Jepang vs Perancis (based on experience)

different place different culture even for academic life

Minggu lalu, seorang teman bertanya mengenai “perbedaan kuliah di Jepang dan di Perancis”. Pertanyaan yang diajukan via Facebook messenger itu membawa diskusi yang menarik. Lumayan lah chat tersebut menjadi aktivitas untuk killing time karena pada saat itu saya sedang menunggu kereta dari Paris ke Calais. 

Well, saya bercerita lumayan panjang ketika itu dan di week end yang mendung di luar sana saya ingin menulis dengan lebih spesifik mengenai topik ini. Perbedaan ini berdasarkan pengalaman saya sekolah S2 selama satu tahun di Jepang serta masa riset di Perancis selama kurang lebih 10 bulan. Artinya pengalaman ya bukan merupakan hal yang mutlak, karena setiap orang memiliki pengalaman berbeda-beda.

Perbedaan hirarki dosen pembimbing dan mahasiswa

the difference in hierarchy system is like solid (stiff) and water (liquid)

Jepang terkenal dengan sistem hirarki yang kaku. Di sana, kami sebagai mahasiswa harus memanggil dosen dengan sebutan “Sensei + nama keluarga”. Dengan panggilan tersebut, kesannya kami harus segan betul kepada dosen bahkan mungkin cenderung takut. Selain hubungan dosen-mahasiswa yang kaku ini, hubungan kakak (senpai) dan adik kelas (kohai) pun tak kalah kaku. Ada rasa segan ketika adik kelas hendak bertanya kepada kakak kelas, bahkan katanya (bukan saya yang mengalami) untuk bermain bersama senpai pun adalah sesuatu yang jarang.

Sementara, di Perancis saya boleh (bahkan dianjurkan) untuk memanggil pembimbing dengan “nama pertama” tanpa embel-embel “Sir” atau “Monsieur”. Pertama kali saya memanggil dengan cara itu rasanya gak sopan dan lancang. Tapi ya itulah budaya, di tempat yang satu bisa “sangat wajar” dan di tempat yang lain bisa “sangat lancang”. Hubungan kakak-adik kelas pun lebih cair dibandingkan dengan di Jepang.

Image

bersama teman-teman grup riset di Kanazawa, Jepang, April 2010

Image

makan malam bersama teman grup riset di Calais, Perancis, Juni 2013

Perbedaan jam kerja dan jam akses laboratorium

day off in France is common, day off in Japan is rare

Perbedaan ini bikin saya terkaget-kaget. Di Jepang, kita memiliki full access terhadap gedung kampus, ruang lab dsb. Sehingga seringkali saya bisa bekerja di hari Sabtu dan Minggu bahkan di hari libur sekalipun. Hal ini, membuat riset terakselarasi dengan baik. Selain itu, mungkin yang membuat orang Jepang terkenal sebagai “workaholic”. Sisi positifnya, saya bisa bekerja kapan saja (sesuai mood). Sisi negatifnya, kita jadi ada rasa bersalah karena tidak bekerja dengan maksimal, padahal kita memang perlu istirahat

Sementara di Perancis, saya tidak memiliki akses masuk lab (bahkan ruang belajar sekalipun) di hari libur. Day off is a day off. Sisi positifnya, kita bisa beristirahat dengan maksimal tanpa ada rasa bersalah karena tidak bekerja. Sisi negatifnya, kalau kita lagi on fire ya kita tidak bisa melakukan eksperimen. Hal inilah yang membuat saya bisa berlibur pulang ke Indonesia pada libur semesteran kemarin. Padahal ketika di Jepang, libur musim panas menjadi masa-masa ngebut paling efektif karena tidak ada gangguan kuliah dan bisa fokus kepada riset.

Image

gedung tempat kantor sekaligus lab di Kanazawa, Jepang

Image

gedung tempat kantor dan lab di Calais, Perancis

Perbedaan orientasi kelulusan

research vs profesional

Di Jepang, mahasiswa master diharapkan melakukan riset yang sesuai (inline) dengan arahan grup riset. Hal ini membuat (bagi saya) menjadi sangat menyenangkan, karena saya ga harus pindah-pindah tempat untuk melakukan riset, selain itu saya bisa dengan mudah bertanya kepada senior dan membaca track record berupa thesis/paper di lab yang bersangkutan. Sisi positifnya, mahasiswa menjadi lebih fokus untuk melakukan riset serta hal ini berakibat baik pada rencana jangka panjang grup riset. Sementara, sisi negatifnya mahasiswa tidak mendapat kesempatan untuk bekerja di dunia “nyata” misalnya di perusahaan dsb.

Di Perancis, mahasiswa master harus melakukan apa yang disebut dengan “stagaire” atau magang. Mahasiswa di semester akhir di setiap tahun ajaran harus menjadi pegawai magang di perusahaan/grup riset yang lain. Mungkin sih bisa ikut di lab yang sama, tapi kebanyakan teman saya berpindah ke lab lain bahkan ada yang pindah ke negara lain. Sisi positifnya, mahasiswa mendapat keuntungan bekerja di dunia professional dan mendapat pengalaman lebih di grup riset lain. Sementara sisi negatifnya, mahasiswa menjadi tidak fokus karena harus berpindah ke topik yang lain.

Perbedaan pendekatan riset

have you try it ? VS the theory said so

Yang terakhir ini mungkin bisa diperdebatkan tapi kan namanya juga pengalaman🙂.

Di Jepang, kerja keras adalah nomor satu. Sebuah kesimpulan riset sedapat mungkin adalah hasil sebenarnya tanpa ada spekulasi teori. Mereka lebih percaya pada hasil yang dicoba terus menerus daripada hanya sekedar teori. Mungkin ini yang membuat mereka begitu rajin di lab, banyak melakukan eksperimen yang sebetulnya obvious. Di Perancis, bukan berarti kerja keras tidak penting tapi (keliatannya sih) kadarnya masih di bawah analisis dan teori sebelumnya. Jadi, bisa dikatakan mereka lebih menekankan kepada sisi “cerdas”-nya daripada “kerja keras”-nya. 

Jadi lebih betah dimana ?

I prefer Japan

Beberapa orang sudah bertanya pertanyaan di atas, dan saya selalu menjawab Jepang. Saya lebih suka budaya riset dan kerja kerasnya, saya lebih suka kepada universitas dan laboratorium yang selalu buka 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Saya tidak terlalu keberatan dengan hirarki yang kaku, karena pada akhirnya kalau komunikasi kita dengan orang lain baik semestinya tidak menjadi masalah. 

Sekali lagi, tulisan ini berdasarkan pengalaman/stereotype, yang saya harap bisa mendapat komentar untuk memperkaya perbandingan ini.

– be blessed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s