mental instan mahasiswa dan calon mahasiswa (4 contoh)

Kehidupan kita saat ini dipenuhi oleh produk instan dan tanpa sadar pola pikir kita juga menjadi instan. Kita ingin setiap usaha yang kita lakukan merupakan “usaha instan”, berusaha sekarang dan mendapat hasil secara langsung, saat itu juga. Sama halnya dengan mie instan. Tinggal seduh dengan air panas, tunggu sebentar lalu makan. Kita jadi ga sabaran dengan akses internet yang lelet dan ingin cepat-cepat memperoleh jawaban dari internet.

Sayangnya ada banyak hal dalam kehidupan nyata yang ga bisa kayak gitu. Kita harus mau melewati proses dengan sabar. Kita tidak bisa hanya menanam tanaman hari ini lalu panen buahnya besok. Ada proses yang namanya menyiram, ngasih pupuk, dan banyak perawatan lainnya yang kadang kita malas melakukannya.
Hidup bukan seperti film, yang dua jam hanya selesai dan kita bisa nonton keseluruhan proses sang tokoh utama melewati konflik. Katakanlah film Laskar Pelangi, 5cm dan film inspirasi liane yang bikin kita terinspirasi. Sayangnya… proses yang dilewati sang tokoh utama hingga mencapai ending yang bahagia itu… hanya selesai dalam waktu 2-3 jam. Bukan satu tahun, bukan dua tahun atau bahkan lima sampai sepuluh tahun. Kalau film-film itu dibikin dalam frame waktu yang sebenarnya, tentu akan membosankan, bukan ?
Oke… enough said about the introduction up there. Di posting ini saya yang semarang, saya akan membahas beberapa mental instant dal am edukasi/pendidikan yang dengans sadar atau tanpa sadar pernah saya lakukan dan berdasarkan pengamatan di sekeliling.
Ngerjain laporan/resume bersumber dari Wiki
Saya ga bilang wikipedia itu jelek. Wikipedia membuat semua orang bisa berbagi informasi dengan orang lain. Saya masih pake wikipedia untuk informasi yang sifatnya praktis. Wikipedia itu merupakan tempat yang tepat untuk memperoleh informasi praktis karena sifatnya yang “rangkuman” dan bersumber dari beberapa kontributor. Tapi… ada banyak informasi yang mungkin keliru, belum di-update atau yang benar-benar… salah. So, kalau semua resume dan laporan bersumber dari wikipedia. Apalagi kalau hanya copas (copy paste), maka saya rasa itu adalah contoh dari mental instan. Enggan untuk mencari info yang lebih akurat, lebih lengkap dari sumber lain.
Bertanya: jurusan mana yang prospeknya bagus?
Pertanyaan klasik yang biasa ditanyakan oleh mereka yang mao kuliah atau mau kuliah lagi. Ga salah sih, tapi keliatan mental instan nya. Karena terkesan ingin segera mendapat hasil dan jaminan nanti setelah kerja.
Buat saya, semua jurusan itu prospek nya bagus. Asal kitanya memang punya kualifikasi yang diinginkan oleh dunia. Banyak yang bilang IT, bisnis adalah jurusan berprospek bagus karena sekarang jamannya komputer dan wirausaha.
Lalu apa itu menjadikan jurusan lain kurang prospek? ya tidak juga. Jurusan pendidikan mungkin “prospek”-nya hanya jadi guru. Tapi kalau punya kompetensi tinggi… bayangkan… ada berapa banyak anak bangsa yang bisa dapat manfaat dari guru tersebut? So, daripada bertanya-tanya jurusan mana yang prospeknya bagus, lebih baik bertanya “jurusan mana yang tepat untuk minat dan visi hidup saya?”
Bertanya: jurusan mana yang kuliahnya mudah?
Well, semua jurusan punya mata kuliah yang sulit. Bahkan untuk mereka yang masuk jurusan favorit/masuk jurusan yang sesuai minat, pasti ada saja mata kuliah yang sulit. Menurut saya, harus ada mata kuliah yang sulit sehingga kita mau belajar, mau berproses untuk menjadikan diri kita lebih baik. Jadi kalau bertanya seperti itu… ya lebih baik ga usah kuliah, mudah kan ?
Berburu beasiswa dan berharap mudah didapat
Dapat beasiswa dalam dan luar negeri itu… ga semudah: minta link dari yang udah sukses dapet beasiswa, klik… klik… klik dan klik… lalu voila… dapat beasiswa ke Jerman, Jepang, Inggris, USA dsb… Trust me, it never happen. Banyak proses yang mesti dilewati: seleksi dokumen, les bahasa, photo copy ke sana kemari, wawancara dan banyak proses “tidak menyenangkan” lainnya.
Bahkan ada juga yang masih malas untuk hanya sekedar cari informasi. Pakai internet hanya untuk social media padahal Google hanya sejauh klik dan informasi hanya sejauh mengetik di query dan tekan enter. Ada yang sudah sampai di website yang bersangkutan tapi enggan menjalani prosesnya. Sikap seperti inilah yang masuk dalam kategori mental “instan”.
In summary:
Segala hal perlu proses. Hasil yang diperoleh merupakan kumulatif dari proses yang dijalani setiap hari. Orang yang sukses dalam belajar, dalam finansial tentu tidak melakukannya dalam semalam. So, jangan malas dan jemu-jemu menjalani proses setiap hari-hari yang kita jalani.
 

5 thoughts on “mental instan mahasiswa dan calon mahasiswa (4 contoh)

  1. betul banget kak, saya juga dulu ngalamin pertanyaan yang sama soal itu… jurusan apa yg bagus, dll.
    tapi lama kelamaan, mungkin takdir yg menuntun saya untuk masuk ke fakultas Informatika, hehe.
    dan Alhamdulillah lulus kok walo harus berdarah-darah.

  2. Hallo ka.. Terimakasih banyak untuk tulisan-tulisan yang kaka bagikan. Saya beruntung bisa nemu tulisan ini ditengah kebingungan saya untuk melanjutkan sekolah. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, apakah kaka bersedia memberikan email dan saya tanyakan beberapa hal? Makasih kak sebelumnya..🙂

  3. Hallo ka, ada beberapa pertanyaan yg saya ingin ajukan kpd kaka, apa kaka berkenan memberikan alamat email? Atau hanya di media ini bisa saya layangkan pertanyaan saya mengenai beberapa artikel kaka yg berkaitan dengan saya untuk melanjutkan study. Kebetulan sekali saya jumpa dengan tulisan kaka. Sangat menginspirasi, buat saya yg sedang galau akan masalah pendidikan. Maaf dan terimakasih sblmnya.. Mudah2 kaka mau saya tanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s