PhD mémoire

PhD degree is the highest academic degree a student can achieve and is considered the de facto entrance qualification for a career in academia

Sidang tertutup : 3 Maret 2017
Sidang terbuka : 16 Maret 2017
Wisuda            : 31 Maret 2017

Serangkaian kairos dan tanggal-tanggal penting dalam hidup selama studi S3 sudah terlewati semua. Terpujilah Dia yang dapat membuat segalanya mungkin.

Terkhusus pada 16 Maret 2017, dimana saya memperoleh gelar Doktor dari Institut Teknologi Bandung setelah melalui proses yang sangat panjang. Sidang terbuka tersebut berlangsung dalam waktu 1.5 jam dan saya hanya diberi kesempatan selama 20 menit untuk mempresentasikan hasil penelitian selama kurang lebih 5.5 tahun. Tidak mudah untuk menceritakan hasil penelitian selama 20 menit di depan umum yang awam pada bidang yang saya kerjakan.

Presentasi, pemberian gelar dan buku disertasi merupakan hasil dari proses yang sangat panjang. Lima setengah tahun harus saya lewati dan proses tersebut tidaklah mudah. Pendidikan S3 idealnya bisa diselesaikan dalam waktu 3 tahun atau untuk kasus saya 4 tahun (karena program double degree dengan Perancis). Lalu mengapa bisa sampai 5.5 tahun? Bahkan saya harus mendapat dua kali surat peringatan dari Sekolah Pasca Sarjana untuk segera menyelesaikan pendidikan S3. Kisahnya sangat panjang apabila harus diceritakan secara kronologis namun di tulisan reflektif ini, saya hanya ingin berbagi tentang pelajaran kehidupan yang saya dapatkan ketika melalui proses yang panjang tersebut.

Pelajaran-pelajaran ini mungkin terdengar klise dan bagi yang baca mungkin pelajaran ini terdengar sangat biasa. Saya juga sama, kelihatannya pelajaran-pelajaran ini sangat biasa. Tapi… pengalaman yang dilalui ketika menghidupi pelajaran-pelajaran ini sungguh membuat saya semakin mengerti arti dari pelajaran tersebut. Dan bagi anda yang baca, dapat melihat pelajaran-pelajaran ini dari sudut pandang seorang mahasiswa S3.

Sekolah Kehidupan: Pemaknaan proses itu penting
Ketika menjalani penelitian S3, bagi saya ilmu itu nomor 2. Yang paling utama adalah saya belajar kehidupan. Belajar bagaimana untuk hidup yang punya makna, belajar bagaimana menata kehidupan dan belajar untuk menjadi bijak dalam kehidupan. Pembimbing saya ketika S1 (yang juga membimbing saya di S2 dan S3) berkata: “sekolah lanjut itu sebetulnya ngajarin kamu gmana hidup itu”. Dengan mindset ini, boleh dibilang bahwa saya siap secara mental ketika memulai studi S3.

Setiap saya melakukan aktivitas penelitian, sedapat mungkin saya merefleksikan makna dibalik aktivitas itu. Begitu banyak momen sepanjang studi S3 yang membuat saya frustasi dan terkadang membuat patah semangat. Eksperimen yang gagal, fasilitas eksperimen yang kurang, program komputer yang salah dan banyak hal yang menguras energi mental lainnya. Kalau hal-hal tersebut tidak saya maknai, maka hal tersebut akan berlalu begitu saja dan hanya membuat saya lelah.

Kalau hanya sekedar lelah, kalau hanya sekedar frustasi maka kita semua pasti mengalami hal-hal tersebut, namun… pertanyaannya apakah kita bisa mengambil makna dari hal-hal tersebut.

Pemaknaan inilah yang membuat saya bertahan, bertahan ketika hari buruk (yang sangat banyak) dan terus berusaha maju dalam penelitian walau hanya mengalami sedikit kemajuan.

 Ketekunan
Perseverence: continue in a course of action even in the face of difficulty or with little or no prospect of success.

Ketekunan: melanjutkan tindakan bahkan ketika menghadapi kesulitan atau hanya melihat sedikit atau tanpa prospek keberhasilan sekalipun. (terjemahan bebas)

Bagaimana kita belajar ketekunan? dengan menjalani proses dimana kita melihat banyak kesulitan dan dengan mata fisik kita tidak melihat adanya kemajuan dan jaminan kesuksesan.

Selama proses S3, saya belajar untuk tekun. Tekun menjalani proses administrasi untuk menjalani program double degree Indonesia-Perancis. Ketika itu begitu banyak berkas yang harus saya siapkan, bolak balik kedutaan untuk proses Visa, les bahasa Perancis (yang sering bolos) sambil melakukan penelitian. It is not easy, and it is frustrating. Tapi proses itu harus dijalani dan tidak ada jalan pintas.

Ketekunan juga saya pelajari ketika melakukan penelitian. Berapa banyak eksperimen yang gagal, hasil pengukuran yang tidak sesuai harapan, hasil pemodelan dan komputasi yang sudah diproses 2-3 hari yang ternyata gagal dan banyak momen lainnya yang membuat saya frustasi. Tapi… itulah ketekunan, how can you learn preservence if you don’t experience it?

Ketekunan ga bisa dipelajari dengan membaca buku, ketekunan hanya bisa dipelajari ketika kita menjalani proses demi proses.

 Stress dan depresi adalah hal yang tak terhindarkan
There is no easy way to achieve something precious.

Proses studi S3 ini merupakan proses dimana saya mengalami begitu banyak momen stress dan depresi. Bahkan beberapa gejala masuk dalam kriteria depresi berat dan chronic fatigue. Gejalnya diantaranya: tidak dapat fokus lebih dari 5 menit, short term memory problem (pelupa), sulit tidur, sulit konsentrasi bahkan untuk melakukan hal sederhana. Saya belum pernah mengalami stress sedemikian berat sehingga saya sendiri bingung bagaimana cara mengatasinya.

Setiap orang merespon stress dengan cara yang berbeda. Kalau saya memilih untuk menyendiri, tidak bersosialisasi dengan orang lain dan mencoba figure things out by myself. Saya tidak biasa untuk bercerita pada orang lain. Saya coba cari solusi sendiri, mencari hiburan sendiri. Mungkin ini pengaruh dari kepribadian diri sendiri yang cenderung berusaha independent. I know someday I have to learn how to open myself to others.

So, buat saya stress dan depresi adalah hal yang terhindarkan ketika menempuh studi S3, atau secara umum untuk kita semua yang hendak mencapai sesuatu dalam hidup. Stress dan depresi dalam kadar yang cukup membuat mental kita kuat, membuat kemampuan kita seakan-akan dipaksa untuk berkembang.

September 2014 saya kehilangan bagasi yang berisi komputer iMac 21′ di bandara Srilanka ketika melakukan transit. Komputer tersebut berisi data penelitian dari berbulan-bulan eksperimen. Saya stress, depresi dan hanya bisa pasrah hingga di awal 2015 saya terkena demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit.

Saya mau protes sama siapa? Maskapai penerbangan tidak dapat melacak bagasi tersebut dan hanya diberi ganti rugi seadanya. Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa saya kurang memperjuangkan hak saya, but… what can I say? it’s a disaster. Dan buat saya, arguing hanya menghabiskan energi yang seharusnya saya gunakan untuk melakukan apa yang ada di depan saya.

Lantas, apa yang membuat saya bisa melewati masa stress dan depresi itu? saya hanya berpegang pada janji-Nya bahwa jalan yang Dia tunjukan menuju kebaikan. Itu yang membuat saya bertahan, tetap melangkah walau beban begitu berat karena saya tahu bahwa saya membawa beban itu ga sendirian.

Mengerti mana bagian saya dan bagiannya Tuhan
Menurut saya, stress dan depresi datang ketika kita mencoba melakukan bagiannya Tuhan padahal ada bagian kita yang kita tunda-tunda terus untuk kita selesaikan. Lucu, tapi memang demikian adanya. Kita tahu bahwa Tuhan pegang tangan kita, tapi ada banyak ketidakpastian ketika kita melihat dengan mata jasmani ini sehingga kita ragu dan takut lalu stress dan depresi.

Perjalanan S3 tersebut, mengajarkan saya betul bahwa bagian saya adalah tekun mengerjakan apa yang ada di tangan saya dan menyerahkan hal yang tidak bisa saya ubah pada-Nya.

Pelajaran ini membuat saya menjadi sangat independent. Orang yang kenal saya dengan baik pasti tahu bahwa saya ini independent (bukan dalam artian egois), saya tidak mudah pundung, saya tidak banyak mengeluh dan menyalahkan orang lain, saya orang yang jarang ngomel, sedapat mungkin apabila ada hal yang saya bisa kerjakan sendiri maka saya akan kerjakan sendiri, saya orang tidak memaksa karena saya tahu bahwa hanya Tuhan yang bisa menggerakan hati orang lain.

Proaktif dan inisiatif
Tanpa proaktif dan inisiatif saya tidak akan pernah menyelesaikan S3. Ada banyak hal yang membuat saya terhambat karena faktor di luar diri sayaa, tapi saya tahu bahwa hanya saya yang punya kontrol terhadap saya. Sedapat mungkin saya berinisiatif untuk menentukan topik riset, belajar hal baru yang menunjang studi, melakukan analisis dan menemukan hal yang baru.

Kalau lihat ke masa-masa itu, saya sendiri heran kok bisa ya saya sedemikian independent-nya? ternyata kuncinya ada pada inisitatif dan proaktif. Selama S3, saya tidak menunggu orang lain membantu saya, banyak hal yang saya pelajari sendiri, banyak analisis yang saya lakukan sendiri dan artikel yang saya tulis sendiri, saya koreksi juga sendiri.

Saya mikir ketika itu, kapan saya akan lulus kalau saya hanya menunggu diberikan oleh orang lain? kapan saya akan selesaikan S3 saya kalau saya menunggu diajari? kapan saya akan selesai kalau saya hanya menunggu dan menunggu orang lain?

Mental seperti inilah yang membuat saya punya inisiatif tinggi dan sangat berani untuk melakukan perubahan. Perubahan terjadi karena adanya inisiatif, adanya sikap proaktif dan bukan reaktif.

Tanpa inisiatif, tidak akan pernah ada perubahan karena kita cenderung mengikuti kemana alur lingkungan membawa kita, padahal kita ini harusnya menjadi agen perubahan.

Faith, Hope and Love
Ketika hidup punya seratus alasan untuk membuat kita gagal, berikan dia seribu alasan bahwa kita bisa. Jalani hidup dengan keyakinan, dengan harapan dan cinta kasih.

Secara singkat, apa yang membuat saya terus berjalan di tengah begitu banyak peristiwa yang unfortunate? Saya rasa perjalanan S3 ini adalah perjalanan iman. Iman yang membuat saya bertahan karena saya yakin bahwa ini adalah jalan-Nya dan bukan jalan saya. Benar saya yang memutuskan untuk studi S3, tapi penyertaan-Nya begitu nyata dan itu yang membuat saya bertahan. Ini adalah perjalanan iman dimana saya hanya bisa berhadap pada-Nya yang telah menunjukan jalan dan penyertaan yang tidak terbatas.

Ada yang bertanya pertanyaan sederhana, bagaimana saya yakin bahwa ini adalah jalan-Nya? saya hanya bisa berkata somehow I know, itulah iman dan itu hanya bisa diketahui dan dirasakan kalau kita bergaul dengan-Nya.

Saudara ga bisa pinjam iman saya lalu saudara gunakan untuk melewati masalah saudara.

Saya menikmati perjalanan iman ini. Betul-betul menikmati ketika Dia mendidik saya dengan cara-Nya yang unik. Betul-betul menikmati ketika Dia menenangkan pikiran dan hati saya ketika masalah datang dan pergi. Perjalanan iman ini ga bisa diajarkan, saudara sendiri yang harus melewati bersama dengan-Nya.

Harapan atas rencana-Nya yang baik datang dari iman yang dilatih dan kasih memotivasi saya untuk berbagi perjalanan ini kepada banyak orang.

Perjalanan iman ini semakin meneguhkan saya untuk berprofesi menjadi seorang pengajar, mungkin lebih menjadi fasilitator. Seorang pengajar biasanya hanya bisa mengajar apa yang dia tahu sehingga orang lain dapat mengerti, tapi… menurut saya perjalanan iman tidak bisa diajarkan, kita hanya bisa berbagi cerita dan menginspirasi orang lain untuk mampu menjalani perjalanan imannya.

God bless…

1 April 2017, a day after my graduation…

I got my PhD

Enam belas maret dua ribu tujuh belas yang lalu adalah tanggal yang spesial. Saya telah meraih gelar Doktor di bidang Fisika Material pada sidang terbuka di ITB setelah pada 3 Maret 2017 melewati sidang tertutup bersama dengan universitas di Prancis (ULCO, Calais).

Saya memohon maaf pada pembaca yang begitu banyak memberikan komentar (beberapa melalui email pribadi) yang belum sempat saya balas.

Semoga dalam waktu dekat saya bisa balas satu persatu.

Saya sedang menyusun tulisan semacam memoar tentang pengalaman studi S3 dan semoga juga bisa dimuat di blog ini.

5 penghalang mental untuk beresin skripsi (plus solusinya)

As simply put… your tought… determine your life
Skiripsi/tugas akhir merupakan “masterpiece” dari seorang calon sarjana. Skripsi semestinya dianggap sebagai capaian puncak dalam perjalanan kuliah. Skripsi menjadi sebuah kebanggaan ketika bisa diselesaikan tepat waktu dan memiliki kualitas yang baik. Namun, ngerjain dan beresin skripsi bukan hal mudah. Kemandirian yang dituntut dari sang mahasiswa untuk beresin skripsi malah kadang jadi boomerang.
Sang mahasiswa yang tidak sanggup beresin skripsi biasanya bukan berarti sang mahasiswa itu tidak mampu secara intelektual, bukan berarti juga kurang sumber daya, kurang data, kurang alat, kurang dana dsb. Mahasiswa terhambat dalam menyelesaikan skripsi memiliki dengan apa yang disebut “mental barrier”/penghalang mental. Mental barrier ini ini yang tanpa sadar menjadi bagian pola pikir/mindset mereka ketika berusaha mengerjakan skripsi.
Uang bisa dicari, data bisa diperoleh, alat bisa dipinjam/dibeli. Tapi… semangat dan motivasi harus berasal dari diri sendiri. Berikut 5 penghalang mental yang saya maksud. Penghalang ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain.
Sulit memulai
Mahasiswa biasanya sulit untuk memulai mengerjakan skripsi. Sulit untuk mulai meneliti, mulai ambil data dan mulai menulis. Selalu saja otak nya memutar untuk cari alasan, biasanya daripada ngerjain mahasiswa terjebak dalam aktivitas yang “mindless” seperti browsing, social media atau main game.
Lebih mudah untuk browse Facebook, Twitter, Instagram, Path dan reman-temannya yang lain ketimbang ngerjain skripsi. Aktivitas mindless tersebut menawarkan hal-hal yang baru. Status baru, foto baru, video baru dsb. Hal hal baru tersebut tentu lebih menarik daripada ngerjain skripsi yang aktivitasnya hanya itu-itu saja. Kalau ga ngetik, ya ambil data, bikin program atau setting alat. Ga heran kalau pola pikir mahasiswa cenderung untuk memilih aktivitas mindless tersebut ketimbang mulai ngerjain skripsi.
Untuk mengatasinya, mahasiswa harus mau memulai (ya iya lah…). Mulai lah dengan pasang target selama 25 menit untuk ngerjain skripsi. Kalau udah beres 25 menit, tambah lagi 25 menit. Ini yang disebut dengan teknik Pomodoro. Non aktifkan HP, tutup browsing yang ga perlu atau bahkan offline dari internet (kalau ga perlu-perlu amat ya matiin aja) dan fokus selama 25 menit. Teknik ini berguna untuk menjaga fokus dan konsentrasi dalam mengerjakan skripsi.
“Memulai” itu sangat penting, ada yang disebut dengan efek Zeirganik dimana kita cenderung akan menyelesaikan sesuatu yang kita mulai. Ibarat mendorong mobil, dorongan pertama pasti sangat sulit karena mobil awalnya dalam keadaan diam, ketika mulai bergerak akan lebih mudah untuk didorong. Demikian halnya dengan ngerjain skripsi. 5-10 menit pertama pasti sulit, pikiran masih mengawang-awang dan tergoda untuk melakukan aktivitas “mindless”, tapi setelahnya akan lebih mudah. Otak mulai terbiasa bekerja dan rasanya nanggung kalau belum selesai.
Kabur dari pembimbing
Mahasiswa biasanya punya jadwal bimbingan. Di jadwal-jadwal tersebut, mahasiswa harus “setor” progress berupa data baru, analisa baru atau menulis bab tertentu. Nah, masalah biasanya muncul ketika sang mahasiswa tidak punya sesuatu untuk dilaporkan.
Alhasil, sang mahasiswa malu ketemu pembimbing. Di selasar kampus selalu was-was kalau ketemu pembimbing. Makan di kantin juga takut ketemu dan ditagih progress report. Saya menyebutnya sebagai “buronan pembimbing”. Gimana engga, sang mahasiswa serasa jadi kriminal. Dicari-cari pembimbing seperti dicari-cari penegak hukum.
Well, sikap seperti ini lama-lama akan terakumulasi. Lama-lama akan makin enggan ketemu pembimbing. Dan akhirnya menjadi penghalang mental untuk beresin skripsi. So, untuk mencegah sikap seperti ini ke level selanjutnya (skripsi ga beres-beres), lebih baik “menyerahkan diri” saja. Saya yakin pembimbing tidak akan seperti penegak hukum yang akan melakukan intrograsi berlebihan.
Setelah ketemu pembimbing, mulailah curhat ada hambatan di mana, apa yang sulit dan apa yang perlu dibantu. Namanya juga pembimbing, tugas beliau-beliau tersebut adalah untuk membimbing mahasiswa. Bukan untuk mengintrograsi dan menghakimi. Lalu, ini yang penting: diskusikan capaian selanjutnya karena target-targetnya tentu harus dirubah toh?
Misalkan: kalau sang mahasiswa sudah jadi buronan selama 2 bulan, tentu ada waktu yang terbuang selama 2 bulan. Capaian-capaian selanjutnya harus disesuaikan. Kalau sebelumnya bab 2 ditargetkan 1 bulan selesai, tentu harus menjadi 2 minggu harus selesai untuk mengkompensasi waktu yang terbuang.
“Stuck” di satu masalah
Dalam ngerjain skripsi ada kalanya sang mahasiswa menemui masalah yang sulit untuk diselesaikan. Entah itu data yang aneh, alat yang ga berfungsi, program yang ga jalan, atau referensi yang sulit dicari. Masalah ini menjadi sebuah bottleneck, sang mahasiswa jadi stuck di satu masalah ini dan menjadikan dia enggan untuk mengerjakan skripsi. Terlebih masalah tersebut merupakan hal yang esensial dalam skripsi, tentu sang mahasiswa tidak bisa begitu saja mengabaikan masalah tersebut.
Biasanya, sang mahasiswa mengabaikan proses skripsi secara keseluruhan. Padahal, tentu ada sub pekerjaan lain yang bisa diselesaikan, misalnya mulai mencicil menulis atau hanya sekedar membaca teori dasar. Masalah yang menjadikan “stuck” tersebut seakan-akan menjadi sebuah batu penghalang yang sangat besar.
Well, masalah bottleneck seperti itu rasanya akan selalu ada dalam pengerjaan skripsi. Biasanya malah menjadi pekerjaan yang paling pokok/utama/esensial dalam skripsi. Menurut saya, memang seharusnya seperti itu. Masalah seperti ini melatih mahasiswa untuk mencari solusi kreatif, mencari ide sendiri yang terkadang memang tidak ada di buku/referensi.
Solusinya… ya masalah tersebut harus diselesaikan dan bukan untuk dihindari. Semakin sang mahasiswa menghindar, semakin banyak waktu yang terbuang. Ada kalanya sang mahasiswa harus “away” dari masalah tersebut sejenak untuk mendapat solusi kreatif. Namun, istirahat sejenak bukan berarti menghindar. Masalah tersebut biasanya bisa diselesaikan dengan: minta bantuan dari pembimbing, dari teman, ikut seminar yang terkait, jalan-jalan ke perpustakaan, memperbaiki alat kepada yang lebih ahli. Intinya, jangan di-keep sendiri, ada orang lain di luar sana yang bisa membantu,
“Masih ada besok”
Kebiasaan menunda merupakan hal klasik yang menghambat pengerjaan skripsi. Kebiasaan ini berakar dari sikap mental/pola pikir “masih ada besok”.
Lalu tibalah esok hari dan lagi-lagi pikiran sang mahasiswa berkata “masih ada besok” dan terus dan terus dan terus. “Besok” lama-lama menjadi seminggu… lalu sebulan… lalu satu semester dan sang mahasiswa ga nambah progress signifikan pada skripsinya.
Well, besok ya besok… dan hari ini, saat ini adalah hal yang kita punya, sumber daya waktu yang kita punya. Semestinya sang mahasiswa berpikir “kalau bisa hari ini kenapa harus tunggu besok ?”. Penting juga untuk membuat deadline setiap item yang harus diselesaikan. Katanya sih, menetapkan deadline terlebih kalau ada partner akuntabilitas (pembimbing atau teman) cenderung menjadikan pekerjaan terselesaikan
Berdalih: cari inspirasi
There you go… penghalang mental terakhir. Sang mahasiswa berdalih dalam pola pikirnya untuk mencari inspirasi. Entah itu maen ke mall, browsing, maen game, hang out dsb.  Namun, mencari inspirasi sehingga akhirnya kebablasan, menjadikan waktu dan energi terbuang. Mencari inspirasi tidak salah, yang salah adalah menjadikannya pelarian ketika enggan menyelesaikan skripsi.
Well, saya pernah menulis tentang komitmen, sebetulnya yang kita perlukan bukanlah inspirasi/motivasi/semangat. Yang kita perlu adalah komitmen, disiplin “to get things done”. So, alokasikan waktu untuk mengerjakan skripsi setiap harinya. Kalau puncak konsetrasi dan mood sang mahasiswa ada di pagi hari, alokasikan waktu ngerjain skripsi di pagi hari. 1-2 jam per hari kalau terkumpul dengan konsisten, tentu ada banyak item pekerjaan yang terselesaikan.
In summary:
Mahasiswa seringkali bermain dengan permainan yang bernama “the blame game”. Mereka menyalahkan faktor luar seperti data yang kurang, alat yang ga ada, referensi yang kurang, pembimbing sibuk, pembimbing kebanyakan nanya, kurang biaya, kurang waktu dan banyak alasan lainnya. Padahal sang mahasiswa memiliki mental barrier yang menjadikan pola pikirnya yang keliru. So, kalau sang mahasiswa bisa mengatasi sikap berpikirnya, tentu faktor luar tersebut bisa dicari solusinya. 😀
– be blessed