dua pemahaman baru tentang “menulis”

kadang kita terlalu berfokus pada “apa yang masih harus dilakukan”, dan lupa pada “sudah berapa banyak yang sudah dilakukan”.

Kurang dari dua tahun lagi adalah deadline saya untuk menyelesaikan pendidikan S3. Belakangan saya merasa “gelisah” (bahkan cenderung takut) akan hal ini. Kadang pikiran yang lebih negatif muncul: “rasanya dua tahun kemarin saya gak ngelakuin apa-apa”. Pikiran seperti ini telah mengganggu aktivitas sehari-hari. Bangun tidur dengan rasa cemas, pekerjaan pun terhambat karena kekhawatiran, lalu ingin cepat-cepat menutup mata dan tertidur lelap. Pikiran pun seakan-akan terisi penuh oleh “banyaknya hal yang harus dilakukan”, eksperimen ini lah, ngitung ini lah, baca buku itu lah, ngerti konsep anu lah dsb.

Imbasnya, saya jadi tidak fokus bekerja pada suatu tugas. Saya terlalu sering berpindah-pindah pekerjaan dari yang satu ke yang lain. Tanpa saya sadari, hal-hal seperti ini malah menambah frustasi.

Di tengah-tengah aktivitas “berpindah-pindah pekerjaan” tersebut, sampailah saya pada sebuah buku yang berjudul “How to write a thesis” oleh Rowena Murray. Di buku tersebut pun ternyata dibahas mengenai hal yang sedang saya alami, dan tentunya cara menanggulangi nya.

Buku ini lebih dari sekedar tips tentang “bagaimana menulis tesis/disertasi”, tapi lebih kepada cara berpikir/filosofi dari menulis. Saya belajar banyak dari buku ini dan buku ini telah membantu saya keluar dari lingkaran masalah seperti yang saya ceritakan di atas.

Berikut adalah hal-hal yang saya lakukan:

Menjadikan menulis sebagai cara belajar bukan hanya sebagai output dari sebuah penelitian

Prinsip ini berbeda dengan apa yang saya lakukan semasa S1 dan S2. Ketika S1 dan S2, saya menulis tugas akhir dan tesis sebagai “kegiatan akhir” dari sebuah rangkaian pengerjaan tesis/tugas akhir. Saya menyelesaikan penelitian/perhitungan/simulasi terlebih dahulu, mendapatkan hasil, melakukan analisis lalu menulis hasil akhir dalam bentuk formal (tugas akhir/tesis).

Cara ini telah saya lakukan bertahun-tahun dan saya cukup nyaman dengan hal ini. Masalahnya, dengan cakupan penelitian Doktor yang sangat luas dan memakan waktu lama (3-4 tahun), cara ini kurang bekerja dengan baik, karena:

  1. Studi pustaka yang tidak terorganisir. Karena prinsip “menulis di akhir”, sumber pustaka menjadi tercecer. Saya membaca sebuah konsep kunci di sebuah publikasi, lalu karena saya tidak langsung menulis di draft “Bab 2: Studi Pustaka”, lama-lama saya jadi lupa akan konsep tersebut. Kalaupun saya ingat, arsip aslinya sudah tercecer entah di mana. dengan prinsip “meneliti sambil menulis”, studi pustaka menjadi lebih terorganisir. Ide yang saya baca di sebuah publikasi dapat segera terdokumentasi dengan baik di sebuah draft untuks alah satu bab di disertasi.
  2. Ide yang tidak terorganisir. Ide kadang muncul begitu saja dan kalau kita tidak langsung menulis ide tersebut, kita lama-lama bisa lupa akan ide tersebut. Untuk S1 dan S2, ide yang muncul bisa langsung dieksekusi, seperti langsung membuat program, langsung eksperimen dsb. Tapi untuk S3 yang waktu nya sangat lama, kadang kita tidak bisa langsung mengeksekusi ide tersebut. So, sekarang saya lebih mendisiplinkan diri untuk menuliskan ide dengan konsep terkait pada draft disertasi.

Menjadikan menulis sebagai cara untuk memantau kemajuan 

Seperti yang sudah saya ceritakan di awal posting ini, bahwa saya cemas pada jumlah pekerjaan yang harus saya lakukan dalam waktu kurang dari 2 tahun ke depan. Nah, di buku “How to write a thesis” dibahas mengenai “menulis sebagai bentuk pemantauan kemajuan belajar”, hal ini saya lakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Membandingkan pengetahuan sekarang dengan proposal penelitian. Buku ini menganjurkan untuk menulis pengetahuan baru, eksperimen baru, pemahaman baru, ide baru lalu membandingkannya dengan proposal penelitian (yang saya susun 1.5 tahun yang lalu). Well, honestly hal ini membuat saya merasa lebih baik. Saya merasa bahwa saya berada di jalur yang benar dengan pengetahuan yang bertambah, ide baru dan beberapa eksperimen yang saya lakukan. 
  2. Menulis prosedur, hasil dan analisis eksperimen. Saya juga melihat eksperimen yang sudah saya lakukan. Ternyata, kalau saya mulai menulis mengenai metode penelitian, hasil dan analisis, saya sudah melakukan “cukup” banyak. Sebelumnya saya hanya menyimpan semuanya ini di buku “jurnal eksperimen” dan di “kepala/ingatan”. Sekarang, saya jadi mengerti bagaimana melakukan eksperimen, melakukan tes kepada hasil eksperimen, dan melakukan analisa lalu menuliskan semuanya ini dalam sebuah draft dokumen formal. It made me feel so much better. Adanya output tulisan/dokumen/draft ini membuat kepercayaan diri saya meningkat, selain itu juga menambah jam terbang saya dalam menulis sebuah dokumen penelitian.

In the end, saya jadi mengerti bahwa menulis ternyata bisa dilakukan untuk menunjang penelitian dan bukan hanya sebagai hasil akhir dari penelitian. Dan menulis juga harus dilakukan sesering mungkin sebagai cara memantau kemajuan penelitian.

Menulis telah membuat saya mensyukuri “seberapa jauh saya sudah berjalan” ketimbang cemas pada “masih berapa jauh lagi saya harus berjalan”.

Learn to write and write to learn

– be blessed

2 thoughts on “dua pemahaman baru tentang “menulis”

  1. Mas tulis lagi dong pengalaman2nya! Insyaalloh bermanfaat untuk kami yg sedang di etape akhir. Saya sudah sharing blog ini ke teman2 sekelas di ps teknologi industri pertanian ipb.

    • Hehehe… iya nih, udah lumayan lama ga nulis lagih… padahal ide nulis nya udah ada… wah, makasih sudah berbagi blog ini ke temen-temen nya mbak…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s