21 Thn dan Lgs Kerja di tempat saya sekarang, ketika masih kerja menjadi karyawan kontrak saya langsung lanjut S2 karena rasa ingin terus belajar tapi kurang beruntung mas belum dapet beasiswa jadinya harus kuliah dengan keringat sendiri sampai lulus He2,,saya sudah bekerja di perusahaan ini sudah hampir 8 Thn dan Alhamdulilah saat ini sudah menjadi Kepala Bagian, Setuju mas pengen banget bisa kuliah lagi apalagi bisa sampe S3 mendapatkan ilmu dan belajar dari berbagai kebudayaan dan orang-orang yang berpengalaman..Yang saya pelajari dari pengalaman mas dan saya Hidup memang suatu proses dan layaknya seperti belajar naik sepeda kita harus terus mengayuh sampai bisa dan sampai tujuan..sukses untuk Kuliahnya ya mas🙂

  37. betul sekali setiap org memiliki passion yg berbeda, hidupla sesuai passion krn dgn bgtlah in sya Allah kita akan berjaya…. kalau saya pribadi saya cendrung memilih kerja dulu selepas S1 lalu dgn hasil kerja sy bisnis dan setelah agak kaya sy lanjut studi lg, nah itu saya dan itulah passion saya krn memg saya lebih memilih jdi saudagar dripd jdi ilmwan. saya yakin ini tdk tercela…krn jalan kebaikan ada bermacam macam namun intinya kebaikan…ada yg memberi manfaat kpd manusia dgn ilmunya, ad yg dgn jasanya, ad yg dgn hartanya dsb…. selamat dan semangat berjuang…

  38. Wah keren pak chris tulisannya. Saya pikir kalau uang beasiswa bsa memenuhi kebutuhan saya dan keluarga, saya tertarik bgt ngikutin jalan bapak😄

    Saya lulusan s1 dan sekarang sedang luangin waktu setahun buat ngejar ielts dan ngelengkapin sarat2 lanjut s2 dan beasiswa. Bolehkah konsultasi pak? Saya baca kalau mau lanjut diluar harus ngajuin judul tesis/reseach plan. Nah ini ada aturan tertentu ga pak? Misal format penulisan.ide nya jga harus benar2 baru atau gmn? Apa sama aja kaya waktu skripsi dulu? Makasih sebelumnya pak…

    • Halo Pak… Beasiswa dari DIKTI cukup kok untuk bawa keluarga, hehe…

      Betul, harus ada research plan. Ini bisa dari Bapak yg ngajuin atau memang dari lab yang dituju yg sudah punya research plan.

      Kalo soal format sih ga mengikat.

  39. Itu semacam apa ya pak? Apa hanya rencana penelitian? Jdi kta ga harus mulai meneliti?

    Maaf saya ngerasa kurang bgt dalam hal tulis menulis gini. Jadi aga norak pertanyaannya hahaha

  40. Salut sama postingannya pak, salam kenal. Saya adalah orang yang hampir sama seperti bapak biarpun bedanya cuma di tingkat jenjang pendidikan. Saya cuma tamatan SMA pak, tapi saya tidak mau dikurung oleh rutinitas yang tidak saya inginkan. Saya berusaha kecil-kecilan sambil tetap bercita-cita melanjutkan kuliah yang terhenti. Salam sukses pak.

  41. Slmt mlm pak chris, perkenalkn sblmny sy edwin pak. Jujur, sy ckp merasa bersyukur ktika mnemukan blog bpk, krn sy rasa bpk ckp berpengalaman untuk menjawab kegundahan sy. Hal yg saya hadapi mgkn sdkit berbeda pak. Saya berkeinginan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, tapi sy msh bgung apakah saya harus mengambil S2 lagi di luar negeri, atau langsung S3 sj. Mgkn perlu sy perjelas lgi pak, saat ini sy sdg menempuh S2 di sbuah univ trnama di indonesia, sdh di smstr akhir. Namun kmudian muncul keinginan saya untuk S2 kembali di luar negeri pak, krn bbrpa alasan. Salah satunya sy merasa akan mendapatkan lebih bnyk pengalaman trutma di bidang akademik jk sy bersekolah diluar negeri, dan anehnya dsni sy beranggapan jk sy langsung S3 dluar negeri sy tdk akan maksimal mendapatkannya mengingat mahasiswa S3 kebanyakan bkerja mandiri (stdkny ini yg sy lihat ktika dpt ksmptn exchange kluar) sedangkan sy merasa msh btuh banyak belajar di bidang yg saya minati. Mhn pencerahan bapak, bagaimana baiknya yg hrus sy ptuskn. Trima ksh.

    • Selamat malam Pa Fran,
      Saya punya teman yang S2 nya sampai dua kali di luar, dan rasanya dia Ok OK aja tuh. Jadi itu ya tergantung pilihan Bapak saja. Tapi ya, kalau ambil S2 lagi lalu S3, tentu waktu nya akan lebih lama pak. Dan ga perlu juga merasa kurang, karena walaupun S2 nya di Indo, rasanya masih bisa ngikutin S3 di luar tanpa hambatan yang berarti.😀

  42. Salam pak chris
    kalau boleh tahu, apa alasan yng paling mendasar bapak melanjutkan pendidikan ke s2 dan s3,, padahal kita tahu bahwa pada saat kita menempuh pendidikan s1, sebenarnya didalam kurikulumnya (s1) kita sudah dibekali konsep pengetahuan yang paling mendasar. Jadi kalo alasannya hanya seperti diatas, yaitu, pengen jadi peneliti, jadi dosen, ingin berkarnya atau entahlah toh akhirnya juga kita harus bekerja dan harus mendapatkan duit, dan itu bukan berarti semata2 kita bekerja secara idealis dimana kita bekerja meskipun dibayar murah tapi tetep ingin berkarya. Jadi…pada saat bapak menempuh pendidikan s1 apakah dirasa ada yang kurang, dan kalau sepengetahuannya saya pendidikan s2 hanyalah pengulangan materi kurikulum pada saat di jenjang s1.

    • Salam juga, pertanyaannya bagus, saya coba jawab ya…

      S1 memang konsep pengetahuan paling dasar, tapi kalau mau ahli dalam bidang yang spesifik (bukan umum) ya lebih baik lanjut S2 dan S3.
      S1 ga kurang, hanya terlalu umum saja…😀 begitu…

      Koreksi diki, S2 bukan pengulangan S1, kalau pengulangan ya namanya remidial. S2 lebih mendalam mempelajari ilmu serta lebih spesifik.

  43. waah mau banget kuliah di prancis, saya pengen S3 di prancis, tp blm dpt info univ sama beasiswa yg bs ngdukung program yg sy inginkan. share dong informasinya cara dapetin beasiswa S3 nya. kl bs via email boleh ya?byk yg pengen sy tanyain

  44. Artikel bagus. Wah Mr. Chris suka melakukan studi literatur untuk topik penelitian dan membaca buku populer (non fiksi) yah. coba deh baca Al – Qur’an. Itu juga ilmiah lho..

  45. artikelnya sangat menarik mbak ^^. kalau boleh tahu, kalau di tawari kerja di luar negeri atau di dalam negeri, mbak bakalan milih yang mana dan kenapa?

  46. Maaf pak, saya kurang setuju dengan pendapat bahwa dunia kerja itu membosankan. Mungkin anda berfikir seperti itu karena tdk pernah bekerja ya. Sebenarnya bekerja itu ada fun nya juga lho kalo kita bisa mencarinya. Seperti saya, diantara tumpukan email yang banyak itu kadang saya bisa mengutak atik blog atau edit photo. Pokoknya kita itu harus flexibel dlm hidup deh.
    Mungkin karena bapak penulis punya fasilitas ya bisa mempunyai pilihan untuk tidak bekerja. Bagaimana dengan kami yang timau tidak mau harus bekerja pak.
    Saya cukup menyayangkan tulisan ini dibuat oleh orang yang sedang menyelesaikan studi s3, karena tersirat disini bahwa anda kurang punya empati kepada orang yang tidak seberunting dengan anda.
    Mohon maaf atas kritikan saya ya.

  47. Pengalaman positif yg bs dijadikan referensi semua pihak baik freshgrad ataupun yg sdh berpengalaman kerja. Pandangan saya, bagi yg pnya jiwa studi yg militan bisa berupaya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Hanya kita yg tahu tujuan sebenarnya studi tinggi untuk apa. Ada yg pasca S1 tiada mendapat pekerjaan yg bonafit sesuai harapannya, ada yg blm siap menghadapi dunia kerja “kantoran/lapangan”, dan ada yg murni ingin menambah ilmu untuk pengabdian masyarakat. Apapun keputusan yg diambil pasca S1 adalah hak masing”. Dan yg jelas dengan model percepatan ekonomi di negara kita era sekarang, saya meyakini bekerja di Perusahaan besar manapun baik swasta, bumn, multinas pasti akan dituntut lari marathon. Artinya adalah berangkat pagi pulang sore atau bahkan lembur so pasti capai sekali. Mau berwirausaha jg tidak bs santai kecuali investasi aset. So buat kita yg sdh experience yg mau stagnan di S1 yuk bekerja semaksimal kompetensi yg dimiliki dan yg mau lanjut studi silakan. Karena pada hakekatnya kita studi dan bekerja adalah untuk beribadah Tuhan dan menghidupi keluarga (orng tua, istri, dan anak).

  48. halo, saya mau tanya kira-kira S2 nya beasiswa atau gak? di universitas mana? jurusan apa ya? saya sangat tertarik buat tinggal dijepang tapi ingin S2 dulu. mohon bantuannya ya. makasi

  49. Salam sejahtera pak Chris, saya freshgraduate sebuah PTN di Jabodetabek. Ketika saya baca blog ini saya kok merasa sehati ya karena saya juga gak mau kerja kantoran. Saya ada rencana lanjut S2 ke negara yg saya pelajari di S1 (saya jurusan sastra). Sebenarnya passion besar saya adalah hal-hal berbau Jepang. Tapi saya sedang berusaha mengabaikan hal itu karena saya bukan lulusan sastra Jepang. Jadi sebenarnya sekarang saya lagi galau antara mempertahankan idealisme atau jadi realistis (lho jadi curhat, gak apa-apa ya pak? Hehe). Hal yg menghantui pikiran saya tentang kuliah S2 adalah, apakah sebelum masuk perkuliahan kita harus sudah tahu topik untuk tesis? Makasih sudah mau baca, pak. Sukses selalu🙂

  50. Salam kenal, melakukan penelitian menguras pikiran. saya juga selalu ingin membaca dan menulis di setiap waktu luang saya, mencari literatur yang mendukung untuk penelitian sy. tiba-tiba … AHA lampu hijau di kepala langsung sy tulis di kertas yang selalu saya sediakan. Sekarang sy lanjut S3. berkat AHA … AHA … Lampu hijau di kepala

  51. sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lainnya. semoga ilmu yang anda pelajari akan berguna buat diri anda anda orang lain. tetap semangat

  52. Halo kak. Saya sekarang sedang kuliah s1 psikologi, dan berencana langsung ngambil s2 profesi psikologi klinis anak langsung. Menurut kakak, apakah sebaiknya kerja dulu untuk cari pengalaman (sejauh ini pengalaman kerja cuma jadi asisten lab. psikologi di univ sendiri), atau langsung lanjut s2 aja?

    Makasih banyak tanggapannya, kak.

  53. Salam Kenal,
    Sangat menginspirasi. Saya sedang mengalami hal “galau” ditengah studi S3 saya. Ingin mencoba Postdoctoral tapi saya tak punya rasa percaya diri. MUngkin karena S1, S2, dan S3 di Indonesia. Pertanyaannya, masihkah bisa saya Postdoct ke LN dengan blm ada pengalaman ke riset ke LN?

  54. Pak chris salam kenal, Saya mau tanya. untuk lajut kuliah di S2/S3 di luar negeri. Terkait dengan biaya2 untuk melakukan riset2.. dananya bisa didapat darimana ya? semisal kita ada ide utk melakukan penelitian ini/itu untuk ikut event misalnya. Dana untuk buat penelitian2nya dan juga untuk ikut eventnya biasanya darimana pak? kan kalau di Indonesia,, bisa mengajukan ke berbagai lembaga atau kalau yg sudah kerja bisa mengajukan ke tempat kerjanya. kalau di luar negeri gimana ya pak? mohon sharingnya yah… makasii pak..

    • Halo salam kenal…

      Dana riset berasal dari lab/jurusan/univ yang bersangkutan. Dana event dan perjalanan juga dari sumber yang sma.
      Lebih mudah dapat dana-dana tersebut di luar daripada di Indonesia…

      Semoga membantu

  55. Selamat pagi pak Chris, saya monica.. Pas sekali saya nemu blog ini karena saya berminat utk lanjut S3 di Perancis juga 😊 saat ini saya sedang menyelesaikan tesis. Selain itu sy berencana utk les bahasa perancis dulu. Boleh diberikan tips untuk persiapan study di perancis pak? Apakah perlu IELTS juga? DALF sampai level apa ya? Lalu utk mendaftar universitas yg dituju apakah ada tes juga? apa saja tes.nya? Terimakasih.

  56. Belajar memang itu misi umat manusia. Bagi yang konsisten mengambil jalur riset, secara alami mengasyikkan…Papernya dalam bahasa Prancis? Itu cukup sulit. Semoga sukses…

  57. Salam kenal , Saya mustofa, saya kuliah S1 dengan beasiswa full , dan sekarang saya dihadapkan dalam pilihan yang cukup berat menurut saya, saya ditawari oleh dosen untuk ikut student exchange 1 tahun di jepang, tetapi konsekuensinya kuliah molor 1 tahun atau ga tepat waktu , nah, dari dulu saya ingin lulus dengan predikat cumloude, dengan ikut ini meskipun IPK saya memenuhi tapi lulus tidak tepat waktu membuat saya harus menyingkirkan jauh jauh predikat tersebut. Dari dulu saya juga ingin lanjut untuk s2 di luar negeri , kira2 kalau studi molor karena hal seperti ini bawa dampak baik apa justru malah kurang baik pak untuk kedepannya ,, saya ingin minta saran…. terimakasih🙂

    • Salam kenal..

      GO for it… ikut student exchange saja, kesempatan berharga. Kalau studi nya telat, tapi dengan alasan ikut student exchange tentunya ga keitung molor lah, apalagi dengan IPK tinggi.

      Saran saya, ikut student exchange itu. Itu akan jadi prestasi yang hebat bagi anda, walau studi harus mundur 1 tahun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s