membandingkan diri sendiri dengan mereka yang bekerja (perbedaan antara bekerja dan kuliah)

it is about salary, office time, deadline and costume

Kuliah yang tidak berhenti sejak S1 hingga sekarang membuat saya tidak memiliki pengalaman kerja di perusahaan/wirausaha. Kalau dihitung-hitung sejak TK, artinya saya tidak berhenti menempuh pendidikan selama 22 tahun. Now, I am 27 years old and I never have a single official job.

Hal ini terkadang bikin bangga, kadang juga engga. Apalagi kalau sudah membandingkan diri dengan teman-teman yang bekerja. Kadang merasa “beruntung” dan kadang juga merasa “menderita”. Kadang terpikir juga: apa yang terjadi apabila saya tidak lanjut kuliah terus. Well, saya sudah menentukan pilihan dengan jalur hidup ini and honestly i feel so fortunate to become “everlasting student”. 

Posting ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya ketika “membandingkan” diri dengan teman yang bekerja. Kadang saya dan teman-teman berkumpul di akhir pekan dan bercerita tentang hari-hari kami di tempat kerja (bagi saya kampus). Sulit rasanya untuk tidak membandingkan diri, ya… namanya juga manusia, selalu berpikir “seandainya”, “jikalau”, “apa yang terjadi kalau” dan sebagainya.

Ada dua tujuan saya menulis ini:

  1. Bukan untuk mendiskreditkan mereka yang bekerja di perusahaan/wirausaha. Bekerja di perusahaan/wirausaha is absolutely fine. Ga ada yang salah dengan bekerja seperti itu. Perekonomian negara ini bergerak karena sektor usaha, terlebih sektor wirausaha. Bekerja juga menawarkan pembelajaran, bahkan jauh melebihi teori di kampus/universitas. Kalau Anda suka dengan pekerjaan anda, merasa cukup dengan gaji yang diperoleh, it is good for you. Posting ini bertujuan memberi Anda sudut pandang lain mengenai “profesi” sebagai mahasiswa yang tidak bekerja seperti saya.
  2. Memberi motivasi bagi mereka yang terus kuliah. Mungkin Anda seperti saya juga, terkadang membandingkan diri sendiri yang masih punya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan teman-teman Anda yang sudah berstatus bekerja. Well, don’t quit and keep going. Posting ini saya tulis untuk memotivasi Anda sebagai seorang mahasiswa “abadi”.
  3. Memberi gambaran kepada fresh graduate. Artikel ini juga bertujuan memberi wawasan kepada mereka yang baru lulus S1, apalagi mungkin di bulan Oktober ini adalah musim wisudaan. Mungkin Anda sedang bingung memilih antara bekerja atau kuliah lagi. Well, I try my best to explain what’s the difference between both. Walau memang sudut pandang ini lebih subjektif (karena latar belakang dan keadaan saya sekarang), ya kurang lebih bisa memberi wawasan kepada Anda.

Ada 4 hal yang menjadi bahan perbandingan saya dan rasanya empat hal ini yang menjadi perbedaan antara karir sebagai akademia (a.k.a mahasiswa abadi). Perbandingan ini adalah murni sudut pandang saya dan pendapat pribadi. Tidak ada rujukan ke artikel ilmiah, so it is 100% subjectif. 

  1. Gaji vs Beasiswa. Saya kira ini adalah perbedaan mendasar. Seseorang yang sudah menyelesaikan pendidikan S1 nya tentu diharapkan (entah oleh dirinya sendiri, orang tua dsb) untuk bisa mandiri secara finansial. Oleh karena itu, jaminan gaji/pembiayaan kuliah adalah yang sangat penting. Pertanyaan yang diajukan kepada saya ketika memutuskan untuk lanjut kuliah adalah “kok kuliah terus? kapan kerja dan dapat gaji?”. Jawabannya tentu saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi. Rasanya dengan beasiswa, mereka yang kuliah terus bisa menjamin hidupnya sendiri sehingga bisa belajar dan riset dengan nyaman. Nominal gaji atau beasiswa itu relatif. Ada yang beasiswa S2 atau S3 jauh melebihi gaji fresh graduate S1, apalagi beasiswa luar negeri. Saya bicara rata-rata, karena ada juga tempat kerja yang menawarkan gaji besar walaupun kepada fresh graduate. Hal lain yang menjadi perbedaan adalah pola pembayaran. Gaji di perusahaan sifatnya berkala dan dibayar di waktu-waktu tertentu, seperti awal/akhir bulan. Sementara beasiswa biasanya tidak berkala, ada yang harus rela telat dibayar, ada yang langsung dibayar selama 6 bulan/1 tahun. Hal terakhir adalah insentif/tunjangan. Biasanya sih, orang yang bekerja di perusahaan akan mendapat insentif lembur dan beberapa tunjangan lainnya. Sementara kalau mahasiswa, akan dapat insentif apabila ada proyek riset/menulis di jurnal nasional/internasional.
  2. Jam kantor vs jam kuliah/riset. Poin yang kedua adalah mengenai waktu. Hal ini menjadi pertimbangan mereka (termasuk saya) untuk terus kuliah/berkarir di dunia akademis yaitu kebebasan waktu. Orang yang bekerja di perusahaan tentu memiliki jam kantor. Rata-rata dari jam 8 atau 9 pagi hingga 4 sampai 5 sore. Untuk yang berwirausaha tentu lebih fleksibel, since they have their own business. Jam kantor ini bagi saya terlalu kaku, dan tentunya ga bisa meliburkan seenak hati. Saya ingat ketika riset S2 dan tahun pertama S3, saya mendapat kebebasan untuk masuk lab atau engga, ke kampus atau engga, yang penting pekerjaan beres. Pernah saya tidak masuk selama 2 minggu, dan ketika masuk lab lagi saya bisa ngasih hasil riset yang saya kerjakan di rumah (tentunya bisa lebih bebas, bisa tidur siang dan begadang tanpa harus bangun pagi).
  3. Deadline kantor/order vs deadline pribadi. Poin ketiga ini yang baru saya sadari belakangan. Mereka yang bekerja di kantoran memliki deadline yang berasal dari luar diri mereka, dari bos/supervisor atau dari perusahaan. Mungkin di awal bulan pekerjaan tidak terlalu menumpuk, namun ketika akhir bulan laju pekerjaan semakin meningkat. Ada juga yang kesibukannya meningkat per triwulan atau di akhir tahun. Kalau tidak bisa memenuhi deadline ini, tentu mereka akan mendapat peringatan hingga pemecatan. Berbeda dengan mahasiswa tingkat S2 dan S3, it is up to them when they want to graduate. Memang ada batas lulus dengan sanksi drop out (DO) tapi saya kira tanggung jawab nya berbeda dengan mereka yang bekerja. Misalnya saja di ITB, di ITB terdapat 3x wisuda setiap tahunnya, so terserah si mahasiswa mao lulus kapan. Pembimbing bisa memberikan dukungan, namun tetap saja sang mahasiswa yang harus menetapkan kapan mereka mao lulus. Sama halnya juga dengan riset S3, se-sakti-saktinya tim pembimbing, sang mahasiswa lah yang dituntut memiliki sistem kerja sendiri, deadline sendiri mengenai tahap penelitiannya. Hal ini yang entah menjadi nilai plus atau minus bagi mereka yang kuliah terus. Di satu sisi, mahasiswa sangat bebas dalam hal deadline namun di sisi lain bisa menjadi boomerang kalau mahasiswa tidak bisa mengatur diri mereka sendiri.
  4. Celana kain + Kemeja vs Celana jeans + kaos. This is my favorite. Bekerja kantoran identik dengan seragam kantor, kemeja dan celana kain, kadang juga harus pakai jas, ditambah name tag dsb. Sementara “bekerja” di lab atau kuliah, mahasiswa bisa bebas memakai kostum apapun (sopan dan pantas tentunya), seperti jeans dan kaos. Saya jadi ingat kejadian ketika saya makan siang bareng dengan seorang teman di sebuah gedung perkantoran di Jakarta. Ketika kami makan di food court gedung tersebut, saya memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Mereka berpakaian begitu rapih, celana kain, kemeja yang dimasukan, sepatu resmi dan name tag perusahaan. Ketika itu saya berkata dalam hati, “I can’t work with that kind of costume”. Memang untuk acara resmi seperti conference dsb, saya harus berpakaian resmi, tapi ya itu tidak setiap hari. Lalu memang nantinya setelah selesai S3 lalu jadi dosen (amiinnn…) saya harus berpakaian resmi, but it is still 2 years later and I enjoy my life now. Now I am wearing jeans, t-shirt and sweater of my favorite football club.

In the end, posting ini bukan tentang mana yang lebih baik, antara bekerja atau kuliah lagi. Saya kuliah terus karena ingin berkarir di dunia akademik, dan saya posting ini bisa memberi motivasi kepada mereka yang seperti saya. Yang mungkin sedang ragu dan galau dan mulai bertanya seperti “apakah keputusan saya untuk kuliah benar atau tidak?”, mungkin juga ada yang sudah putus harapan di studi S2 dan S3 nya. I just want to encourage you that become an academia is a privilege, we can’t find the same thing in the office cubicle, keep going and don’t give up.   

Posting ini bukan juga untuk merendahkan mereka yang bekerja/berwirausaha (seperti yang saya tulis di atas). Bekerja kantoran dan wirausaha itu bagus, tapi tidak bagus untuk saya (and maybe for some other people too).

– be blessed

4 thoughts on “membandingkan diri sendiri dengan mereka yang bekerja (perbedaan antara bekerja dan kuliah)

  1. Selalu memberi inspirasi kalau singgah kesini (dan memang jadi pembaca setia blog ini) hehehe..
    terima kasih atas pandangannya..kebebasan bekerja, yang penting beres. semoga Pak Cris kalo jadi dosen nanti bisa mempersiapkan diri juga ya, kan dunianya udah ganti. walaupun masih dua tahun lagi sih.hehehehe.

  2. nice pak sharingannya🙂 saya sdg browsing pengalaman orang lain tentang pilihan mereka utk melanjutkan studinya. sy juga memutuskan utk melanjutkan sekolah lagi setelah lulus s1 taun lalu dan sempat bekerja hampir 1 tahun. awalnya sempat agak ragu jg krn dg memilih melanjutkan studi lg dan resign dr kerjaan jd tdk ada ‘penghasilan rutin’ tiap bulan yg sy terima seperti dulu lagi, hehe. tapi dg dukungan orangtua dan browsing sana sini insyaallah jd sudah mantap dg pilihan investasi pendidikan jangka panjang ini.
    semoga keinginan dan planning sy utk berkarir di bidang akademik seperti bapak dimudahkan dan dilancarkan ya pak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s