6 penyebab keinginan sekolah ke luar negeri tidak pernah terwujud

Having dream is a must, but it is not enough. Many things in life cannot be obtained only by dreaming. We should work hard, find the opportunity and be brave to get it.

Sekolah ke luar negeri menjadi impian banyak orang. Kesempatan tersebut diidam-idamkan untuk mendapat pendidikan yang lebih berbeda dengan di dalam negeri. Kesempatan tersebut juga didambakan untuk melihat sisi dunia yang lain (bukan dunia gaib tentunya) yang selama ini hanya bisa dinikmati di layar kaca.

Tapi tidak semua impian yang bisa terwujud. Alasan klasik yang sering kita dengar (bahkan sering kita ucapkan) adalah “belum rejekinya” dan sebagainya. Kita bisa berdebat panjang lebar mengenai hal ini, tapi kalau mau jujur dengan diri sendiri, sebetulnya ada banyak hal yang memang salahnya kita. Kita alpa dalam melakukan hal-hal esensial untuk menggapai impian sekolah di luar negeri.

Di posting ini, saya menulis hal-hal teknis yang sering menjadi penyebab impian tersebut tidak pernah terwujud dan akhirnya menyisakan penyesalan ketika umur sudah semakin tua dan kesempatan sudah tertutup. Saya juga berharap 6 poin ini menjawab beberapa pertanyaan teman-teman melalui e-mail atau komentar di blog ini mengenai tema besar: “bagaimana caranya sekolah ke luar negeri ?”

  1. Mimpi besar tapi lupa untuk bangun. Bermimpi dan punya keinginan itu gratis, ga ada yang larang dan bisa dilakukan sebebas-bebasnya. Mimpi dan keinginan, dalam hal ini memiliki impian sekolah di luar negeri  adalah bahan bakar untuk maju dan berusaha mewujudkannya. Tapi mimpi dan keinginan saja tidak cukup, pada akhirnya yang membuat perbedaan adalah hasil dan realita. Kita dengan mudah bisa terinspirasi oleh mereka yang sekolah di luar negeri, tapi dengan mudah juga kita menjadi lupa berusaha untuk meniru kisah sukses tersebut pada diri sendiri. So, keinginan dan hanya sekedar mimpi tidak cukup. Kita harus bangun dari mimpi dan berani melakukan hal-hal yang perlu untuk membuat impian itu menjadi kenyataan. I wish and I do are two different things. 
  2. Tidak mau mencari informasi. Mencari informasi adalah hal pertama yang harus dilakukan. Informasi berupa kriteria beasiswa, negara dan kampus tujuan adalah salah banyak dari informasi-informasi yang harus dikumpulkan. Informasi merupakan hal esensial karena menentukan arah dan fokus kita dalam berusaha. Kita kadang malas mengumpulkan informasi padahal kesempatan beasiswa ada banyak di luar sana. Kadang kita juga ingin secara instan mendapatkan informasi, padahal dengan hanya bermodalkan internet kita bisa mendapat hal tersebut dengan cukup mudah. Adanya forum di internet seperti grup Facebook bisa menjadi sarana untuk bertanya, tapi bukan berarti menjadi tempat untuk bertanya hal-hal yang sebetulnya bisa dicari di internet (seperti website beasiswa dsb). Pameran pendidikan juga salah satu sarana untuk memperoleh informasi. Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan di acara seperti ini, biasanya ada banyak universitas dan penyedia beasiswa yang dengan senang hati memberi informasi. Blog ini saya buat salah satunya adalah menyediakan informasi dengan berbagi pengalaman tentang sekolah di luar negeri. Jadi kalau Anda ada pertanyaan tentang sekolah di luar negeri ya silahkan saja bertanya🙂.
  3. Malu bertanya. Bayangkan saja kalau kita melihat sebuah pengumuman mengenai kesempatan sekolah di luar negeri, tapi tidak kita tindaklanjuti dengan bertanya kepada sumbernya mengenai hal yang belum kita mengerti. Atau bayangkan juga kalau kita ikut acara pameran pendidikan luar negeri, tapi hanya let say “window shopping”, hanya melihat-lihat tapi malu untuk bertanya kepada mereka yang tau, atau bahkan kita malu untuk hanya meminta brosur informasi. Remember, our assumption can kill us. Misalnya saja, kriteria TOELF/IELTS biasanya diminta oleh pihak kampus/penyedia beasiswa, namun skor nya beragam, acuan nya pun beragam, sertifikat yang diakui nya pun beragam. TOELF misalnya, ada yang meminta paper based test, internet based test dan macam-macam lainnya. Ada yang meminta sertifikat yang harus diterbitkan oleh tempat ujian yang bersertifikasi internasional (biaya ujian sekitar 1 Jt), ada juga yang cukup dengan level kampus (biaya ujian 75-200rb). Informasi sederhana seperti ini yang kadang kita lupa untuk memastikan, imbasnya kita berasumsi dan akhirnya salah mengambil keputusan yang tentu saja berimbas lebih jauh kepada buang-buang waktu, uang dan tenaga.
  4. Kualifikasi akademik yang tidak mencukupi. Penyedia beasiswa/kampus dan negara tujuan biasanya mensyaratkan kualifikasi akademik tertentu. Misalnya untuk bisa S2 di luar negeri, disyaratkan untuk memiliki IP S1 minimal 3.25 atau bahkan 3.5. Syarat lainnya biasanya adalah kualifikasi bahasa, berupa TOELF/IELTS. Ada pula yang harus mengikuti ujian dan wawancara dengan penyedia beasiswa/kampus tujuan. So, hal ini harus diperhatikan. Kalau saat ini Anda masih S1 dan berkeinginan sekolah di luar negeri, carilah informasi mengenai kualifikasi yang disyaratkan dengan demikian Anda bisa menyiapkan diri untuk kualifikasi tersebut. Kampus tujuan/penyedia beasiswa tidak akan segan-segan untuk mengeliminasi kita apabila kita tidak bisa memenuhi kualifikasi yang disyaratkan. Hard truth: they don’t give a damn about our big dream and big motivation. If we cannot fill the qualification, we are out !
  5. Malas mempersiapkan dokumen. Selain syarat akademik, syarat administrasi pun tidak kalah pentingnya. Ada buanyak dokumen yang harus disiapkan. Kalau kita malas mempersiapkan dokumen yang diminta, tentu bisa berimbas kepada beasiswa/pendaftaran ke kampus tujuan. Believe me, it is amazingly hard work for these documents. Ada dokumen yang berasal dari kita, seperti KTP, pas photo, akta lahir, kartu keluarga, ijasah, transkrip dsb. Ada juga dokumen yang harus kita peroleh dari pihak lain, seperti pasport dan visa. Kita harus apik dan rapih dalam hal ini: dokumen yang tercecer, kurangnya salinan dokumen dapat menyebabkan proses pengurusan dokumen terhambat. Misalnya saja hal yang sederhana: pas foto. Ukuran pas foto yang disyaratkan sangat beragam, ada yang 3.5 x 3.5 cm, ada yang 3.5 x 4.5, ada yang meminta “harus pas foto terbaru”, ada yang mensyaratkan harus berlatar belakang putih/biru, harus terlihat daun telinga dan lain sebagainya. Kalau kita-nya malas untuk mengurus yang “hanya sekedar pas foto ini”, malas untuk datang ke tukang foto, ya kita akan terhambat nantinya. So, don’t be lazy and keep our documents in a tidy and structured way.
  6. Lingkungan yang tidak mendukung. Don’t let small mind friends ground you down. Mungkin beberapa diantara kita berasal dari universitas yang tidak favorit dan teman-teman kita meragukan mimpi dan keinginan kita untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Well, we better don’t listen to them. Mereka yang meragukan mimpi kita sebetulnya iri saja dengan semangat yang kita miliki, lagipula kalau mau jujur, mereka yang meragukan kita sebetulnya tidak peduli juga dengan kita. Toh, kita sendiri yang berusaha dan tidak perlu minta ijin kepada mereka untuk maju, bukan? Jadi, carilah teman yang mendukung, atau lebih baik cari teman yang punya keinginan yang sama untuk sekolah di luar negeri. Dengan demikian ktia bisa saling mendukung dan saling berbagi informasi. Hal lainnya yang menjadi hambatan adalah orang tua kita. Orang tua kita kadang punya banyak ketakutan, seperti “nanti bagaimana hidup di luar sana?” atau yang paling klasik adalah “lebih baik bekerja untuk cari uang”. Well, kekhawatiran itu bukan salah mereka, adalah kewajiban mereka untuk mengkhawatirkan kehidupan kita, so kita lah yang harus pintar-pintar memberikan penjelasan bahwa “hidup di luar negeri tidaklah sesulit yang dibayangkan”. Lalu mengenai bekerja vs kuliah lagi, kita bisa memberi penjelasan bahwa dengan nominal beasiswa yang cukup (bahkan lebih), kita bisa hidup layak bahkan bisa menabung untuk membantu ekonomi keluarga.

Ada banyak hal lain yang menyebabkan keinginan sekolah di luar negeri tidak terwujud. 6 poin di atas adalah “salah banyak”nya. Posting ini membahas mengenai hal-hal teknis yang kadang lupa untuk kita lakukan yang berimbas pada “impian hanya sekedar impian”. Saya tidak membahas mengenai alasan/faktor “bukan rejeki” atau “bukan kehendak-Nya”, kita bisa berdebat panjang tentang hal itu. Tapi saya kira (dan berdasarkan pengalaman), Tuhan akan buka jalan bagi kita yang mau berusaha, mau bekerja keras untuk mewujudkan dari yang semula hanya “sekedar mimpi”.

– be blessed

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s