challenging myself: journal hari ketiga (generasi konsumtif)

“we need to create a generation of producers not consumers” – Eben Upton, founder of Raspberry Pi

Hari ketiga ini, progress dari seri challenging myself sedikit berbeda dengan dua hari yang lalu. Saya mengerjakan makalah kedua mengenai implementasi Raspberry Pi untuk pendidikan dasar-dasar pemrograman, dan dapat menyelesaikan abstrak dan pendahuluan di tengah kesibukan melakukan riset. Hari ini berbeda karena ketika mengerjakan makalah ini, saya mengerti alasan mengapa Raspberry Pi diciptakan. Alasan yang cukup memilukan dan rasanya lebih menyedihkan dengan keadaan di Indonesia.

Raspberry Pi diciptakan sebagai solusi untuk mencetak generasi muda agar lebih fasih dalam pemrograman sehingga mereka siap untuk memasuki dunia kuliah dan industri. Kemampuan pemrograman sangat penting bagi mereka yang ingin terjun di bidang teknologi. Solusi ini dirasa perlu terlebih dengan generasi muda yang cenderung konsumtif terhadap teknologi.

Di Indonesia misalnya, data yang saya temukan menyatakan bahwa pengguna smart phone di Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari chatting, browsing dan aktivitas lainnya. Data ini ditambah dengan survey pada remaja yang menghabiskan dana sebesar 8.6 milyar rupiah per tahun untuk konsumsi teknologi seperti membeli komputer, smart phone dan tablet. Hal ini mengakibatkan generasi muda Indonesia cenderung hanya menjadi konsumen dan bukan inovator.

Inovator dalam hal ini adalah mereka yang mengembangkan software dan hardware. Jumlah generasi muda yang menjadi inovator dan produsen di dunia teknologi rasanya jauh lebih kecil daripada mereka yang mengkonsumsi teknologi. Hal ini disebabkan oleh kurikulum sekolah dasar hingga menengah yang tidak memperkenalkan dasar-dasar pemrograman. Walaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Hal ini disebabkan biaya infrastruktur yang cukup mahal. Oleh karenanya, saya berharap makalah ini nantinya (kalau sudah selesai) bisa memberikan gambaran mengenai implementasi Raspberry Pi yang biayanya relatif murah.

Kembali ke krisis “generasi konsumtif”. Generasi muda lebih tertarik memanfaatkan teknologi untuk chatting, gaming, browsing dan searching yang sebetulnya kalau mau jujur hanya digunakan sebagai hiburan semata, ketimbang memanfaatkan teknologi untuk berinovasi. Smart phone, tablet, komputer, game console merupakan sistem “jadi” dan tertutup yang tidak mengakomodasi generasi muda untuk belajar tentang teknologi. Hal ini sangat disayangkan mengingat betapa banyaknya generasi muda negara ini. Saya berharap makalah ini dapat memberi kontribusi mengenai isu yang sebetulnya harus mendapat perhatian lebih banyak dari kita semua.

– be blessed

2 thoughts on “challenging myself: journal hari ketiga (generasi konsumtif)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s